
Aura justru tak terlalu peduli dengan kata-kata yang terdengar seperti hinaan itu dari mulut Rendra. Ia hanya terpaku pada kalimat yang menyatakan bahwa Rendra sedikit tertarik dengan tawarannya.
"Benarkah kau sedikit tertarik dengan tawaranku semalam?" tanya Aura sambil memegang ujung lengan baju Rendra.
Rendra yang risih disentuh wanita, mencoba menjauhkan tangan Aura dari lengan bajunya.
"Tidak, aku tidak tertarik," ucap Rendra lalu pergi setelah tangan Aura terlepas dari lengan bajunya.
Dengan tidak tahu malunya, Aura justru mengekor Rendra. Entah kenapa, ia merasa aman jika berada di sisi Rendra. Padahal baru sehari ia mengenal pria itu, meski terlihat dingin dan kejam perilakunya, Aura sangat yakin kalau hatinya tidak seperti sikapnya.
Langkah Rendra terhenti.
Dug!
"Aw, kenapa sih berhenti jalan tidak bilang-bilang!? Sudah pipi merah, ujung bibir berdarah, masa jidatku harus benjol juga? Kan nggak lucu!" gerutu Aura.
Rendra membalikan tubuhnya. Ia menyentil dahi Aura membuat aura meringis lagi.
"Aww! Sakit tahu!"
"Siapa yang memintamu untuk berjalan di belakangku? Salah sendiri!" tukas Rendra.
"Kata Ansel, kau itu pria baik hati dan selalu bertutur kata yang lembut. Tapi kenapa apa yang dikatakan Ansel sangat jauh berbeda dengan kenyataan? Apa kau menyogok Ansel untuk berbicara yang baik-baik tentangmu?"
"Sembarangan!" ucap Rendra sambil menyentil dahi Aura lagi.
"Ish! Kau itu sama saja dengan tante-tante tadi. Suka sekali menyentuh fisik orang dengan kekerasan, aku bisa melaporkanmu ke polisi!" ancam Aura dengan tatapan tajamnya.
"Kau pikir aku bodoh? Disini tidak ada cctv, karena sangat jarang dilewati oleh pengunjung," jawab Rendra.
"Lah, kenapa kau tahu sekali tentang resort ini?" tanya Aura yang mulai penasaran.
"Karena ini adalah resort milikku," jawab Rendra.
Seketika Aura menganga tidak percaya. Resort termahal dengan fasilitas lengkap juga pemandangan yang begitu sempurna ini milik pria yang dingin dan kejam seperti Rendra? Rasanya dunia tidaklah adil. Sudah diberikan postur tubuh yang sempurna, parasnya yang sempurna, lalu kini kekayaan pun sempurna. Lantas apa yang tidak pria itu miliki?
Ya, wanita lah, satu-satunya yang tidak dimiliki pria kejam seperti Rendra. Seketika Aura merasa hidup itu adil. Selalu ada kelebihan dan kekurangannya.
"Kalau kau terus menganga, puluhan lalat akan memenuhi mulutmu!"
__ADS_1
"Haish! Kata-katamu kasar sekali!"
Rendra tidak peduli. Ia melanjutkan lagi langkahnya. Namun, Aura masih tetap mengikutinya.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan? Berhenti mengikuti ku, bisa?" ucap Rendra sambil membalikkan tubuhnya lagi.
Tatapan mata Rendra terlihat begitu tajam membaut nyali Aura menciut seketika. Ia pun menunduk dan mengucapkan apa yang ia inginkan.
"Apa kau punya kotak P3K disini? Aku hanya ingin mengompres bekas tamparan di wajahku dan mengobati luka di ujung bibirku. Aku tidak mungkin pulang dengan keadaan seperti ini. Adikku pasti akan menangis dan bersedih. Lalu ia pasti akan memintaku untuk berhenti dari pekerjaan ini. Sementara aku, aku tidak bisa mengabulkan itu," jawab Aura dengan sangat jujur. Entah kenapa ia merasa Rendra tidak seburuk apa yang ia kira.
Dan dugaan itu salah, Rendra justru hanya diam dan melanjutkan lagi jalannya.
"Haaah, harusnya aku tidak sepercaya itu dengan kata hatiku. Orang yang dingin, memang akan tetap dingin. Tidak akan mungkin langsung menghangat seketika."
