Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 76 - Maafkan aku!


__ADS_3

Rendra meringkuk di pojokan kamarnya. Ia marah, ia terluka, tapi anehnya ia juga rindu. Ia merindukan Aura. Padahal wanita itu telah membuat luka untuknya.


Hingga terdengar suara dering ponsel. Tapi bukan ponsel miliknya. Rendra pun mengambil ponsel itu dari tempat tidur. Satu panggilan dari Alin. Rendra sengaja membiarkannya mati dengan dengan sendirinya. Lalu meletakkan kembali ponsel itu. Ia melihat wallpaper di ponsel Aura adalah fotonya dan Aura.


Hati Rendra teriris. Ia jadi semakin penasaran dengan isi ponsel milik Aura. Ia melihat foto-foto di galeri. Rupanya disana hanya ada fotonya, Aura, Sena, dan Alin juga foto pernikahan mereka. Rendra juga membuka aplikasi chat Aura. Ada satu pesan dari nomor tidak dikenal. Ia baca dan liat pesan itu.


Rendra terkejut ketika membaca isi pesan itu dan ada foto dirinya yang tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang. Seketika Rendra juga mengambil ponselnya. Ia mencocokkan nomor tersebut dengan nomor yang masuk ke aplikasi chat nya.


Nomor yang sama.


Rendra jadi frustasi. Ia mencoba memikirkan ulang semuanya.


"Apa jangan-jangan aku dijebak?"


Itu satu kesimpulan yang bisa Rendra dapatkan.


"Arghh! B*go! B*go! B*go!"


Rendra memukul kepalanya sendiri. Ia merasa sangat bersalah pada Aura. Ia bahkan sudah menghina Aura dan membiarkan wanita yang dicintainya pergi.


Rendra menangis sejadi-jadinya sambil menatap foto Aura di ponselnya.


"Maafkan aku, maafkan aku Aura! Hiks!"


Setelah puas menangis dan memikirkan kesalahannya. Rendra mulai mencari tahu keberadaan Aura. Karena tadi Alin menelpon ke ponsel Aura, sudah pasti Aura tidak sedang bersama Alin.


Sena.


Wanita itulah satu-satunya orang yang ia pikirkan yang mengetahui keberadaan Aura. Rendra mencari no kontak Sena langsung di ponsel Aura.


*


*


Suara dering telepon masuk ke ponsel Sena. Ia terkejut ketika nama yang tertera disana adalah nama Aura. Sementara orangnya sendiri ada di hadapannya.


Sena menunjukkan itu pada Aura.


"Itu pasti Rendra. Angkat saja," pinta Aura.


Sena mengangguk.


"Halo, Au. Ada apa?" tanya Sena mulai bersandiwara.


"Ini aku Rendra."

__ADS_1


"Oh, kau. Kukira Aura. Kenapa Ren?"


"Oh, tidak apa-apa. Tidak jadi."


Setelah itu sambungan telepon dimatikan secara sepihak oleh Rendra.


"Sudah, cuma begitu doang? Dia tidak menanyakan mu sama sekali Au."


Aura hanya tersenyum miris mendengarnya.


*


*


Balik lagi ke sisi Rendra, setelah menelpon Sena tadi. Sepertinya Aura juga tidak bersama Sena karena wanita itu tidak mengetahuinya juga.


"Ya Tuhan! Kau dimana Au? Aku harus mencari mu kemana?" cemas Rendra.


Tidak ada jalan lain, ia harus bercerita pada mama dan papanya.


Rendra pun segera meraih kunci mobilnya dan keluar dari rumah. Ia bahkan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sesampainya di rumah, Rendra langsung berteriak-teriak.


"Maa! Paaa!"


"Ada apa sih! Kenapa pake teriak-teriak segala!"


Setelah melihat bagaimana keadaan anaknya, Richard langsung melongo dan berlari ke hadapan Rendra.


"Kau kenapa Ren? Apa yang terjadi?" tanya Richard yang jadi khawatir.


Pasalnya Rendra datang dengan keadaan yang menyedihkan. Mata sayunya, rambut acak-acakan dan sedikit air mata di pipinya.


Rendra pun menjelaskan semuanya pada papanya. Apa yang telah ia ucapkan pada Aura. Apa yang ia terima di ponselnya dari seseorang dan apa yang Aura terima juga di ponselnya dari seseorang.


Richard mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia tidak terima.


"Tenang saja papa akan membantumu. Papa juga akan mengerahkan pasukan untuk mencari tahu siapa dibalik ini semua. Mengenai keberadaan Aura, kau kan bisa mengecek lokasinya."


Rendra menghela napas kasar.


"Masalahnya ponselnya Aura tertinggal di apartemen pa."


"Salah kau juga sih, gampang banget terhasut pesan asing!"

__ADS_1


Rendra mendengus sebal. Ia dia tahu dirinya salah. Tapi kan ia cemburu, dalam keadaan cemburu mana bisa sih mengontrol emosi. Apalagi banyak sekali kemungkinan-kemungkinan yang pas dengan apa yang ada di dalam isi pesan asing itu.


"Sudah, yang terpenting sekarang. Kita cari keberadaan Aura. Papa takut, Aura malah yang jadi diincar oleh orang jahat itu."


Rendra mengangguk.


Kemudian menanyakan keberadaan sang mama.


"Mama mana?" tanya Rendra.


"Belum pulang, katanya lagi main di panti asuhan Meira."


Rendra hanya mengangguk-angguk saja. Ia tidak mau terlalu memikirkan hal lain selain Aura.


Kau dimana sayang? Aku benar-benar minta maaf.


"Sana pergi istirahat saja di kamar! Biar orang-orang papa yang mencari tahu."


Rendra menggeleng.


"Kalau keberadaan Aura, aku ingin mencarinya juga pa. Tapi kalau untuk nomor tak dikenal itu, aku serahkan ke papa."


"Ya sudah, terserah kau saja lah. Tapi ingat! Kalau sudah larut, kau harus pulang! Lagipula Aura tidak mungkin pergi jauh, ia pasti ada bersama temannya."


Rendra pergi begitu saja dari kediaman Kavindra setelah membaut kekacauan kecil disana. Untung Richard papa yang baik, jadinya ia tidak langsung menjewer anaknya begitu saja.


*


*


Di sisi lain, di sebuah rumah, si tuan tertawa dengan begitu senangnya. Bisa dipastikan Rendra dan Aura akan segera berpisah. Apalagi melihat keadaan Aura yang meninggalkan apartemen tadi sambil menangis, membuat dirinya jadi semakin senang.


"Setelah Elnan berpisah dengan istrinya. Rumah tangga Rendra pun menyusul akan berpisah. Lalu untuk anak perempuan Richard, apa sebaiknya aku buat dia depresi saja? Hahaha. Dengan begitu Richard akan merasakan sakit yang teramat sangat karena orang yang disayanginya terluka, hahahha. Oh, kalau istrinya, mungkin lebih baik aku bunuh saja, hahaha."


*


*


Di rumah sakit, Aura menatap langit-langit kamar. Ia juga mengedarkan pandangannya ke arah lain, Sena. Wanita itu tertidur dengan pulasnya di atas sofa.


Semakin malam bukannya semakin ngantuk, Aura justru jadi semakin tidak bisa tidur. Tapi, ia ingat. Ia memiliki makhluk yang hidup di perutnya.


"Sayang, Mama harap kau kuat ya. Maafkan mama yang dulu. Lihatlah mama yang sekarang berjuang untukmu," ucap Aura sambil mengelus perutnya yang masih rata.


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2