Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 88 - Mengetahui lokasi Rico


__ADS_3

Di lain tempat, Richard dan Nicolas sudah sampai di lokasi Rico. Benar apa yang dikatakan Nicolas, sangat sulit untuk bertemu dengan Rico. Rumahnya saja dijaga ketat oleh penjaga yang bertubuh kekar.


Keduanya hanya bisa berdiam diri di dalam mobil sekarang.


"Apa aku bilang, susah kan bertemu dengan Rico? Aku bahkan tidak menyangka Rico akan jadi kaya raya lagi. Padahal semua hartanya dulu sudah beralih ke tangan orang lain."


"Bisa saja, kalau dia melakukan usaha yang ilegal," ucap Richard seolah menebak jenis usaha yang dilakukan oleh Rico. Pasalnya, ia tidak mendengar berita apapun tentang Rico. Jika dia berusaha yang legal, tentunya nama Rico akan ia kenali.


Ucapan Richard itu disetujui oleh Nicolas.


"Sepertinya kau benar. Lalu ini kita mau gimana? Mau tetap masuk? Tapi sepertinya itu sulit. Bisa-bisa kita langsung mati di tempat sebelum bertemu dengan Rico."


"Kita pergi saja dulu. Yang penting lokasinya sudah ditemukan dan kita tahu bagaimana situasinya. Mungkin sebelum bergerak, kita harus menyusun rencana terlebih dahulu."


"Oke, baiklah," jawab Nicolas.


Richard pun menjalankan mobilnya menjauh dari sana.


*


*


Rendra menelpon no si 'Bos' dari ponsel Jack. Ia ingin tahu siapa sebenarnya bos si Jack ini.


"Halo Jack, ada apa menelpon ku? Makananmu sudah dikirim oleh bawahanku kan?" ucap si Bos.


Rendra tersenyum menyeringai. Ia merekam ucapan bos dari si Jack untuk diperdengarkan ke papanya. Ia ingin memastikan apa benar suara orang ini adalah musuh papanya yang dulu atau bukan.


Setelahnya, Rendra menutup panggilan itu. Rendra memerintahkan bawahannya untuk membawa Jack dan anak buah dari si Bos Jack yang sudah dilumpuhkan itu ke gudang kosong.


Karena itu lah, Rico tidak tahu jika Jack dan anak buahnya sudah ditangkap oleh Rendra dan bawahannya. Karena Rendra sudah melumpuhkan anak buah Rico terlebih dahulu sebelum menangkap si Jack.


Setelah berhasil dibawa pergi oleh bawahan Rendra, Rendra kembali ke rumah dan Elnan kembali ke perusahaan.


"Maa, mama! Papa ada dimana?!" teriak Rendra ketika masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Astaga! Kau ini sudah seperti Ela saja. Papamu masih di luar, tadi sih bilangnya mau pergi sama om Nico. Tapi, mama tidak tahu mereka berdua mau pergi kemana. Tunggu saja di rumah, mungkin sebentar lagi akan kembali."


"Oke ma."


Rendra pun menunggu di rumah, tepatnya di ruang keluarga, sambil merebahkan tubuhnya di kasur lantai.


Tak lama kemudian, terdengar suara mobil masuk ke halaman rumah. Rendra bisa pastikan jika yang datang adalah papanya.


Benar saja tebakannya Rendra mengintip dari jendela. Ia kemudian keluar dari ruang keluarga untuk bertemu dengan papanya.


Papanya tidak sendiri, ia bersama dengan om Nicolas.


"Ada apa Ren? Kau sudah bertemu dengan si bajingan itu? Sudah meringkusnya hingga tak berdaya?" tanya Richard kemudian duduk di sofa.


Nicolas pun ikut duduk, Rendra juga.


"Aku tidak membuatnya hingga tak berdaya. Hanya memberikan beberapa pukulan dan tamparan saja," jawab Rendra.


Kemudian Rendra menyetel rekaman suara bos dari Jack.


"Aku sengaja merekamnya saat tadi menelpon si Bos dari ponsel Jack. Apa suara orang itu adalah suara dari orang yang papa kenali?"


Richard mengangguk.


"Dia adalah musuh papa dulu. Bahkan papa dan om Nico baru saja dari tempat laki-laki itu. Tapi kita hanya bisa melihat rumahnya dari kejauhan karena dijaga dengan sangat ketat oleh pria bertubuh kekar," jawab Richard.


"Papa ingin membuat rencana dulu sebelum menyerbu rumah Rico. Papa juga yakin dia melakukan bisnis ilegal. Papa ingin membongkarnya dan membuat dia benar-benar jera," tambah Richard lagi sambil mengepalkan tangannya.


"Maaf, karena masa lalu papa, kau dan Elnan malah jadi korbannya."


Kali ini Richard mengucapkan kata maaf pada Rendra. Ia tidak menyangka masa lalunya akan membuat anak-anaknya menderita.


"Tidak, ini bukan salah papa. Salah dia. Aku akan membantu papa untuk menyusun rencananya. Aku tidak rela kalau dia terus mengganggu kehidupan kita. Bahkan kita sampai tidak sadar terus diawasi olehnya."


"Oke, nanti malam kita bertemu di ruang kerja papa. Kita bahas semuanya."

__ADS_1


Rendra mengangguk.


"Aku, aku bagaimana? Apa aku harus ikut juga?" tanya Nicolas dengan polosnya.


Richard langsung menatap tajam ke arah Nicolas.


"Oke, oke baik. Nanti malam aku akan kesini juga bersama Ansel."


Dibalas satu jempol oleh Richard. Nicolas hanya menghela napasnya.


*


*


Setelah menginap di rumah Sena berhari-hari, Aura baru mengatakan masalahnya yang sebenarnya ada Sena setelah pulang dari apartemen Rendra. Sena hanya bisa mengelus punggung Aura dan mendukung keputusan apapun yang akan Aura pilih.


"Pasti sakit sekali ya Au? Aku bahkan ingin sekali menampar wajar Rendra jika kau izinkan. Mulutnya sungguh kejam! Bilangnya cinta, tapi nyatanya... Huh! Jadi kesal kan aku jadinya."


"Sekarang sih aku sudah lebih baik. Tapi memang kata-katanya benar-benar tidak bisa aku lupakan. Begitu menusuk dan menancap sampai ketika dicabut pun masih terasa sakitnya. Apa jika aku tetap melanjutkan hubungan ini Rendra akan benar-benar berubah? Tapi, jika aku berpisah dengannya banyak sekali yang akan tersakiti, termasuk anakku sendiri nantinya, huh!"


"Pikirkan saja baik-baik. Ini semua juga ada campur tangan orang luar kan? Saranku, kau jangan pulang ke apartemen dulu sebelum pelakunya ditemukan. Aku takut, kau akan mengalami hal yang lebih buruk."


Aura mengangguk. Memang yang sekarang Aura pikirkan adalah bayi di dalam kandungannya. Itu lebih penting daripada apapun baginya.


"Bagaimana hubunganmu dengan Ansel?" tanya Aura tiba-tiba.


"Entahlah, sepertinya apa yang dikatakan Ansel waktu itu hanya candaan semata. Buktinya sampai sekarang tak ada lagi omongan itu dari mulutnya. Bahkan aku juga sudah jarang bertemu dengannya. Aku sudah tidak peduli lagi."


Aura hanya menepuk pundak Sena memberikan semangat. Ia tahu Sena merasa sedih dan kecewa tapi menyembunyikan itu darinya. Lain di mulut dan lain di hati.


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2