Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 67 - Ansel Curhat


__ADS_3

Pagi harinya, Aura sudah bangun dan kini ia sedang beratraksi di dapur. Ia menyiapkan sarapan Rendra sebelum laki-laki itu berangkat ke kantor.


Sementara Rendra, ia masih terlelap dalam tidurnya.


Beberapa saat kemudian, Rendra bangun dan meraba-raba sampingnya.


Kosong.


Ia pun langsung membuka matanya perlahan dan mengedarkan matanya untuk mencari istrinya.


"Kemana dia?"


Rendra pun keluar dari kamar dengan tanpa mengenakan kaosnya. Rambutnya juga masih acak-acakan.


Ketika melihat Aura di dapur, ia pun langsung kesana dan memeluk Aura dari belakang.


"Kenapa bangun sepagi ini? Aku kan masih ingin memelukmu tahu," ucap Rendra sambil menaruh kepalanya di ceruk leher Aura.


"Sekarang sudah jam 7.30. Sudah waktunya mandi dan berangkat kerja."


"Aku masih ingin bersamamu. Lagian aku kan bos nya. Jadi, kalau telat pun tidak masalah," jawabnya.


Aura menggelengkan kepalanya. Lalu melepaskan pelukan Rendra.


"Ih, kok dilepas?"


Aura menyentuh wajah Rendra lalu mengatakan, "Aku tidak mau punya suami yang tidak menghargai waktu. Jadi, sekarang pergi mandi setelah itu aku kasih hadiah kecupan."


Setelah mendapatkan iming-iming seperti itu, Rendra jadi bersemangat. Sebelum pergi lagi ke kamar, Rendra mencuri kecupan di bibir Rendra.


"Nanti kecup yang banyak ya sayang," ucap Rendra sambil mengedipkan sebelah matanya.


Aura hanya geleng-geleng kepala. Rasanya ia seperti bukan mengahadapi orang dewasa sekarang. Seperti meghadapi orang yang haus perhatian.


Waktu berlalu, Rendra sudah mandi, sudah makan dan siap untuk berangkat ke kantor.


"Mana hadiahnya?" tagih Rendra.


"Sini aku rapihkan dulu dasinya," ucap Aura.


Rendra pun menurut. Ia terus memandangi wajah serius Aura yang menggemaskan baginya.


"Istriku cantik sekali. Kalau bisa aku karungin kamu dan kubawa kemana-mana."


"Ish! Memangnya aku ini apaan? Pakai dikarungin segala?"


"Habisnya aku gemes," ucap Rendra sambil mencubit pipi Aura.


"Sakit tahu."


"Iya, maaf, maaf." Rendra mengecup pipi yang dicubitnya tadi sebagai penawarnya.


"Nanti siang ke kantor ya? Aku ingin makan siang bersamamu."


"Iya, nanti aku kesana. Udah selesai."


"Terima kasih istriku."


Aura mengangguk.


"Hadiah?"


"Dasar perhitungan."

__ADS_1


Rendra meng*lum senyum lalu menyentuh bibirnya dengan jari tangannya ingin hadiahnya tepat pada bibirnya.


Cup.


Sebuah ciuman pun terjadi. Tak begitu lama namun cukup membuat hati Rendra senang.


"Aku berangkat dulu sayang. Hati-hati di rumah sendirian. Kalau bosan, pergi saja ke restoran mama."


"Iya. Hati-hati di jalan."


*


*


Rendra sudah sampai di kantornya. Ia pun dikejutkan dengan Ansel yang sudah berada disana dengan wajah cemberutnya.


Sepertinya ada hal buruk terjadi.


"Kenapa?" tanya Rendra.


"Aku harus bagaimana?" jawab Ansel yang membuat Rendra jadi bertanya-tanya.


"Bagiamana apanya? Kalau cerita itu yang jelas, jangan suka bertele-tele."


"Huh! Kau tahu kan kalau aku suka menghabiskan malam bersama Sena?"


Rendra mengangguk.


"Kau bahkan selalu pamer padaku."


"Semalam, aku kesal dan marah ketika Sena akan bermalam dengan laki-laki lain lalu aku mencegahnya dengan membawa Sena bersamaku."


"Lalu?"


Ansel menceritakan tentang dirinya yang hanya ingin Sena menghabiskan malam dengannya. Lalu ia juga mengatakan akan membebaskan Sena dari belenggu dunia malam.


