Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 28 - Arisan


__ADS_3

Hari pertama bertemu mamanya Rendra, semuanya berjalan dengan lancar bagaikan air yang mengalir begitu saja. Aura tidak menyangka akan senyaman dan seasik itu mengobrol dengan mamanya Rendra. Bahkan mamanya Rendra tidak menanyakan tentang siapa dirinya, apa pekerjaannya atau hal lainnya yang berhubungan dengan dirinya. Mamanya Rendra hanya menanyakan tentang perasaan Aura pada Rendra dan bagaimana pertemuan dirinya dan Rendra serta perbincangan lain.


Di perjalanan menuju ke rumah Aura, Rendra menanyakan tentang apa saja yang Aura bicarakan dengan mamanya ketika ia meninggalkan mereka berdua.


"Apa saja yang kalian bicarakan tadi?" tanya Rendra.


"Banyak," jawab Aura.


"Mamaku tidak curiga akan sesuatu kan?" tanya Rendra yang takut sandiwara mereka terbongkar.


Aura menggeleng.


"Baguslah, berarti kau bekerja dengan baik," ucap Rendra.


Seketika Aura sadar akan sesuatu. Iya dia bersikap baik di hadapan mamanya Rendra karena dipekerjakan. Ia tidak boleh mengharapkan lebih. Tapi, sikap mamanya Rendra tadi mengingatkan dirinya akan ibunya yang selalu ia rindukan.


Aura hanya membalasnya dengan senyuman.


Tiba-tiba Aura bersuara lagi.


"Tadi mamamu memintaku untuk datang lagi ke rumah. Katanya besok ada arisan di rumahmu dan dia ingin memperkenalkan aku sebagai kekasihmu di hadapan teman-temannya. Aku tidak langsung menjawabnya tadi karena aku harus meminta persetujuan mu dulu," jelas Aura.


"Datang saja, karena itu permintaan mama aku pun tidak berani melarangnya. Besok aku akan menjemputmu," jawab Rendra.


Aura mengangguk dan memalingkan wajahnya ke kaca mobil. Ia merasa hari ini seperti mimpi. Dimana ia merasa dihargai dan dianggap kehadirannya meski itu di atas kebohongan belaka.


Mobil Rendra pun berhenti, itu artinya mereka sudah sampai di depan rumah Aura.


"Terima kasih sudah mengantar," ucap Aura.


Rendra hanya diam dan melihat Aura lalu melajukan mobilnya menjauh dari sana.


Sesampainya di rumah, Rendra dikejutkan dengan kehadiran Ela yang tiba-tiba saja ada di hadapannya dengan tatapan yang mengerikan.


"Minggir!"


Rendra meminta Ela untuk menyingkir dari hadapannya.


"Tidak mau!" jawab Ela yang kekeh tidak mau pergi.


"Haish! Maumu itu apa sih La?" tanya Rendra yang tidak mau berdebat dengan kembarannya.


"Cepat katakan siapa kekasih barumu itu?" tanya Ela dengan suara yang sedikit keras.

__ADS_1


"Tanyakan saja pada mama. Aku masih ada hal yang perlu dilakukan. Jadi, lebih baik menyingkir sekarang daripada aku menggendong mu dan menjatuhkan mu ke kolam renang!" ancam Rendra yang kesal. Awalnya ia mengira ada hal penting yang benar-benar Ela tanyakan rupanya hanya ingin tau tentang siapa kekasihnya.


Ela yang mendengar ancaman tersebut pun, menyingkir dengan terpaksa karena melihat aura Rendra yang ingin segera menceburkan dirinya ke kolam renang.


Rendra pun langsung berjalan tanpa menengok lagi ke belakang.


"Huh! Wanita mana lagi yang mau berpacaran dengan laki-laki yang kaku, kejam dan tidak punya hati seperti dirimu, Rendra?" ucap Ela sambil melihat kepergian Rendra.


Karena saking penasarannya, Ela pun akhirnya menemui mamanya yang sedang memasak untuk makan malam..


"Mama!" teriak Ela memanggil mamanya.


"Ya ampun sayang, tidak usah berteriak begitu! Usiamu itu sudah dewasa tapi tingkahmu masih saja seperti anak remaja. Heran mama," ucap Naya.


"Hehe."


Ela terkekeh pelan. Lalu membantu mamanya memotong sayuran. Walau tidak sepintar mamanya dalam hal memasak, tapi Ela sedikit tahu tentang cara memasak.


