
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Elnan yang sedang dalam posisi rebahan sempurna pun harus rela bangun dan melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya itu.
"Ela? Ada apa?" tanya Elnan saat tahu adiknya lah yang mengetuk pintu kamarnya.
"Maafkan aku kak, atas sikapku tadi," ucap Ela dengan tulus.
Elnan tersenyum. Ia tidak marah pada adiknya. Ia justru marah pada dirinya sendiri yang masih berputar pada masa lalu yang sudah usai. Alias baperan.
"Baiklah, kakak maafkan," balas Elnan.
"Benarkah?" tanya Ela memastikan sambil berbinar.
Elnan mengangguk.
"Kakak terbaik," ucap Ela sambil memperlihatkan dua jari jempolnya.
"Iya iya iya, sana pergi ke kamar dan tidur!" perintah Elnan.
"Siap bos!" Ela terlihat seperti bawahan yang mematuhi atasannya. Ia pun berjalan seperti seorang paskibra ke kamarnya.
Elnan menggelengkan kepalanya. Ia bukan seperti melihat wanita dewasa melainkan wanita yang baru beranjak dewasa. Terkadang usia memang tidak bisa disamakan dengan perilaku manusia. Ada kalanya orang orang dewasa bersikap kekanak-kanakan dan ada kalanya juga orang remaja yang bersikap dewasa atau di atas usianya.
*
*
Pagi menjelang, Aura sangat bersyukur adiknya ada kegiatan di kampus yang diharuskan untuk menginap. Doanya kemarin terkabulkan. Ia jadi merasa aman dari ribuan pertanyaan yang pastinya akan dilontarkan dari mulut cerewet adiknya itu.
Bekas tamparan yang masih belum menghilang itu akan membuat Aura susah bekerja. Apalagi luka di ujung bibirnya yang masih memerah akan menimbulkan tanya bagi kliennya nanti.
Aura pun menghubungi Mami Lena dan meminta izin sampai bekas luka ini menghilang.
"Mami, maaf sepertinya hari ini aku tidak bisa bertemu klien satu pun," ucap Aura.
"Kenapa? Kau tidak bisa ingin cuti lagi sayang. Kemarin kau sudah mengambil cuti dua hari. Lalu bagaimana dengan klien yang sudah memiliki janji denganmu," tanya Mami Lena.
"Ada kejadian buruk menimpaku mami. Kemarin aku ditampar istri dari klienku aku disangka sebagai perusak hubungannya dengan sang suami," jawab Aura dengan lirih.
"Haaah ... " Helaan napas terdengar di telinga Aura.
__ADS_1
"Baiklah, mami izinkan sampai bekas tamparan itu menghilang. Mami juga tidak ingin mengecewakan pelanggan dengan penampilanmu yang tidak sempurna."
"Terima kasih mami," ucap Aura.
"Ya."
Sambungan telepon pun terhenti. Aura merasa lega. Ia tahu Mami Lena tidak begitu jahat, meskipun selalu menggunakan dirinya untuk mencari uang. Buktinya sampai sekarang, Mami Lena selalu menuruti semua prinsip dan keinginannya meskipun banyak lelaki hidung belang yang berani menawarkan uang ratusan juta untuk mendapatkan kehormatan dari Aura.
*
*
Di Century Club, Sena dan Karin dipanggil ke ruangan Mami Lena.
"Kenapa memanggil kami Mami?" tanya Karin.
"Aura hari ini tidak bisa melayani kliennya. Kalian gantikan dia. Ada 3 klien hari ini. Dua kau yang urus Karin, satunya biar Sena yang urus. Nanti mami kirimkan waktu dan tempatnya lewat pesan."
"Memangnya Aura kenapa mami?" tanya Sena yang penasaran.
"Aura ditampar istri orang. Ia disangka sebagai pelakor," jawab Mami Lena.
Sena terkejut dan merasa iba tentang musibah yang dialami Aura. Sementara Karin, ia tersenyum tipis merasa senang.
"Itulah akibatnya jika terlalu serakah dan angkuh," ucap Karin dengan senangnya.
Sena menatap Karin dan menggelengkan kepalanya.
"Hanya orang iri yang membicarakan orang di belakang."
