Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 30 - Sandal Karet


__ADS_3

Esok harinya, Aura kembali menemani Rendra kemana pun laki-laki itu pergi. Selama berhari-hari menjadi kekasih pura-pura Rendra, Aura merasa seperti tidak pantas walau hanya menjadi kekasih pura-pura Rendra. Bagaimana tidak? Ia diperlakukan dengan baik layaknya wanita yang dicintai oleh Rendra walaupun tidak di depan mamanya Rendra. Padahal di perjanjian awalnya mereka hanya berpura-pura di depan mamanya Rendra saja.


Rendra juga tipe laki-laki yang tidak sembarangan menyentuh wanita. Bahkan selama hampir seminggu ini, Rendra tak pernah sekalipun menyentuh Aura meski hanya menggenggam tangannya di hadapan mamanya. Laki-laki itu tetap pada sikapnya yang terkesan cuek.


Aura juga akhirnya bisa merasakan bagaimana rasanya diterima di keluarga kekasihnya meski hanya kekasih pura-pura saja. Ia merasa semuanya terlihat seperti nyata bukan sandiwara sampai akhirnya Aura tersadar ia sudah ketinggalan jauh oleh Rendra. Aura hanya mampu menatap tubuh jangkung itu yang hanya kelihatan punggungnya saja.


Tolong kembalilah ke dunia nyata Aura. Semua ini hanya sandiwara, ucap Aura pada hatinya agar tidak terlena pada kepura-puraan.


Aura pun sedikit berlari untuk mengejar Rendra. Hingga kini ia sudah berada sejajar dengan tubuh Rendra.


"Lambat sekali jalanmu!" ucap Rendra dengan ketusnya.


"Wajar kalau lambat, aku kan pakai sepatu berhak tinggi jadinya susah, apalagi langkahku tidak selebar langkahmu," ucap Aura menanggapi ucapan Rendra.


"Sudah aku bilang pakai apapun yang membuatmu nyaman. Tidak usah pakai sepatu tinggi-tinggi. Kau pakai sandal pun tidak masalah bagiku," jawab Rendra.


Aura pun berhenti berjalan membuat Rendra kebingungan dengan apa yang akan dilakukan Aura. Tanpa diduga Aura justru membuka sepatunya dan menjinjingnya di tangannya. Rendra hanya menggelengkan kepalanya lalu berjalan mendahului Aura lagi.


Aura kesal dan malah sengaja berjalan pelan. Ia kan memakai sepatu berhak tinggi juga untuk menyempurnakan penampilannya dan menyelaraskan penampilan dirinya dengan Rendra. Ia tidak ingin Rendra merasa malu sudah mengajak dirinya. Tanpa sadar, Rendra sudah tak ada lagi di pandangan matanya.


"Huh! Rasanya aku menyesal sudah memuji-muji Rendra di dalam hati tadi. Dia hanya laki-laki cuek yang bisanya membuat orang kesal," ucap Aura.


Karena saking kesalnya, Aura hampir saja ingin berbalik arah dan pulang dari mall tersebut. Namun, sebuah tangan menahannya. Aura pun berbalik.


Rendra memberikan Aura sepasang sandal karet. Karena ketika tadi Aura melepas sepatunya tanpa sengaja Rendra melihat luka di kaki bagian belakang Aura. Jadi, ia buru-buru untuk membelikan sandal untuk Aura bukan meninggalkan wanita itu.


Aura jadi merasa bersalah lagi sudah berkata-kata buruk tentang Rendra.


Haruskah aku tarik lagi perkataan buruk ku tadi?


"Pakai sandalnya," ucap Rendra lalu meraih sepatu hak tinggi yang dibawa Aura. Ia pun kini menyamakan langkanya dengan langka Aura.


"Makanya kalau ada luka di kaki itu bilang!" ucap Rendra lagi.

__ADS_1


"Luka di kaki? Rasanya tidak tuh!" jawab Aura.


"Kau tidak menyadarinya?" Aura menggeleng karena ia memang tidak merasakan sakit akan tetapi ketika ia melihat ke kakinya memang ada bagian yang memerah karena sepatu yang ia kenakan.


"Dasar, kau itu memang ceroboh dan tidak memperhatikan dirimu sendiri!" ucap Rendra lagi.


"Kenapa jadi mengata-ngatai aku sih?" kesal Aura.


"Sudah jangan banyak bicara," ucap Rendra lalu menarik tangan Aura.