Aura membalikkan tubuhnya, berjalan dengan lemas dan pelan. Jika ia membeli obat di apotik, adiknya pasti akan bertanya-tanya.
"Terima nasibmu saja Au. Semoga hari ini Alin ada kegiatan di kampus, jadi dia tidak melihat wajahku yang tidak karuan begini."
Aura hanya berharap adiknya tidak ada di rumah dan tidak melihat keadaan wajahnya.
Di saat sudah sampai di pintu keluar, Rendra datang dan berdiri di hadapan Aura.
Aura tersenyum.
"Ternyata kata hatiku tidak salah, dia memang pria yang baik. Hanya nasib percintaannya yang dan perangainya yang buruk."
Aura pun kembali masuk ke dalam resort dan mengobati lukanya di sofa.
*
*
Malam harinya di kediaman Kavindra, suasana tampak ramai dengan kehadiran Elnan di tengah-tengah keluarga tersebut.
"Hahaha, kasian sekali kakakku yang satu ini, diselingkuhi pas lagi sayang-sayangnya. Jangan baper ya kak! Kejadiannya kan sudah satu tahun berlalu. Pasti kau juga sudah move on," ledek Ela yang tidak peka itu.
Naya dan Richard hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putri satu-satunya mereka itu. Sebagai seorang ibu, Naya tahu, bahwa Elnan tidak sepenuhnya telah move on. Pasti masih ada banyak kenangan yang tak mudah untuk dilupakan.
"Sudah Ela, jangan terus mengganggu kakakmu," ucap Naya.
__ADS_1
"Ah, mama tidak asik," ujar Ela.
"Sukurin! Makanya jangan suka ketawain kemalangan orang. Kau sih tidak pernah jatuh cinta, makanya tidak akan tahu juga bagaimana rasanya dikhianati," ujar Elnan.
"Huh!" kesal Ela.
"Ngomong-ngomong kemana ikan Lendra, ma, pa? Aku belum melihatnya lagi hari ini setelah sarapan tadi?" ucap Ela bertanya-tanya keberadaan saudara kembarnya itu.
"Paling dia ada di resort. Kakakmu itu kan, jika tidak ada di rumah pasti kesana," jawab Richard.
"Ish! Enak sekali dia! Aku juga ingin menghabiskan waktu disana sambil lihat-lihat pemandangan, siapa tahu kan bisa menemukan jodoh orang bule," ucap Ela.
"Kalau mimpi jangan ketinggian, pria lokal saja tidak ada yang tertarik padamu apalagi pria bule?"
"Huwa, mama, papa, kak Elnan jahat! Secara tidak langsung dia mengatakan bahwa aku tidak menarik dan jelek!" adu Ela pada mama dan papanya.
"Ckck, dari kecil kau memang selalu pintar dalam urusan mengadu ya La. Sudahlah, aku ke kamar ya ma, pa."
Elnan pun pergi dari perkumpulan keluarganya itu.
Ela pun dinasehati oleh mamanya.
"Sayang, lain kali jangan bicara seperti itu pada kakak El, ya? Melupakan seseorang yang pernah singgah dan menetap di hati dan pikiran kita itu tidaklah mudah. Apalagi kakakmu itu, tipe orang yang susah jatuh cinta sama sepertimu yang sampai sekarang tidak pernah membawa laki-laki manapun ke rumah dan memperkenalkannya ke mama dan papa."
Ucapan mamanya itu, begitu menusuk ke uluh hati Ela. Bukannya ia tidak ingin tapi memang belum ada yang pas di hati. Yang mendekatinya banyak tapi yang bisa membuat hatinya berdebar tidak ada sama sekali.
"Baik mama, maafkan Ela," ucap Ela yang tiba-tiba melembut.
"Minta maafnya sama kakak El. Mama bersyukur kakakmu mau pulang ke Indonesia. Mama sempat takut, karena sakit hatinya, dan gagalnya rumah tangganya kakakmu akan tinggal di Paris selamanya bersama Oma."
"Iya, nanti Ela minta maaf ke kakak Ma."
"Ini baru putri kesayangan papa," ucap Richard sambil mengelus rambut kepala putrinya.
*
*
TBC
__ADS_1