Setelah mengatakan itu, Sena berjalan keluar dari club. Karin kesal. Ia tidak tahu kenapa Sena percaya sekali pada Aura. Bahkan hal buruk yang selalu ia katakan, seakan tak pernah ditanggapi oleh Sena.
"Apa sih istimewanya Aura? Kenapa semua klien pun berbondong-bondong hanya ingin ditemani Aura? Apa karena Aura tak bisa tersentuh kehormatannya? Apa aku harus seperti itu juga?"
*
*
Rendra masih berada di resort. Selain untuk merefresh pikirannya, ia juga ingin menambah fasilitas lain di resort nya dan merombak sedikit desain interior resort nya.
Sambil berkeliling resort, Rendra bisa melihat dengan jelas bagaimana kinerja karyawannya. Ia merasa lega, karena semuanya berjalan dengan baik. Tak ada tamu yang komplain dan semua tamu bahkan terlihat senang menghabiskan waktu di resort miliknya.
__ADS_1
Kini ia berada di kolam renang yang ada di resort nya. Ia mencium bau air kolam renang yang terlalu banyak menggunakan kaporit ketika dibersihkan. Ia pun memanggil petugas kebersihan untuk menangani air kolam tersebut.
Setelah itu, Rendra lanjut lagi ke tempat gim. Disana banyak tamu yang sedang berolahraga dengan alat-alat yang tersedia. Para tamu pun tersenyum padanya karena tahu bahwa Rendra adalah Pemiliki Resort tersebut. Rendra pun membalas senyuman tersebut dan berpindah ke tempat lain.
Rendra pergi ke ruangan manager resort dan sang manager pun melaporkan semua perkembangan resort dalam seminggu terakhir.
"Resort kita dalam seminggu terakhir mendapat 80 kunjungan orang yang silih berganti. Mereka bahkan rela membayar mahal untuk mendapatkan pelayanan VIP dan fasilitas termewah di resort ini," lapor sang manager.
"Baguslah, terus laporkan perkembangan resort tiap minggunya padaku. Jika aku tidak datang ke resort, seperti biasa kau bisa melaporkan semuanya lewat email," ucap Rendra.
"Baik Tuan."
Rendra keluar dari ruangan manager resort nya. Tak sengaja matanya tertuju pada pria yang merupakan istri dari si Tante yang menampar Aura kemarin. Ia hanya melihat dan tak ingin menghampiri. Saat Rendra akan kembali ke kamarnya, si pria malah menghampiri dan menyapanya.
"Ren," panggil pria itu.
Dengan sangat terpaksa, Rendra pun menghentikan langkanya.
"Sudah lama sekali aku tidak pernah melihatmu sejak pertemuan kita di aula gedung Kav Corp."
"Aku sibuk Om," jawab Rendra.
Andrew pun tersenyum. Ia tahu, Rendra memang sibuk. Saking sibuknya, Rendra selalu menciptakan hal baru setiap tahunnya. Di mulai dari membangun resort mewah, gedung sekolah hingga beberapa pusat perbelanjaan.
"Ya, aku tahu. Pasti orang yang jadi pendampingmu nanti akan sangat beruntung mendapatkan mu," ucap Andrew lagi.
Rendra tersenyum kecut menanggapi ucapan itu.
"Iya, dia akan jadi wanita beruntung, dan aku jadi laki-laki yang malang," jawab Rendra.
Andrew seketika jadi bingung dengan ucapan Rendra. Namun, Rendra dengan segera mengatakan hal lagi.
"Om, jika ada masalah dengan istri, jangan lari. Hampir saja istri om jadi salah satu penunggu sel."
Setelah mengatakan itu, Rendra berjalan menjauh dari hadapan Andrew yang tidak paham dengan ucapan Rendra.
"Hah? Apa maksudnya? Memang apa yang dilakukan istriku?" ucap Andrew bertanya-tanya.
Langkah Rendra terus melaju hingga berada di taman yang ada di resort. Ia melihat beberapa anak kecil berlarian disana dengan orang tua mereka yang tersenyum melihat tingkah anak mereka. Rendra hanya bisa menghela napas, meratapi nasib percintaannya yang selalu kandas dan tak pernah berhasil.
*
__ADS_1
*
TBC