Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 47 - Sangat baik setelah berpisah denganmu


__ADS_3

Setelah mengantar Aura pulang ke rumah, Rendra tidak langsung kembali ke rumahnya. Ia justru melajukan mobilnya ke club Century dimana Mami Lena berada. Dengan kemarahan yang semakin menumpuk, Rendra datang dengan tatapan mengerikan. Ia membuka pintu ruangan dengan mendorongnya.


Mami Lena yang berada di dalam pun merasa kaget. Ia langsung bangun dari posisi rebahannya.


"Ada apa Tuan Rendra? Kenapa anda datang dengan suasana hati yang buruk?" tanya Mami Lena yang memang tidak tahu situasi.


"Haha, masih bertanya kenapa aku datang? Aku datang untuk memperingatkan mu agar tidak menyentuh Aura lagi. Aura sudah berjanji padamu kan kalau ia akan keluar setelah melakukan tugasnya dengan baik. Nah, sekarang Aura sudah melakukan tugasnya. Jadi lepaskan Aura dari jeratan busuk mu. Aku tahu kalau kejadian semalam pasti ada campur tanganmu. Jika kau tidak melepaskan Aura, mudah saja bagiku untuk menghilangkan bisnis mu ini. Bagaimana?"


Mami Lena meneguk ludahnya. Ia baru benar-benar mengerti kenapa orang-orang bilang kalau Rendra itu menyeramkan. Dan ia menyetujui itu karena ketika marah Rendra benar-benar menyeramkan.


"Jika ingin Aura lepas dariku. Tentu saja ada biaya kontrak yang telah dilanggar Aura. Dan itu harus dibayar lunas. Juga karena kesalahan Aura semalam saya merugi sangat banyak. Jadi, saya meminta uang lebih."


"Dasar tidak tahu malu! Kau bahkan belum membayar Aura untuk yang semalam. Aku hanya akan membayar biaya kontraknya saja. Untuk urusan lain, itu semua salahmu! Jika masih protes, siap-siap saja besok usahamu akan bangkrut!"


Mami Lena benar-benar takut dengan ancaman Richard. Ia pun mengambil kontrak yang telah ditandatangani oleh Aura. Rendra membacanya dengan teliti.


Benar-benar lintah darat! Bagaimana bisa kontraknya ini sangat menguntungkan bagi wanita tua ini!


Rendra pun langsung mentransfer nominal uangnya. Setelah itu, ia langsung pergi dari sana.


*

__ADS_1


*


Sesampainya di rumah, Naya menanyakan banyak pertanyaan untuk anak laki-lakinya.


"Dari mana? Kenapa baru pulang?"


"Semalam aku tidur di resort ma. Aku cape ma, aku naik ke atas ya?"


Belum juga mendapat balasan dari Naya, Rendra langsung menaiki tangga begitu saja. Seharunya hari ini Rendra pergi bekerja, akan tetapi laki-laki itu mengambil cuti sehari.


Naya menghela napasnya melihat kelakuan Rendra. Kemudian Naya pun pergi ke restoran miliknya.


*


*


"Huh? Kenapa aku malah kesini?" tanya Elnan pada dirinya sendiri.


Rupanya Meira pun ada di sana dan duduk di salah satu kursi taman. Wanita itu mengenang masa-masa indahnya bersama mantan suaminya.


"Seharusnya kau mendengarkan penjelasanku dulu sebelum memutuskan," ucap wanita itu sambil meletakkan tangannya di bangku kosong di sebelahnya.

__ADS_1


Karena sudah terlalu lama di taman, Meira pun hendak kembali ke panti asuhan. Tanpa disengaja Elnan dan Meira berpapasan. Keduanya saling terdiam dan saling bertatapan. Dari tatapan yang terlihat, ada sebuah kerinduan yang mendalam di antara keduanya. Namun, ada juga kekecewaan yang terlihat dari sorot mata Elnan.


"Sudah lama ya kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" tanya Meira berusaha menyapa Elnan dengan biasa.


"Baik, bahkan sangat baik setelah berpisah denganmu," jawab Elnan yang padahal di kenyataannya tidaklah seperti itu.


Meira tersenyum.


"Syukurlah kalau begitu."


Meira lalu berjalan menjauh dari Elnan dengan air mata yang mulai menetes ke pipinya.


Berbeda dengan Elnan, setelah melihat Meira menjauh, laki-laki itu justru terus menatap kepergian Meira tanpa mau mengejarnya. Padahal hatinya masih bertaut ada wanita itu. Tapi, langkah kakinya seolah dilarang oleh tubuhnya sendiri.


"Hah! Bukannya semakin membaik, aku malah menambah mood buruk ku."


Alhasil, Elnan kembali lagi ke kantornya dan memilih membuat tubuhnya lelah sekalian daripada harus memikirkan mantan istrinya.


*


*

__ADS_1


TBC


__ADS_2