Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 93 - Jangan berlarut dalam kesedihan


__ADS_3

Aura sudah diperbolehkan untuk dibawa pulang ke rumah. Tapi, tatapan Aura jadi kosong. Senyumnya yang biasanya terlihat, kini tidak ada. Bahkan celotehan suaranya pun tidak terdengar sama sekali.


Di perjalanan pun, Aura hanya terus diam dan melihat ke sisi jalan. Sesampainya di kediaman Kavindra pun, ia masih diam. Berjalan seperti tanpa arah dan tujuan.


Sesak sekali dada Rendra melihat sikap Aura yang berbeda itu. Kalau bisa digantikan, biar dia saja yang pergi jangan anaknya. Itulah isi pikiran Rendra.


"Istirahat dulu di kamar ya Au. Nanti kalau sudah waktunya makan malam, mama panggil kalian."


Aura hanya mengangguk lalu dituntun untuk masuk ke dalam kamar oleh Rendra.


Sesampainya di dalam kamar pun, Aura hanya duduk diam di tepi ranjang sambil melihat ke arah jendela. Ia membayangkan jika anaknya tidak meninggal. Mungkin kurang lebih 7 bulan lagi tangis bayi akan segera terdengar. Tapi, semuanya sirna sudah. Anaknya sudah meninggal dan menyisakan luka mendalam untuknya.


Aura meneteskan air matanya tanpa suara. Ia benar-benar terluka batinnya. Ia merasa gagal menjadi seorang ibu karena tidak bisa menjaga anaknya sendiri. Aura bahkan memukul-mukul perutnya yang sudah kosong itu.


"Jangan seperti ini sayang, aku tidak sanggup melihatmu dengan keadaan seperti ini. Tolong ikhlaskan anak kita untuk pergi. Biarkan dia tenang."


"Hiks ... hiks .... aku tidak pantas menjadi seorang ibu. Bahkan anak kita pergi sebelum aku bisa melihatnya, hiks ... hiks .... Aku tidak pantas juga untuk tetap menjadi istrimu. Mari kita berpisah. Dengan begitu kau akan menemukan istri dan ibu yang baik untuk anak-anakmu kelak."


Rendra menggeleng. Lalu memeluk Aura sambil bertumpu pada lututnya. Ia menenggelamkan wajahnya di perut Aura serta mendekap tubuh itu dengan eratnya. Seolah-olah memberikan penolakan akan apa yang telah diucapkan oleh Aura.


"Jangan bicara begitu, kau adalah istri dan ibu yang paling baik untukku dan anak-anakku kelak."


"Tidak Ren," sergah Aura kemudian mencoba melepaskan pelukan Rendra.


"Lepas Ren! Aku mau pergi."


"Tidak! Aku tidak mau kau pergi lagi!" tolak Rendra.


"Sudah tidak ada alasan lagi untuk aku bertahan di sisimu. Anak kita sudah meninggal. Rumah tangga kita sudah retak karena kebodohan kita berdua. Lalu apa yang harus dipertahankan?"


"Tidak, aku tidak mau berpisah denganmu. Kumohon Au. Masih ada cinta yang bisa kita pertahankan."


"Cinta?"


"Iya, cinta. Cinta yang bisa membuat kita seperti dulu lagi. Kita bisa membuat anak lagi untuk menggantikan kesedihanmu ini. Kumohon Au."


Aura terdiam. Ia seperti sedang memikirkan apa yang diucapkan oleh Rendra.

__ADS_1


Cinta?


Rendra akhirnya lega ketika Aura tak lagi memukul-mukul perutnya sendiri dan tak histeris lagi. Aura bahkan mau berbaring di kasur dengan diselimuti olehnya.


Setelah itu, Rendra keluar dari kamar dengar air mata yang tadi ia tahan tapi kini lolos juga. Kesedihan yang Aura rasakan, ia juga bisa merasakannya.


Rupanya Naya ada di depan kamar Rendra dan langsung memeluk anaknya.


"Yang tegar ya nak. Aura pasti akan kembali seperti biasanya. Kau hanya harus bersabar dan selalu ada di sisinya supaya Aura tidak merasa sendirian di kala kehilangannya itu."


Rendra mengangguk.


"Maafkan mama juga, mama tidak bisa menjaga istrimu ketika ditendang oleh penjahat itu, kejadian begitu cepat."


