
Club Century, 20.00
Aura sedang menemani Andrew duduk di sofa. Pria itu lagi-lagi mencurahkan isi hatinya pada Aura. Ia menceritakan tentang pertengkarannya yang terus terjadi dengan istrinya. Padahal masalahnya hanya sepele, hanya karena ia tidak datang di acara pernikahan teman istrinya karena urusan pekerjaan. Berbeda dengan istrinya yang terkadang tidak mau menemaninya di acara penting.
"Rasanya, aku ingin bercerai dengannya, Au. Aku tidak sanggup jika selalu diperlakukan begini. Melakukan ini salah, melakukan itu salah. Semuanya, selalu aku yang berada di pihak yang salah," ucap Andrew dengan wajah yang berlinang air mata.
"Jangan mengambil keputusan di saat kau sedang tidak bisa mengontrol emosimu. Kalau tidak, kau bisa saja akan menyesal seumur hidupmu. Apalagi ada anak yang menjadi korbannya," nasehat Aura.
Andrew tampak menimang-nimang ucapan Aura. Ia pun menyetujui ucapan itu. Namun, ada ruang di hatinya, yang tidak terima diperlakukan seperti itu.
"Abaikan saja, jika pikiranmu berperang dengan isi hatimu. Tunggulah sampai kau tenang, lalu setelah itu barulah kau memutuskan."
Andrew pun mengangguk, mengerti ucapan Aura.
"Aku dengar-dengar kau habis ditampar oleh salah satu istri dari klien mu? Apa itu benar?"
Aura mengangguk.
"Dia istrimu!" jawab Aura.
Andrew terkejut. Ia tidak menyangka istrinya lah yang berbuat seperti itu.
"Kok bisa? Kapan? Dimana?" tanya Andrew bertubi-tubi.
"Setelah aku menemui mu waktu itu di resort, tepatnya di lobby resort, dia tiba-tiba datang dan menanyakan mu. Marah-marah dan menyebutku sebagai pelakor lalu menamparku."
"Maaf, seharusnya aku tidak membawa-bawa dirimu ke permasalahan rumah tanggaku," ucap Andrew merasa bersalah.
"Tidak masalah, aku sudah biasa menerima semua itu dari istri klienku. Padahal, kalian lah yang datang padaku meminta perhatian dan dan mencurahkan isi hati kalian bukan aku," balas Aura lagi.
"Malam ini, terakhir kalinya aku bertemu denganmu. Ke depannya aku tidak akan membuatmu berada di tempat yang tidak seharusnya," ucap Andrew.
Aura mengangguk sambil mengelus punggung Andrew.
*
*
Di tempat lain, Rendra diminta mamanya untuk menjemput Ela di butik milik kembarannya itu. Ia melajukan mobilnya sambil terus menggerutu kesal.
"Menyusahkan sekali dia! Punya mobil tapi masih saja manja inginnya dijemput! Lantas untuk apa punya mobil jika tidak dipakai? Huh!"
__ADS_1
Tak lama kemudian, Rendra telah sampai di butik milik kembarannya. Ia datang dan masuk ke dalam lalu duduk di sofa dengan posisi bersandar ke sofa dan memainkan ponselnya.
Satu menit,
Lima menit,
Sepuluh menit,
Dua puluh menit,
Hingga tiga puluh menit, Ela belum keluar juga dari ruangannya. Ia sudah dongkol menunggu terlalu lama hingga akhirnya Rendra masuk ke ruangan Ela tanpa permisi.
Dan,
Betapa terkejutnya ia, ketika melihat Ela yang tertidur di meja kerjanya.
"Sudah menunggu lama-lama. Eh, dia malah asyik-asyikkan tidur! Dasar!" gerutu Rendra lalu menyentil dahi kembarannya.
"Awww!" Ela merintih kesakitan lalu mengangkat kepalanya yang tadi tertidur di meja.
"Kalau mau bangunin orang itu yang lembut! Kasar sekali sih? Aku bilangin papa ya!" ancam Ela.
