
Rendra dan Aura kini sedang berada di mobil untuk pulang ke rumah. Keduanya begitu menikmati liburan itu. Mereka bahkan pulang dengan keadaan wajah yang berseri-seri. Bagaimana tidak? Selama liburan sebulan itu, keduanya hanya sibuk dengan urusan berdua tanpa ada urusan pekerjaan atau urusan yang lainnya.
Aura menyandarkan kepalanya di bahu Rendra.
"Kita mau pulang ke apartemen atau ke rumah mama dan papa?" tanya Aura.
"Rumah mama dan papa dulu. Kita menginap disana seminggu atau beberapa hari dulu. Setelahnya, baru kita pulang ke apartemen. Gapapa kan?"
"Iya gapapa."
Tangan Rendra terulur mengusap pipi Aura.
Tak lama kemudian, keduanya sudah sampai di kediaman Kavindra. Mereka disambut dengan senyuman dan pelukan hangat dari keluarga.
"Gimana liburannya? Seru?" tanya Naya.
"Panas ma," jawab Rendra dengan seringai nakalnya menatap Aura.
Aura langsung jadi tersipu malu. Naya yang melihat itu malah jadi terkekeh.
"Hahaha, ya sudah. Ayo masuk dulu. Kalian butuh istirahat. Pasti cape selama perjalanan."
Rendra dan Aura pun mengangguk, karena memang mereka sangat kelelahan.
"Mana oleh-olehnya?" tagih Ela.
Rendra langsung menatap ke Ela dan menajwabnya. "Masih proses, semoga oleh-olehnya bisa jadi, hehe."
"Hih! Bukan oleh-oleh yang itu. Tapi oleh-oleh tas mewah, makanan atau pakaian gitu?" ucap Ela.
"Nih! Buat jajan."
Rendra mengeluarkan black kard nya dari dompetnya kepada Ela.
"Asiikkk! Makasih ya kembaranku yang tampan."
"Cih! Muji kalo ada maunya saja."
"Hehe. Muachh muachh."
Ela mencium black kard itu dan membawanya dengan senyum yang terus mengembang.
Elnan yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala. Padahal Ela pun sudah memiliki black kard miliknya sendiri. Tetap saja kalau diberi dari orang lain, ia pasti senang.
__ADS_1
"Kalau untukku mana? Kau bilang, kau akan memberikan aku hadiah karena sudah mau mengerjakan pekerjaan mu," tagih Elnan juga.
"Pending dulu ya kak. Nanti aku kasih kalau kakak benar-benar sudah menikah. Ya kalau bisa sih rujuk saja sama kak Meira," ucapnya.
"Hih! Kenapa harus begitu? Kau tidak memberikan aku black kard juga?"
"Tidak mau. Sudah ya Kak. Aku mau membersihkan badan terus tidur. Badanku rasanya pegal semua. Bye."
"Hih!"
Elnan kesal dan langsung duduk di samping papanya.
"Kenapa wajahmu begitu El?" tanya Richard.
"Rendra ngeselin pa. Masa hadiahku dipending dulu. Padahal Ela langsung dikasih oleh-oleh begitu saja."
Richard geleng-geleng kepala.
"Kalian ini sudah dewasa, sudah punya pekerjaan masing-masing. Masa hadiah dipending saja jadi kesal?"
"Ya, gimana ya pa. Soalnya Rendra sendiri yang sudah janji," jawab Elnan.
"Kenapa dipending hadiahnya?"
Richard tersenyum menanggapinya.
"Itu artinya, Rendra ingin kau bahagia bersama orang yang kau inginkan. Lagian kau dan Meira pun sudah berhubungan kembali. Lalu kapan diresmikan lagi?"
"Aku sih ingin secepatnya pa. Tapi, kan tidak semudah itu. Meira ingin menghabiskan masa kontrak kerjanya di restoran yang masih 4 bulan lagi. Padahal aku kan bisa membayar dendanya. Tapi dia menolak. Katanya sayang uangnya."
Richard mengangguk-angguk mengerti.
"Ya sudah, asal kau sanggup menunggunya. Papa sih terserah kau dan Meira saja. Yang penting jangan sampai kejadian seperti dulu terulang kembali."
"Iya pa."
*
*
Di kamar, Aura meletakan koper dan tas nya di pojokan dinding. Kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia senang sudah kembali ke rumah. Meski liburan sangat menyenangkan, tapi berkumpul dengan keluarga adalah yang paling membahagiakan.
Rendra pun masuk ke dalam kamar dan langsung berbaring di samping Aura. Ia bahkan memiringkan badannya untuk melihat wajah istrinya.
__ADS_1
"Mau langsung mandi atau gimana?" tanya Rendra.
"Mau rebahan dulu sebentar. Badanku terasa pegal duduk terus selama perjalanan," jawab Aura.
"Mandi aja yuk! Kita mandi bareng," tawar Rendra.
"Nggak mau. Kau pasti bukan hanya sekedar mandi. Aku tahu akal bulusmu Rendra."
"Hehe, ya gapapa kan? Nggak ada yang salah dengan itu."
"Memang nggak ada yang salah. Cuma waktunya kurang tepat."
"Ih, sayang ... Ayolah mandi bareng. Nanti aku bantu pijat-pijat tubuhmu yang pegal."
Aura memutar matanya malas. Ia sudah paham dan tahu maunya Rendra.
"Mandi sendiri aja sana!"
Rendra menggeleng.
"Maunya mandi bareng aja."
"Aku masih lelah, rasanya tenagaku seperti terkuras habis."
Rendra langsung bangun dari posisinya dan langsung menggendong Aura.
"Yakkkk!"
Aura terkejut karena Rendra menggendongnya tiba-tiba.
"Kalau begini kau kan tidak merasa cape."
Rendra membawa Aura ke dalam kamar mandi kemudian menutup pintunya. Di dalam sana, Rendra melancarkan rencananya untuk pijat-pijat tubuh Aura dengan versinya.
*
*
TBC
Yang penasaran sama kisah Ela kembarannya Rendra. Yuk langsung baca ceritanya.
__ADS_1