
Di perjalanan, ketika melihat pedagang cilok, tiba-tiba Aura ingin memakannya. Ia pun meminta si supir taksi untuk berhenti membuat Sena sedikit keheranan.
Aura keluar dari mobil dan langsung membeli cilok. Saat itu juga Sena sadar kalau Aura sedang mengidam.
Haruskah aku beritahu Rendra saja? Rasanya aku tidak tega sekali.
Aura bahkan belum menceritakan dengan jelas apa masalahnya. Aura hanya tahu Rendra dan Aura bertengkar.
Setelah membeli cilok, Aura masuk kembali ke dalam mobil dan memakannya dengan lahap. Sena bahkan sampai geleng-geleng kepala melihatnya.
"Enak?" tanya Sena.
Aura mengangguk antusias.
"Untung kau mengidam nya cilok yang di tepi jalan, bagaimana kalau kau mengidam ciloknya yang dibuat oleh tangan Rendra sendiri? Pasti kewalahan itu si Rendra."
Aura jadi terdiam. Ia jadi memikirkan. Bagaimana jika tengah malam nanti ia mengidam yang aneh-aneh.
Ya Tuhan! Apa aku pulang ke rumah saja ya? Tapi aku takut, aku takut Rendra malah mengira anak yang aku kandung adalah anak milik orang lain. Aku belum siap, mendapatkan hinaan baru lagi.
Mereka berdua pun akhirnya sampai di rumah Sena. Aura duduk di kursi sambil terus menatap keluar jendela. Dunianya terasa hampa. Tak ada Rendra yang rusuh dan selalu manja padanya.
"Kurasa lebih baik kau pulang saja Au. Ayo aku antar."
Aura menggeleng.
"Aku akan pulang, tapi tidak untuk sekarang."
"Hm, baiklah."
*
*
Siang harinya, Meira dikejutkan dengan kedatangan Naya ke tempatnya bekerja. Naya bahkan meminta izin untuk mengobrol lama dengan Meira.
Keduanya kini duduk di ruangan VIP tertutup.
"Mei, mama hanya ingin memastikan satu hal. Apa pria yang ada di foto ini adalah pria yang dulu juga?" tanya Naya sambil memperlihatkan wajah laki-laki yang bersama dengan wanita yang dikenalinya.
Deg!
Meira terkejut.
"Kenapa ada foto itu di mama? Padahal waktu itu aku sudah meminta Aura untuk berhati-hati."
"Jadi kau kenal Aura?" tanya Naya.
"Ia, dia pelanggan di kafe ini. Waktu itu aku melihatnya diikuti oleh orang yang merusak rumah tanggaku. Makanya aku langsung meminta dia untuk hati-hati. Karena rumah tangganya juga akan dihancurkan. Aku tidak sengaja mendengar laki-laki di dalam foto berbicara dengan laki-laki di ruangan VIP."
__ADS_1
Naya dibuat terkejut lagi.
"Apa kau melihat orang yang diajak bicaranya itu?"
Meira menggeleng.
"Aku hanya dengar suaranya saja ma."
"Mei, asal kau tahu, wanita ini adalah istrinya Rendra."
Meira terkejut. Itu artinya orang tersebut memang mengincar keluarga Kavindra.
"Dan sekarang, rumah tangga Rendra sedang berantakan. Aura pergi dari rumah, dan Rendra belum kembali dari pencariannya. Untungnya Rendra segera sadar dari tingkah bodohnya, jadi dia tidak mengambil keputusan bodoh seperti Elnan. Kalau nanti Aura datang kesini, katakan semuanya pada Aura. Mama mohon ya. Mungkin Aura ingin sendiri dulu sekarang untuk menjernihkan pikirannya."
"Iya ma, nanti aku akan menyampaikannya ke Aura."
*
*
Hari demi hari pun berlalu. Rendra sudah seperti mayat hidup saja. Ia bahkan menolak untuk makan. Naya sampai kewalahan menghadapi sikap anaknya.
"Makan ya Ren. Nanti Aura pasti ketemu."
Rendra menggeleng.
"Huh!"
"Kalau kau tidak makan? Dari mana tenaga itu muncul? Kau kan masih harus mencari Aura. Cepat makan!"
