
Para penculik pun berhasil diringkus dan diikat dengan membentuk lingkaran. Bahkan wajah mereka sudah babak belur dan tak memiliki tenaga lagi untuk melawan.
"Mampus! Sukurin!" umpat Ela dengan tawa senangnya.
Polisi pun datang ke tempat kejadian dan menarik semua orang itu kelaut dari dalam gedung.
"Sekali lagi kami berterimakasih pada keluarga anda tuan Richard. Karena sudah membantu pihak kepolisian," ucap salah satu polisi.
Richard mengangguk.
Mereka pun keluar dengan wajah yang sedikit tergores.
Di luar Naya, Sena dan Naya sudah menunggu di samping mobil ketika para pihak kepolisian sudah datang.
Tanpa diduga salah satu dari para penculik itu menendang perut salah satu dari wanita yang ada di samping mobil.
"Ahh!"
Tendangan itu rupanya mengenai perut Aura hingga Aura merasakan kesakitan. Sebuah cairan berwarna merah pun keluar menjalar hingga ke telapak kaki Aura.
Naya dan Sena langsung panik seketika.
"Aura, Aura ... " teriak Naya dan Sena bersamaan.
Rendra yang mendengar hal itu langsung berlari dengan begitu cepat. Ia merasakan sesak di dadanya melihat Aura yang terus merintih kesakitan. Dengan segera Aura dibawa ke rumah sakit.
Semua yang ada disana pun ikut ke rumah sakit kecuali para bawahan Richard yang tentunya mengikuti pihak kepolisian di belakang mobil polisi.
Sesampainya di rumah sakit, Aura langsung dibawa ke IGD untuk diperiksa.
Setelah menunggu lama, dokter pun keluar dan menjelaskan apa yang terjadi ada Aura.
"Sebelumnya saya meminta maaf karena tidak bisa menyelamatkan janin yang ada di dalam kandungan istri anda. Karena janinnya sangat lemah akibat goncangan dari luar itu. Jadi, kami mengeluarkannya. Untuk kondisi istri anda sendiri. Ia masih belum sadar dan baik-baik saja. Mungkin beberapa jam kemudian dia akan sadar. Tapi, kemungkinan psikisnya yang akan kena karena kehilangan bayinya. Untuk itu mohon berikan dukungan untuknya."
Rendra langsung lemas dan pucat pasi. Ia benar-benar tidak menyangka anaknya harus secepat ini pergi tanpa bisa melihat dunia terlebih dahulu.
__ADS_1
Richard menepuk pundak anaknya itu untuk memberikan dukungan dan semangat.
"Pa, anakku pa. Dia sudah meninggal," ucap Rendra dengan air mata yang sudah menetes.
"Iya, papa dengar. Kau harus kuat. Aura membutuhkan kehadiranmu di sisinya. Jangan tinggalkan dia. Jaga dia terus dan jangan emosi lagi. Pasti Aura akan sangat-sangat kehilangan dan terpuruk."
Rendra mengangguk dengan tangisnya itu.
Naya, Ela dan Sena pun jadi ikutan menangis. Mereka tidak bisa membayangkan betapa sedihnya Aura nanti ketika tahu anaknya sudah meninggal.
*
*
Rico sudah tiba di kantor polisi. Ia bahkan tidak merasakan penyesalan sedikit pun atas apa yang telah ia perbuat. Ia hanya memikirkan bagaimana caranya bisa lepas dari sini.
Berbagai cara telah Rico lakukan agar si polisi yang terus mengawasinya pergi. Tapi, ternyata tak semudah itu polisi itu bisa dibodohi oleh Rico.
Sial! Aku tidak mau mendekam lagi di penjara! Aku harus mencari cara lain agar bisa keluar dari sini!
Dengan gerak cepat, Rico langsung berlari sekencang mungkin ke luar dari kantor polisi. Ia pun dikejar oleh beberapa polisi di belakangnya.
Sial! Harusnya mereka tidak tahu aku pergi! Haish!!!