"Padahal aku sudah mengatakannya sangat jelas. Tapi dia malah menganggap ku bercanda," jelas Ansel sambil mengingat kejadian semalam.


Flashback on


"Hahaha, Sel, aku ini wanita bayaran yang tidak dimiliki satu orang. Jadi mana bisa begitu."


"Bisa kan? Aura saja bisa. Rendra bahkan bisa mengeluarkannya dari sini. Kenapa aku tidak?"


Glek!


"Maksudmu gimana?"


"Ya aku ingin kau jadi milikku saja. Aku akan mengeluarkan mu dari sini dan setelah itu, kau hanya boleh menghabiskan malam bersamaku."


Sena tersenyum miris. Ia mengira Ansel mencintainya makanya mau mengeluarkannya rupanya Ansel mau mengeluarkannya karena ingin dirinya terus memuaskan hasrat Ansel.


Tetap saja kau hanya ingin tubuhku. Aku kira maksudmu akan mengeluarkan ku karena kau menginginkan aku sebagai wanitamu. Rupanya hanya sebagai pemuas hasrat. Miris sekali!


"Jangan bercanda. Tidak semudah itu mengeluarkan ku. Aku sudah terikat kontrak."


"Aku sedang tidak bercanda Sena. Aku serius!"


"Sudahlah."


Setelah mengatakan itu Sena keluar dari kamar itu meninggalkan Ansel dengan kesedihannya.


Sementara Ansel kesal dan memukul ranjang dengan bantal.

__ADS_1


Flashback off


Dari apa yang sudah diceritakan oleh Ansel padanya. Rendra tahu kalau sebenarnya Ansel sudah jatuh cinta pada Sena. Hanya saja pria di hadapannya ini belum menyadarinya.


Rendra juga sadar, Sena pun memiliki rasa yang sama ada Ansel. Hanya saja mungkin bagi Sena itu semua seakan mustahil.


"Kau mencintainya?"


Ansel terdiam mencoba mencari-cari jawaban atas pertanyaan Rendra.


"Apa kau cemburu ketika dia bersama pria lain?"


Ansel mengangguk.


"Apa kau selalu memikirkannya tanpa kau sadari?"


Ansel mengangguk lagi.


"Apa kau nyaman bersamanya?"


"Iya, bahkan aku merasa bebanku seketika hilang begitu saja jika bersama Sena."


"Sudah terjawab."


"Apanya yang terjawab?" Ansel kebingungan dengan ucapan Rendra.


"Kau mencintai Sena tapi kau belum menyadarinya. Dan sekarang kau sudah tahu, jadi kalau mau mengeluarkan Sena dari sana. Ucapkan kata-kata yang benar. Jangan ucapkan kata-kata yang menyinggung perasaannya."


"Bagian mana yang menyinggung? Aku merasa tidak ada," ucap Ansel yang tidak sadar.


"Sudahlah, lebih baik kau balik saja ke habitat mu. Hus! Hus! Hus!"


Rendra mengusir Ansel untuk pergi.


"Hiii, jahad! Aku sedang terluka lho ini! Kenapa kau tidak punya rasa kemanusiaan sih?"


"Sana pergi! Temui Sena dan katakan kau mencintainya. Pasti dia akan menerimamu dan percaya kalau kau benar-benar akan mengeluarkannya dari dunia malam."


"Tapi, aku tidak tahu apa aku mencintainya atau tidak?"


"Huh!"


Rendra menarik napasnya perlahan.


"Kau mencintainya. Itu sudah sangat jelas. Akui saja. Jangan bego!"


"Hih!" Ansel kesal.


Ansel pun keluar dari ruangan Rendra dan memikirkan kata-kata yang Rendra ucapkan.


"Aku mencintainya? Apa iya? Apa jika aku mengatakan itu Sena hanya akan jadi milikku saja?"


"Argh!" Ansel kesal dan mengacak-acak rambutnya.


Orang yang berlalu lalang disana pun jadi menatap ke arah Ansel. Ansel pun membalasnya dengan kata-kata.


"Apa lihat-lihat! Tidak pernah liat orang tampan ya!"


Tujuan Ansel kali ini adalah bertemu Sena. Meyakinkan hatinya juga menguji apa perkataan Rendra tadi benar atau tidak.


*


*

__ADS_1


TBC


__ADS_2