
Beberapa hari telah berlalu, Meira pun telah pulang dari luar kota dari menemani anak panti. Elnan yang mengetahui hal itu, langsung sumringah dan tidak sabar ingin bertemu Meira.
Waktu pulang kerja pun tiba, Elnan pulang ke apartemennya. Disana sudah ada Meira yang menyambutnya dengan senyum manis yang dirindukannya.
Elnan langsung memeluk Meira dengan erat.
"Akhirnya rindu ini terobati," ucapnya kemudian meraih pipi Meira dengan tangannya.
"Kalau sampai kau berminggu-minggu disana, tadinya aku akan pergi menyusul kesana," tambah Elnan lagi.
"Iya kah?"
Elnan mengangguk. Ia pun menarik tubuh Meira untuk duduk di sofa. Elnan mulai bermanja-manja pada Meira. Laki-laki itu bahkan terus memainkan tangan Meira.
"Ayo menikah lagi. Rasanya aku tidak bisa menunggu terlalu lama. Aku tidak peduli dengan uang yang aku keluarkan untuk membayar biaya kontrak kerjamu. Kumohon, mau ya?" pinta Elnan dengan mode seperti anak kecil yang terus merengek.
Meira mengelus rambut kepala Elnan.
"Baiklah, ayo menikah," jawab Meira.
Elnan tersenyum senang lalu mencium bibir Meira tiba-tiba. Lalu melepaskannya setelah puas.
"Terima kasih sayang. Nanti aku akan beritahukan kabar ini pada mama dan papa juga adik-adikku."
__ADS_1
Meira mengangguk.
Elnan kembali bermanja pada Meira. Keduanya menikmati waktu dengan menonton film bersama di apartemen.
*
*
Malam harinya, Elnan mengumpulkan semua keluarganya di ruang keluarga. Ia mengumumkan tentang berita pernikahannya.
"Aku dan Meira sudah sepakat untuk rujuk kembali. Kemungkinan besar, acara pernikahan akan dilakukan dalam waktu dekat. Aku hanya ingin dukungan dan restunya dari semuanya."
Semua wajah yang mendengar ucapan itu tersenyum bahagia. Apalagi Naya yang sudah hampir menangis. Ia merasa bahagia karena satu per satu anaknya akan bahagia dengan pasangannya masing-masing.
"Terima kasih pa."
.
Setelah itu, semuanya kembali ke kamar masing-masing. Begitu juga Elnan yang kembali ke apartemen untuk tidur disana.
Aura kini berbaring dengan lengan Rendra dipakai sebagai bantalan kepala Aura. Wanita itu terus berceloteh tentang kebahagiaan yang akan mendatangi kakak iparnya.
"Akhirnya mereka berdua bisa rujuk juga. Soalnya, sangat disayangkan sekali kalau mereka tidak rujuk. Apalagi masalahnya sama seperti kita. Semoga saja setelah ini, tidak ada apapun yang menimpa di rumah tangga kita maupun rumah tangga kak Elnan nantinya."
__ADS_1
"Iya sayang, mereka itu kelihatan masih saling cinta. Sekuat apapun untuk melupakan, tetap saja hatinya saling tertuju satu sama lain. Makanya kita harus bersyukur tabir masalah ini telah terbongkar. Hingga membuat kita kembali harmonis dan kak Elnan dengan Kak Meira pun kembali rujuk," ucapnya sambil mengelus rambut kepala Aura dengan tubuh menyamping.
"Makanya dari masalah yang terjadi dulu, kita jadi banyak belajar. Jangan egois, jangan mudah percaya pada orang lain, juga jangan mudah mengatakan kata-kata kasar yang bisa menyakiti hati orang lain. Ingat itu!" ucap Aura seolah meledek Rendra.
"Iya, iya, iya, sayang. Aku paham dan mengerti sekarang. Setelah semua yang terjadi, aku jadi tahu pasti apa yang aku butuhkan. Yaitu kamu dan sentuhan cinta darimu sayang," ucapnya lalu mengecup bibir Aura.
Aura sedikit mengerucutkan bibirnya. Ia kesal karena Rendra selalu menyerangnya dadakan.
Hal itu membuat Rendra terkekeh pelan dan mencubit pipi Aura saking gemasnya.
"Mau yang lebih dari sekedar kecupan? Makanya kau mengerucutkan bibirmu, sayang? Padahal kalau kau minta, aku akan kasih semuanya. Bukan hanya kecupan," ucap Rendra sambil mengedipkan salah satu matanya.
"Aih, dasar!"
Rendra terkekeh lagi.
Ribuan kecupan pun mendarat di seluruh bagian wajah Aura. Di setiap jeda kecupan itu, Rendra selalu mengucapkan kata cintanya pada Aura.
"Aku mencintaimu. Sangat, sangat mencintaimu."
*
*
__ADS_1
TBC