Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 81 - Mengetahui keberadaan Aura


__ADS_3

"Halo ma, ini Aura."


"Ya ampun sayang. Kau dimana sekarang? Mama dan yang lainnya mencari-cari mu, tapi belum juga ketemu."


"Aku di tempat Sena ma. Mama tenang aja, aku baik-baik saja."


Naya menghela napas lega kalau Aura baik-baik saja.


"Rendra hari ini muntah-muntah. Kata dokter ada kemungkinan kalau istrinya hamil dan Rendra yang mengalami gejalanya. Coba kau periksa ke dokter ya Au," pinta Naya.


"Aku memang hamil ma. Aku sudah mengeceknya ke dokter," jawab Aura.


Hal itu membuat Naya senang bukan main. Yang awalnya masih abu-abu kini menjadi jelas. Ia akan segera mendapatkan cucu.


"Kalau begitu besok mama akan mengunjungimu di rumah Sena. Kirimkan alamatnya ya," ucap Naya dengan antusiasnya.


"Baik ma," jawab Aura.


Seketika keduanya terdiam. Aura mulai bicara lagi.


"Mama tidak memintaku untuk pulang?" tanya Aura.


"Kalau ditanya begitu mama juga ingin sekali memintamu untuk pulang. Tapi, mama sadar kalau kau pasti butuh waktu. Ucapan Rendra benar-benar menyakitkan dan sudah kelewatan. Mama juga ingin memberikan dia efek jera supaya menjaga bicaranya dan emosinya. Yang terpenting sekarang adalah, suasana hatimu dan jangan banyak pikiran. Ibu hamil harus terus bahagia."


Aura meneteskan air matanya. Ia ingin sekali memeluk mama mertuanya. Dia begitu baik dan perhatian sekali padanya.

__ADS_1


"Terima kasih ma sudah mengerti aku. Sudah dulu ya ma, Sena mau berangkat kerja dan ponselnya mau dibawa. Nanti aku kirimkan alamat rumah Sena lewat pesan."


"Oke sayang. Jaga kesehatan disana ya."


"Iya ma."


Sambungan telepon pun berakhir. Naya langsung memberitahukan hal itu pada Richard. Richard pun jadi ikut lega mendengarnya. Setidaknya satu masalah sudah teratasi. Tinggal si pelaku yang masih bersembunyi di kandangnya.


"Sayang, apa tidak apa-apa kalau kita tidak memberitahu Rendra? Kasihan dia."


"Sudah biarkan saja. Sekali-kali beri dia pelajaran. Siapa suruh, menyakiti istrinya sendiri. Mama kan juga jadi ikut sakit hati."


"Tapi, morning sickness itu nggak enak sayang. Aku kan pernah mengalaminya dulu. Rasanya seperti mau mati."


"Baiklah sayang. Aku percaya padamu," ucapnya lalu mengecup bibir Naya.


"Astaga! Kalau mau cium itu lihat tempat juga dong sayang. Kita kan lagi di ruang keluarga. Kalau sampai anak-anak lihat, bisa habis kita dimarah-marahi."


Hanya dibalas dengan cengiran oleh Richard.


*


*


"Sial! Kenapa mereka terus-menerus mencari ku!? Kalau begini jadinya aku tidak bisa keluar rumah sama sekali," kesal si laki-laki yang dijadikan perusak rumah tangga Elnan dan Rendra sebuah saja dia Jack.

__ADS_1


"Arghh! Harusnya kan tidak begini? Dulu saja aku berhasil kabur dan si Elnan tidak mencari ku. Sial!"


Jack melempar gelas kaca di kontrakannya. Ia segera menghubungi bosnya dan menceritakan ini ini semua.


"Halo tuan, sepertinya rencana anda kali ini tidak akan berjalan mulus. Orang suruhan keluarga Rendra mulai berkeliaran mencari saya. Saya bahkan tidak bisa keluar rumah walau untuk makan. Saya harus bagaimana ini tuan?"


Jack terus menumpahkan kegelisahannya pada si tuan.


"Bodoh! Kau kenapa ceroboh sekali sih! Sudah aku bilang, setelah melakukan tugas, pergi sejauh mungkin. Kalau perlu pindah ke negara lain. Kenapa masih disini? Hah! Sialan!"


Si tuan jadi marah-marah ke Jack. Jack jadi takut dan gemetaran. Pasalnya ia tahu bagaimana kejamnya si tuan. Ia bahkan tidak ragu-ragu jika ingin membunuh orang yang sudah berkhianat darinya atau yang sudah tidak berguna lagi.


"Untuk sekarang jangan pergi kemana-mana dulu. Aku akan kirimkan orang untuk menjagamu disana. Untuk persediaan makan mu akan aku kirimkan juga. Jadi, sekarang kau cukup menurut saja padaku! Mengerti?"


"Mengerti tuan."


"Bagus, kalau kau tidak mengerti! Mati saja sana!"


Sambungan telepon pun berakhir. Jack menurut saja pada perintah tuannya, daripada nyawanya jadi taruhannya.


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2