Kini Naya menggunakan nada tingginya pada Rendra. Dan ya, berhasil. Rendra akhirnya mau makan meski hanya 2 suap saja.
"Sudah kenyang ma."
Naya mengangguk. Ia pun kembali ke dapur untuk mengantarkan sisa makanan Rendra. Ia hanya bisa tenang dan sabar untuk membuatkan Rendra juga.
Kau dimana nak? Rendra sangat-sangat menyedihkan sekarang.
Elnan yang sudah beberapa hari tidak pulang ke rumah pun, akhirnya pulang. Ia merasa sedikit heran dengan adiknya yang terlihat menyedihkan.
Mau bertanya pun, Elnan enggan. Alhasil ia hanya bisa bertanya pada sang mama.
Naya pun menjelaskan semuanya. Tentang rumah tangga Rendra yang di ujung tanduk. Juga tentang kejanggalan yang terjadi di dalamnya.
Semoga kau sadar nak. Kalau rusaknya rumah tanggamu dulu juga ada kejanggalan. Mama hanya ingin kau bahagia bersama Meira.
Elnan terkejut mendengarnya. Ia jadi berpikir keras karenanya. Apalagi ketika sang mama memberikan foto Aura dan seorang laki-laki. Laki-laki yang tidak asing di matanya.
Hah?
__ADS_1
Elnan jadi terkejut lagi. Laki-laki itu adalah orang yang sama dengan yang bersama Meira dulu.
Apa jangan-jangan aku juga dijebak seperti Rendra dulu? Oh Tuhan! Aku harus bertemu Meira sekarang juga.
"Ma aku pergi dulu," pamit Elnan lalu mencium tangan Naya.
"El, mau kemana?" tanya Naya
Elnan tidak menjawab pertanyaan Naya karena memang ia hanya mendengar sayup-sayup kecil suara Naya.
Elnan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Yang ada di pikirannya saat ini adalah Meira, dan fakta yang sebenarnya.
Sesampainya di panti asuhan, Elnan berlari masuk ke dalam dan terus memanggil-manggil nama Meira.
"Ada apa El? Kenapa tergesa-gesa sekali? Meira sedang mandi," ucap ibu panti.
"Tolong jika Meira sudah selesai mandi, suruh dia bertemu aku di taman panti ya Bu."
Ibu panti mengangguk.
Elnan pun berjalan ke taman panti. Penerangan disana masih sangat minim sekali. Tapi, udaranya sangatlah enak. Angin malam menembus pakaian yang Elnan kenakan. Ia menunggu kehadiran Elnan sambil duduk di kursi yang ada di bawah pohon.
Tak lama kemudian, Meira pun datang dengan rambut yang masih basah karena habis keramas. Ia langsung duduk di samping Elnan.
"Ada apa? Kenapa mencari ku?" tanya Meira.
Elnan belum menjawab, ia hanya memandangi wajah Meira yang tidak pernah berubah. Selalu teduh dan menenangkan. Bahkan malam ini terlihat sangatlah cantik di mata Elnan.
"Maafkan aku," ucap Elnan sambil menunduk.
Meira terkejut mendengarnya, tapi ia berusaha untuk tidak menunjukkannya.
"Kenapa meminta maaf? Kau kan tidak punya salah padaku."
Elnan terdiam lagi, lalu tangannya meraih tangan Meira. Menggenggamnya begitu erat seolah tak ingin ia lepas lagi.
"Kepalaku sudah dingin, bisa kau ceritakan semua yang terjadi di masa lalu padaku? Aku tersadar, ketika melihat Rendra yang menyedihkan sekarang. Aku juga jadi berpikir bahwa, mungkin saja apa yang aku alami dulu juga sama seperti Rendra yang dijebak. Karena wajah laki-laki yang ada bersama Aura sama dengan wajah laki-laki yang dulu bersamamu."
Mendengar perkataan Elnan saat ini, Meira sedikit senang.
"Benar ingin dengar semuanya? Kau tidak akan menyesal?" tanya Meira memastikan.
"Iya, aku ingin mendengar semuanya. Aku sudah siap Mei."
"Baiklah."
Sebelum bercerita, Meira menarik napasnya dulu. Karena ini akan jadi cerita yang panjang.
*
__ADS_1
*
TBC