Keduanya pun berjalan bergandengan. Tanpa Aura tahu, Rendra menahan senyumnya sejak ia berhasil menggenggam tangan itu.


*


*


Malam harinya, Evan pergi ke club untuk menemui Mami Lena, ia ingin menyewa Aura lagi. Meski bisa dilakukan lewat pesan, akan tetapi Evan memilih datang langsung sekaligus menghilangkan suntuknya, ia juga butuh hiburan.


"Aduh maaf sekali Tuan Evan, Aura sudah diperpanjang masa sewanya selama satu minggu lagi," jawab Mami Lena.


"Memangnya berapa yang laki-laki itu bayar mami? Biar aku yang menggantinya," tanya Evan.


"Bukan masalah itu Tuan Evan. Ah, pokoknya Aura sedang tidak bisa disewa. Kalau ingin menyewa wanita, Tuan Evan bisa menyewa wanita yang lain. Ada Sena dan Karin yang jadi andalan selain Aura," ucap Mami Lena menawarkan.


Evan malah pergi dari hadapan Mami Lena tanpa memikirkan dahulu tawaran Mami Lena. Evan pun duduk di salah satu kursi dan meminta satu gelas wine pada pelayan disana.


Karin yang orangnya memang selalu iri dengan Aura langsung penasaran dengan klien Aura yang memilih duduk sendirian padahal banyak sekali wanita bayaran disana.


"Aura kemana? Kenapa akhir-akhir ini aku tidak melihatnya?" tanya Karin pada Sena yang baru saja lewat.


"Aura disewa orang lah selama seminggu. Jadi dia tidak akan mungkin kesini karena orang itu meminta Aura untuk tidak disewa oleh orang lain selain laki-laki itu," jawab Sena.


Karin yang mendengar itu jadi kesal sendiri. Ia selalu membandingkan dirinya dengan Aura. Ia merasa dirinya lebih unggul dari Aura. Tapi kenapa? Kenapa Aura selalu mendapatkan pelayan yang lebih darinya?

__ADS_1


"Aku yakin jika disewa selama itu, pasti Aura sudah menyerahkan tubuhnya juga," ucap Karin dengan mudahnya.


"Aura bukan wanita seperti itu. Kau kalau benci dan iri jangan beraninya bicara di belakang! Bilang saja langsung di depan Aura!" kesal Sena yang selalu saja mendengar perkataan buruk tentang Aura padahal Aura tidak pernah bersikap buruk ada siapapun di club tersebut.


"Sudahlah, memang susah bicara dengan orang yang iri dan dengki. Bisanya hanya mencari-cari keburukan orang lain saja."


Setelah mengatakan itu, Sena pergi meninggalkan Karin dan melanjutkan pekerjaannya lagi.


"Huh!!" kesal Karin karena Sena selalu saja membela Aura.


Karin pun pergi ke ruangan Mami Lena dan langsung duduk di hadapan wanita itu.


"Mami, apa ada klien untukku?" tanya Karin.


"Belum ada Karin, hanya klien tadi pagi yang datang menginginkanmu. Itu pun untuk lusa dan artinya besok kau harus bekerja disini sebagai pelayan," jawab Mami Lena.


"Kenapa mami pilih kasih sekali padaku? Aura buktinya bisa tuh punya klien yang menyewanya seminggu? Sementara aku hanya disewa paling lama sehari," ucap Karin yang merasa iri.


Mami Lena menghela napas.


"Untuk klien Aura yang menyewanya selama seminggu dia bukan kenalan mami. Tapi Aura sendiri yang membawanya kesini. Jadi kau tidak perlu iri dan khawatir begitu. Lagian uangmu yang kau dapatkan dari klien lebih banyak daripada uang yang Aura dapatkan," ucap Mami Lena yang tidak ingin adanya perselisihan di antara anak-anaknya.


"Tapi, tetap saja mami, klien yang didapatkan Aura lebih banyak dariku," jawab Karin dengan sedikit kesal.


"Selama aura disewa oleh kliennya yang sekarang, Aura tidak bisa mendapatkan klien lain. Jadi, kalau kau mau, kau bisa merayu dan menjadikan klien lama Aura jadi klien mu. Itu kan daya tarik mu."


Ucapan Mami Lena seakan memberinya sedikit pencerahan. Karin pun berterimakasih dan pergi keluar dari ruangan Mami Lena dan memulai strateginya untuk merebut klien Aura satu per satu.


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2