Rendra mengangguk lagi. Rendra tidak mau menyalahkan siapapun akan hal itu. Ia hanya ingin Aura kembali seperti dulu.


*


*


Bahkan tulang selangka yang ada di bahunya pun semakin terlihat sekarang. Aura masih terjebak dalam pikirannya sendiri.


Naya hanya bisa menghela napas melihat keadaan Aura. Ia bahkan selalu keluar dari kamar Rendra dengan tangisan.


"Pa, gimana ini? Jika Aura tetap begini, bisa-bisa dia sakit. Aku sedih sekali melihatnya," ucap Naya menumpahkan isi hatinya ke pelukan Richard.


Richard hanya terdiam dan mengelus puncak kepala istrinya. Ia tidak tahu haus menanggapi seperti apa curhatan istrinya itu.


Hingga tak lama, Alin pun datang ke rumah itu. Ia ingin bicara dan mencoba membuat kakaknya mau makan lagi.


"Semoga dengan kedatanganmu. Kakakmu bisa mau makan dan keluar kamar lagi Lin."


Alin mengangguk. Ia berjalan masuk ke dalam kamar kakaknya.


Sakit, sesak di dalam dadanya. Itulah yang Alin rasakan. Kakaknya tidak sama lagi seperti dulu. Alin mulai duduk di samping kakaknya dan meraih tangan kakaknya itu.


"Kak," panggil Alin dengan suara yang menahan sebuah tangisan.

__ADS_1


"Aku tahu kakak pasti sangat terluka karena kehilangan anak kakak. Aku juga tahu kakak pasti seperti tidak memiliki semangat lagi untuk hidup sampai tidak mau makan dan minum. Tapi, kakak juga harus ingat. Kita pernah mengalami ini sebelumnya. Mengalami sebuah kehilangan yang menyakitkan. Kehilangan seorang ibu yang selalu melindungi dan menyayangi kita."


Alin mengehentikan bicaranya dan menarik napas pelan-pelan lalu melanjutkannya kembali.


"Kakak ingat kan? Dulu kakak sendiri yang bilang padaku. Jangan berlarut pada kesedihan. Nanti ibu akan merasakan sedih di surga sana. Jadi, sekarang aku akan mengatakan hal yang sama pada kakak. Jangan berlarut dalam kesedihan kak. Ikhlaskan semuanya. Supaya anak kakak bahagia disana bisa melihat ibunya ceria kembali dan menata hidupnya lagi. Aku ingin melihat kakakku yang dulu. Yang selalu tegar ketika menghadapi masalah. Lagipula kakak bisa mendapatkan anak lagi setelah ini. Karena rahim kakak baik-baik saja."


Seketika Aura langsung menangis dan memeluk adiknya. Ia sadar akan apa yang sudah dialaminya. Mendiamkan semua orang karena terlukanya dirinya. Ia menjadi orang asing bagi dirinya sendiri. Bahkan ia tidak sadar, bukan hanya dirinya saja yang kehilangan tapi Rendra juga. Seharusnya mereka saling menguatkan.


"Hiks ... hiks ... "


"Keluarkan semuanya Kak. Jangan dipendam."


Aura benar-benar menangis sepuasnya di pelukan Alin. Bersama adiknya ia bisa lebih terbuka. Hingga pada akhirnya tangis Aura pun berhenti.


"Mulai sekarang kakak harus kembali ceria lagi. Jangan pikirkan apapun dulu yang membuat kakak bersedih. Ingat! Kakak masih memiliki orang yang selalu ada bersama kakak di saat sedih maupun senang. Kakak tidak sendiri, jadi jangan begini lagi. Kakak membuat semua orang khawatir."


Aura mengangguk. Adiknya terlihat sudah dewasa sekarang. Ia bahkan bisa menenangkan Aura dan membuat Aura membuka mata hatinya lebar-lebar.


Alin pun keluar dari sana dan di depan pintu sudah ada Naya dan Rendra.


"Gimana Lin?" tanya Rendra.


"Masuklah kak, Kak Aura ingin bicara dengan kakak."


Bukannya menjawab, Alin malah menyuruh Rendra untuk masuk.


"Kakak akan tahu sendiri keadaannya jika masuk ke dalam."


Rendra pun masuk saja ke dalam kamarnya.


Alin dan Naya langsung berbicara mengenai Aura di ruang tamu.


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2