Rico terus berlari hingga melihat gang kecil. Ia pun masuk ke dalam gang kecil itu. Berlari dengan sisa tenaga yang ada. Rupanya para polisi pun masih mengejarnya juga. Hingga tanpa melihat ke kanan dan kiri, Rico menyebrang begitu saja ketika keluar dari gang kecil itu dan ...
Brak!!!
Sebuah tabrakan pun terjadi. Rico tertabrak truk yang akan lewat. Supir truk pun langsung menancapkan gas mobilnya karena tidak ingin dijadikan pelaku pembunuhan karena pada dasarnya Rico lah yang salah dengan menyebrang sembarangan.
Para polisi yang mengejar pun dibuat kaget dengan melihat kejadian tabrakan itu di depan mata kepala mereka sendiri.
Darah berlumuran di jalanan beraspal. Keadaan Rico pun tidak bisa dikatakan baik. Rico segera dilarikan ke rumah sakit yang sama dengan tempat dimana Aura pun dirawat disana.
Ansel yang habis mencari minuman pun melihat pasien tabrak lari yang baru saja masuk ke dalam rumah sakit. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Rico yang jadi korbannya.
__ADS_1
Dengan gerak cepat, Ansel berlari ke tempat dimana semua orang berada dan memberitahukan bahwa Rico menjadi korban tabrak lari.
Semuanya langsung terkejut. Di kala terkejutnya itu, Richard mendapatkan panggilan juga dari polisi kalau Rico mengalami kejadian tabrak lari yang pelakunya kabur begitu saja.
Richard langsung mencari keberadaan Rico. Hingga ketika sampai di depan ruangan, si dokter mengatakan jika Rico sudah tidak bisa tertolong lagi. Katanya Rico sudah meninggal ketika di perjalanan.
Bertambah lah lagi keterkejutan Richard. Meski ia membenci Rico, tapi ia tidak menyangka Rico akan mendapatkan balasan seperti ini.
Nicolas yang mendengar ucapan dokter pun langsung terdiam dan melemas seketika. Walaupun Rico tidak jera dengan perbuatan jahatnya, tapi dulunya Rico selalu membantunya dalam kesulitan. Keluarga satu-satunya yang ia punya telah meninggal.
Ansel pun datang dan merangkul papanya. Ia tahu pasti papanya sedang bersedih. Walau bagaimana pun juga papanya pasti punya kenangan indah bersama pamannya itu.
Mendapatkan rangkulan dari anaknya, Nicolas pun sadar, kalau ia sudah punya keluarga baru yaitu anak dan istrinya.
*
*
Beberapa hari telah berlalu. Semuanya sudah selesai sekarang. Tak ada lagi yang bisa mengancam dan membahayakan keluarga Richard.
Pemakaman Rico pun sudah dilakukan beberapa hari lalu. Richard dan Nicolas datang sebagai teman dan sepupu untuk penghormatan terakhir laki-laki itu.
Berbeda dengan keadaan Aura. Ketika wanita itu sadar, ia terus berteriak dan menanyakan dimana keberadaan anaknya. Bahkan Aura terus-menerus menangis dan tidak mau makan karenanya. Ia juga menyalahkan Rendra yang tidak bisa melindungi anaknya dan membiarkan dokter untuk mengambilnya.
"Hiks, hiks! Kau jahat! Kenapa kau membiarkan dokter mengambil anak kita! Hiks hiks!"
Aura menangis sambil memukul-mukul tubuh Rendra. Rendra menerima pukulan itu dan langsung memeluk Aura agar lebih tenang. Rendra tahu pasti istrinya sedang terpuruk.
"Lebih baik aku mati saja!" ucap Aura yang masih histeris.
Rendra menggeleng di dalam pelukannya. Rasanya ia ingin menangis saat itu juga. Ia tidak sanggup melihat Aura yang terus terpuruk seperti ini. Kehilangan seorang anak benar-benar menyakitkan. Tapi jika harus kehilangan Aura juga, rasanya Rendra hidup pun seperti tak memiliki hasrat untuk hidup.
*
*
__ADS_1
TBC