Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 70 - Pengganggu di pagi hari


__ADS_3

Hari telah berganti, kini Aura sudah ada di sebuah restoran bersama dengan Sena. Ia akan mendengarkan curahan hati sahabatnya itu.


"Kenapa? Apa yang ingin kau curhatkan padaku?"


"Aku bingung, aku bingung harus memulainya dari mana. Aku takut, aku salah mengartikan semuanya," jawab Sena.


"Coba cerita dari bagian yang membuatmu bingung. Ada di poin mana? Apa ini soal pria?"


Sena mengangguk.


"Cerita lah, aku akan senang hati mendengarnya."


Sena mulai bercerita tentang masalahnya dan Ansel. Ia menceritakan bagaimana perasaannya pada laki-laki itu dan bagaimana laki-laki itu selalu memperlakukannya hingga di hati terakhir mereka bertemu. Kejadian yang Ansel juga pernah cerita ke Rendra.


"Kau jangan langsung menyimpulkan hal buruk tentang Ansel. Bisa saja kan dia juga tiba-tiba suka padamu. Mungkin saja kan? Kalau dia benar-benar bisa mengeluarkan mu dari sana, itu adalah sebuah keberuntungan Sen. Mencintai seseorang itu tidaklah salah, tidak perlu menyangkalnya juga."


"Tapi, jika dia benar-benar mengeluarkan aku dari sana dan rasa cintaku padanya semakin besar bagaimana?"


"Kan sudah aku bilang itu semua keberuntungan. Biar saja rasa cinta itu tumbuh, kau tinggal memilih untuk memendamnya atau mengutarakannya. Tidak susah kan?"


"Haih!"


Sena mengacak-acak rambutnya karena sedikit frustasi.


"Jangan selalu mengganggap rendah diri kita sendiri. Karena di setiap orang pasti ada kelebihannya. Bagi orang yang menyukaimu dia pasti akan melihatmu dengan versi terbaikmu. Katakan saja jika kau suka."


Lagi-lagi ucapan Aura membuat Sena terdiam lama. Ia memang menyukai Ansel. Hanya saja, ia merasa tidak pantas untuk menyatakan rasa sukanya. Di samping status sosial yang berbeda, ia juga takut akan bersedih hati kalau nantinya Ansel hanya menganggap dirinya hanya seorang wanita pemuas nafsu.


*


*


Sampai saat ini, Nicolas belum mendapatkan kabar apapun lagi dari mata-matanya.


"Dimana kau sebenarnya? Bagaimana bisa kau bersembunyi hingga tak ada satu pun anak buahku yang bisa mengetahuinya? Kalau saja waktu itu, anak buahku tidak melihatmu tanpa disengaja mungkin saja aku tidak akan tahu bahwa ternyata kau amish ada di belahan bumi yang sama denganku."


Di kegelisahan hatinya itu, Denada datang dan menanyakan apa yang sedang dipikirkan suaminya.


"Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat gelisah begitu? Apa ada masalah di perusahaan? Apa Ansel tidak bisa memimpinnya dengan baik?"


Nicolas menggeleng.


"Aku hanya memikirkan Rico. Rupanya dia masih ada di kota ini. Tapi kenapa aku sangat sulit sekali menemukannya?"

__ADS_1


Denada mengelus pundak Nicolas.


"Mungkin saja belum waktunya ia ditemukan. Di lain waktu pasti kau bisa menemukannya."


Nicolas pun mengiyakan ucapan Denada. Mungkin memang benar, sekarang belum waktunya ia bertemu Rico.


*


*


Hari berganti malam, Aura dan Rendra berada di kamar berdua sambil menonton film romantis. Film itu direkomendasikan oleh Sena, katanya film itu ceritanya sangat bagus dan Aura pasti akan menyukainya.


Rupanya, Sena membohongi Aura. Film itu adalah film romantis yang banyak adegan 21+ nya. Meskipun dirinya sudah menikah, tetap saja aneh rasanya menonton film tersebut. Sementara Rendra, ia menganggap Aura sedang ingin bercinta dengannya dengan pemanasan menonton film dahulu supaya sama-sama ter*ngsang duluan.


Aura menutup wajahnya, ketika adegan itu terlihat di depan matanya.


