
Rendra sampai di rumahnya dengan senyuman yang terus terpancarkan dari bibirnya. Hal itu membuat Naya yang melihat sedikit keheranan namun ikut bahagia. Karena anaknya yang satu itu jarang sekali tersenyum.
"Kenapa senyum-senyum apa ada hal bahagia?" tanya Naya.
Rendra jadi menghentikan senyumannya. Sangat tidak mungkin ia menjawab bahwa ia sudah pacaran sungguhan dengan Aura. Bisa saja ibunya akan kecewa padanya.
"Tidak ada, memangnya aku tidak boleh senyum ma?" tanya Rendra.
Naya menatap Rendra penuh selidik. Seperti ada sesuatu yang sedang ingin disembunyikan darinya.
"Sudah ya ma. Aku mau ke kamar dan mandi."
Rendra langsung ngacir begitu saja karena tidak ingin diinterogasi lebih oleh mamanya.
"Aneh!" ujar Naya.
Tiba-tiba Richard datang dan memeluk Naya dari belakang.
"Siapa yang aneh sayang?"
"Rendra, siapa lagi jika buka dia? Masa dia senyum-senyum sendiri. Giliran ditanya tidak mau jawab."
"Udah biarkan saja. Namanya juga anak muda. Pasti sedang dimabuk cinta," ujar Richard menanggapi.
"Daripada memikirkan Rendra, lebih baik memikirkan aku saja. Aku juga butuh perhatianmu sayang."
Richard semakin mengeratkan pelukannya. Ia bahkan mencuri-curi kecupan di pipi Naya.
Elnan yang baru saja tiba di rumah hanya bisa menghela napas. Papanya memang tidak tahu tempat. Dimana saja pasti selalu nyosor pada mamanya.
"Ingat umur!" Elnan memperingatkan Richard agar tahu tempat. Ia pun bergegas pergi ke kamarnya.
Pipi Naya jadi bersemu merah. Rasanya malu sekali selalu saja dipergoki anaknya. Ia juga kesal ada suaminya yang suka seenaknya begitu saja.
Naya segera melepaskan pelukan itu dan berjalan cepat menuju ke kamar.
"Sayang, sayang, tunggu aku!"
*
*
__ADS_1
Tidak beda jauh dengan di rumah Aura, wanita itu pun senyum-senyum tidak jelas saking bahagianya. Alin pun jadi terheran-heran karenanya. Ingin bertanya tapi sepertinya waktunya belum pas. Alhasil, Alin hanya melengos pergi begitu saja saat melewati kamar kakaknya yang terbuka lebar.
Aura menutup pintu kamarnya dan berguling-guling di kamarnya. Ia sungguh tidak percaya ia dan Rendra akan benar-benar jadi sepasang kekasih sungguhan.
"Apa ini nyata?" pikir Aura lalu mencoba mencubit tangannya.
"Aww," pekik Aura.
"Terasa sakit rupanya. Berarti ini semua nyata." Aura senyum-senyum lagi. Ia bahkan lupa jika ia tidak ingin lagi berpacaran dengan laki-laki dari keluarga kaya dan kliennya sendiri. Tapi sepertinya Rendra akan menjadi pengecualian.
Ting!
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Aura.
Besok aku akan mengajakmu pergi ke luar. Dandan yang cantik. Semoga tidurmu nyenyak ❤️
Deg! Deg! Deg!
Cuma karena emot hati saja hatinya sudah meleleh.
"Aaaaa." Aura berteriak kesenangan.
Brak!
"Ada apa? Kenapa kak?"
Alin datang dengan wajah paniknya mendengar teriakan sang kakak. Aura jadi merasa bersalah sudah mengejutkan adiknya padahal tidak ada yang berbahaya sedikit pun. Hanya hatinya yang mungkin saja harus mempersiapkan diri.
"Hehe, tidak ada apa-apa dek. Hanya terkejut saja. Kembalilah ke kamar dan tidur! Besok ada kuliah pagi kan?"
Alin mengangguk lalu mematuhi perintah kakaknya. Ia menutup kembali pintu kamar kakaknya.
"Huh!"
Aura bernapas lega. Kemudian memposisikan kepalanya di atas bantal dan menarik selimutnya. Ketika telah memejamkan matanya, wajah Rendra terlintas di pikirannya. Sepertinya Rendra sudah benar-benar masuk ke dalam hatinya.
Lalu Aura membuka matanya lagi.
"Bisa gila aku! Huh!"
Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Rupanya ada panggilan video dari Rendra. Hati aura sungguh berdebar dibuatnya.
__ADS_1
"Ha-halo."
"Udah mau tidur?" tanya Rendra yang melihat Aura sudah terbaring di atas bantal.
"Iya, tapi tidak bisa," jawab Aura.
"Sama," ujar Rendra.
"Rasanya ingin cepat-cepat berganti hari. Besok dandan yang cantik ya, tapi jangan cantik-cantik banget! Jangan pakai baju yang ketat! Pakai yang oversize saja! Pokoknya pakai senyaman mu saja." pinta Rendra.
Aura tersenyum mendengarnya. Ia merasa dihargai dan dilindungi oleh Rendra.
"Jangan tersenyum!"
Aura langsung memperlihatkan wajah datarnya.
"Jangan begitu juga!" larang Rendra sambil berguling di tempat tidurnya. Yang awalnya ia berposisi tengkurap sekarang ia berposisi terlentang.
"Mau mu apa sebenarnya? Aku tersenyum dilarang. Bermuka datar dilarang? Heran!"
"Hehe, soalnya melihat senyummu aku takut diabetes. Tapi melihat wajah datar mu rasanya sangat menggemaskan. Jadi bagaimana?"
Blush!
Pipi Aura tiba-tiba memerah. Rendra yang ia kenal tidak begini. Kenapa jadi begini? Bisa-bisa ia dibuat meleleh tiap harinya. Aaaaaa.
Saking memerahnya, Aura sampai tidak sadar menekan tombol merah yang artinya panggilan video mereka terhenti begitu saja.
Ting!
Kenapa dimatikan? Aku masih rindu ❤️
Lagi-lagi pesan dari Rendra membuat hatinya terluluh lantahkan.
Aaaaaaa
*
*
TBC
__ADS_1