"Dasar tukang ngadu! Ayo cepat pulang! Mama udah cemas di rumah. Anak gadis tuanya tidak pulang-pulang. Taunya malah asik tidur! Huh!"
"Dah, dah jangan banyak b*cot! Ayo cepat bereskan pekerjaanmu! Kita pulang! Aku ngantuk! Ingin tidur!"
"Cih! Sabar!" ucap Ela.
"Tidak ada kata sabar untukmu!"
"Dasar kembaran tidak sabaran! Pantesan diputusin terus!" sindir Ela.
Rendra hanya menatap tajam ke arah Ela. Wanita itu hanya membuang muka dan membereskan pekerjaannya.
Beberapa menit kemudian, Ela pun telah selesai membereskan pekerjaannya. Mereka berdua masuk ke dalam mobil.
Di perjalanan, Ela bertanya pada Rendra tentang wanita yang waktu itu berada di kamar resort Rendra.
"Ren," panggil Ela.
"Hm," jawab Rendra.
__ADS_1
"Wanita yang waktu itu siapa?" tanya Ela.
"Teman," jawab Rendra.
"Iya kah? Tapi kok dia bisa ada di kamar resort mu? Setahu aku, kau tidak pernah mengajak siapapun baik itu mantan-mantanmu untuk masuk dan menginap disana. Tapi kau justru mengizinkan temanmu untuk masuk dan menginap? Aku merasa ada yang aneh disini!" ungkap Ela yang merasa adanya keanehan.
"Jangan kebanyakan mikir yang aneh-aneh! Dia memang temanku tidak ada hal spesial lainnya. Gara-gara kau, aku jadi diminta mama untuk terus membawa wanita ke rumah."
"Haha. Mampus!" jawab Ela sambil tertawa.
"Harusnya kan yang diminta bawa pasangan ke rumah itu kau. Kau kan wanita. Mana dari dulu, satu laki-laki pun tak ada yang kau kenalkan ke mama. Apa kau tidak suka pria?" tanya Rendra yang mulai berpikir negatif ke kembarannya.
"Sembarangan kalau bicara!" ucap Ela sambil memukul lengan Rendra.
"Ya, kan siapa tahu?" ucap Rendra.
"Sudah fokus saja menyetir, aku mau tidur lagi. Bangunkan aku kalau sudah sampai rumah ya," ucap Ela lalu memejamkan matanya.
"His!" gerutu Rendra.
*
*
Mobil Rendra sudah masuk ke halaman rumahnya. Di depan rumah, mamanya sudah menunggu Rendra dan Ela dengan rasa cemasnya. Rendra pun keluar dari mobilnya dan membukakan pintu mobil Ela lalu menggendong kembarannya tanpa membuat wanita itu terbangun. Meski Ela memintanya untuk membangunkan wanita itu, ia tetap tidak tega. Apalagi raut wajah lelah kembarannya itu sangat terlihat jelas di matanya.
"Astaga! Kenapa Ela, Ren?" tanya sang mama ketika melihat Rendra menggendong kembarannya ala bridal style.
"Tidak apa-apa ma. Jangan cemas. Dia hanya tertidur. Aku akan membawanya ke kamar. Jadi, aku minta tolong ke mama untuk membukakan pintu kamarnya."
"Baiklah," jawab Naya.
Setelah membawa Ela ke kamarnya, Rendra pun pergi ke kamarnya sendiri. Sebelum merebahkan tubuhnya di ranjang, ia mengganti pakaian yang dikenakannya dengan kaos dan celana pendek. Setelah itu, barulah ia naik ke ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Tiba-tiba mata Rendra terpejam beberapa saat lalu terbuka lagi. Alangkah terkejutnya ia, ketika matanya terpejam justru yang ia lihat adalah Aura, wanita yang beberapa hari ini selalu tanpa sengaja ia temui, kecuali yang pertemuan terakhirnya.
"Astaga! Kenapa bisa wajahnya muncul di pikiranku?"
*
*
__ADS_1
TBC