Rendra malah membawa Aura untuk berbaring dengan dirinya berada di atas Aura supaya aura tak lagi melihat adegan itu.


"Kau sengaja ya sayang? Padahal kalau kau bilang kau menginginkannya. Aku dengan senang hati memberikannya. Bahkan tubuh wanita tadi tidak cukup cantik untuk membuat aku tergoda. Hanya kau, kau seorang yang membuat aku tergoda."


Rendra menyingkirkan tangan Aura yang menutupi wajahnya.


"Aku menginginkannya sayang," ucap Rendra dengan tatapan dalamnya.


*


*


Paginya, ketika Aura hendak bangun dan membersihkan dirinya, Rendra memeluknya begitu erat, erat sekali.


"Mau kemana? Hm? Disini saja! Aku masih menginginkanmu," ucap Rendra yang masih memejamkan matanya. Mungkin saja ia terbangun karena pergerakan dari Aura.


Tangan Rendra mulai bermain lagi di dada Aura. Mencubitnya pelan dan mer*masnya hingga keluar suara d*sahan dari mulut Aura.


Hal itu membuat Rendra membuka matanya dan berpindah ke atas tubuh Aura lagi. Tubuh yang sama-sama masih polos membuat hasrat Rendra kembali naik.


"Kenapa kau begitu menggoda sih sayang? Aku bahkan tidak bisa berhenti terpesona karena mu," ucapnya lalu mencium bibir Aura dengan lembut dan memabukkan.


Aura membalas ciuman itu hingga keduanya saling beradu lidah.


Ketika akan melakukan tahap selanjutnya, tiba-tiba saja ponsel Rendra berdering. Ia kesal dan langsung menolaknya.


Saat akan memulai lagi hubungan panasnya, lagi-lagi teleponnya berdering.

__ADS_1


"Angkat dulu, siapa tahu penting."


Alhasil Rendra pun mengangkat teleponnya sambil tangannya terus bermain di dada Aura.


Aura sedikit merintih dan Rendra hanya tersenyum senang melihatnya.


"Kenapa telepon papa kau tolak hah?!"


"Uh! Jangan marah-marah pa. Lagian papa mengganggu sekali. Padahal aku sedang asik bermain kuda-ku ... aw"


Ucapan Rendra terpotong karena tiba-tiba Aura mencubit pinggangnya.


"Oh, kau sedang bercinta rupanya. Kalau begitu nanti saja papa telepon lagi. Sana lanjutkan. Jangan lupa berikan papa banyak cucu."


Sambungan telepon pun berhenti.


"Kenapa mencubit ku sayang?"


"Jangan bicara terlalu jujur. Malu tahu."


"Malu kenapa sih sayang? Aku kan mengatakan itu supaya papa mengerti dan tidak menggangu kita. Aku kan masih belum puas dengan percintaan kita semalam. Lihat, dia masih berdiri dengan tegak."


Tiba-tiba Rendra memperlihatkan senjatanya ke Aura. Meski tadi sempat terganggu oleh telpon dari Richard. Rendra tetap ingin melanjutkan kegiatan yang tertunda tadi.


Aura menutup matanya karena merasa ngeri. Ia masih suka tidak percaya senjata sebesar itu berhasil mengoyak-ngoyak tubuhnya hingga berada di dalam kenikmatan dunia. Bahkan hanya terasa sakit diawal setelahnya hanya ada kenikmatan.


Rendra tersenyum tipis lalu menggesek-gesekkan senjatanya ke milik Aura. Aura merasakan desiran darahnya yang mengalir begitu cepat.


"Enak kan sayang?"


"Eum." Aura mengiyakan itu dengan suara yang keluar dari mulutnya. Meski ia ingin berkata tidak, nyatanya tubuhnya tidak bisa bohong. Sentuhan Rendra membuat tubuhnya selalu melayang dan meminta lebih dan ingin terus disentuh.


Di pagi itu, keduanya melakukan lagi adegan panas hingga terkulai lemas di atas ranjang. Bahkan nada dering ponsel pun tak lagi Rendra pedulikan saking nikmatnya pergulatan di pagi itu.


"Terima kasih sayang, rasanya aku tidak ingin berangkat kerja hari ini. Ingin disini saja bersamamu."


Rendra mengecup kening Aura lalu tertidur dengan memeluk tubuh Aura.


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2