"Mama, siapa nama kekasih Rendra?" tanya Ela yang tidak suka berbasa-basi.


"Aura, namanya Aura," jawab Naya.


"Aura?" ucap Ela seakan pernah mendengar nama itu. Padahal pada kenyataannya memang Ela pernah mendengar nama itu, atau mungkin saja ia lupa, atau ia tidak mengira jika Aura yang adalah wanita yang ia temui di resort Rendra waktu itu adalah kekasih Rendra.


"Namanya tidak asing di telingaku ma," tambah Ela lagi.


"Orangnya seperti apa ma?" tanya Ela lagi.


"Cantik, baik dan lemah lembut," jawab Naya lagi.


Cantik, baik, dan lemah lembut? Kasihan sekali kalau harus disandingkan dengan Rendra yang berkarakter dingin, menyebalkan dan suka bikin orang kesal.


"Mama setuju dengan pilihan Rendra?" tanya Ela lagi.


"Ya kenapa juga mama harus tidak setuju? Siapa pun yang kalian kenalkan ke mama, mama sih setuju-setuju saja asalkan orang itu mencintai dengan tulus anak-anak mama dan mau bertanggungjawab. Toh, untuk urusan yang lainnya kalian sendiri yang menjalaninya. Mama tidak mau memaksakan kehendak mama pada kalian. Dengan kalian memilih sendiri pasangan kalian, jika suatu hari nanti hubungan tersebut berakhir, kalian bisa belajar dari pengalaman. Jika mama yang memilihkan pasti kalian akan menyalahkan mama," jelas Naya.


Ela pun hanya mengangguk-angguk memahami ucapan sang mama.


"Lalu kapan kau membawa calon menantu untuk mama?" tanya Naya yang membuat Ela terdiam.


Ih, mama bikin kesal saja. Kalau sudah ada mah pasti aku kenalkan. Tapi, ini hilalnya saja belum terlihat.


*

__ADS_1


*


Keesokan harinya, Aura benar-benar dijemput oleh Rendra untuk pergi ke rumahnya. Namun, Rendra tidak bisa menemani Aura karena ia harus mengurusi pekerjaannya di kantor.


Aura kini sedang berada di dapur menyiapkan makanan untuk dihidangkan di acara arisan mamanya Rendra. Walau sebenarnya Naya melarang Aura untuk membantunya akan tetapi Aura tetap kekeh ingin membantu.


"Tante jadi tidak enak denganmu. Tante mengajakmu untuk ikut arisan kan untuk menemani Tante bukan untuk ikut membantu menyiapkan semuanya," ucap Naya.


"Tidak apa-apa Tante. Lagipula aku juga tidak bisa kalau cuma berdiam diri saja. Rasanya aneh dan juga Tante terlihat kerepotan dengan semuanya."


Naya tersenyum, ia bisa melihat ketulusan di dalam hati Aura.


"Ngomong-ngomong apa di rumah ini tidak ada pembantu Tante?" tanya Aura yang tidak melihat Naya melakukan semuanya sendirian.


"Ada, tapi dia sedang cuti karena keluarganya sakit. Pembantu disini hanya bekerja untuk membersihkan rumah saja, untuk urusan dapur biasanya Tante sendiri yang mengurusnya."


Aura kagum dan terkesan dengan sikap mamanya Rendra. Walaupun keluarga mereka kaya, tapi mereka masih mau melakukan semuanya sendiri tanpa meminta bantuan dari orang lain.


Tiba-tiba terdengar suara orang-orang di luar rumah.


"Biar aku saja yang membuka pintunya Tante," ucap Aura ketika melihat Naya yang sedikit kerepotan oleh adonan tepungnya.


Aura pun pergi ke depan dan membukakan pintu rumah untuk teman-teman arisan mamanya Rendra.


"Eh," ucap salah satu dari mereka yang terkejut melihat orang yang tak pernah dilihatnya ada di rumah Naya.


"Silahkan masuk Tante, Tante Naya sudah menunggu kedatangan kalian," ucap Aura.


Mereka pun masuk ke dalam rumah dengan pertanyaan-pertanyaan tentang siapa wanita yang membukakan pintu untuk mereka. Karena yang mereka tahu, Naya hanya memiliki satu anak perempuan, dan mereka pun sudah tahu wajahnya dan sudah mengenal anak perempuannya Naya itu. Selain itu, tidak ada lagi wanita muda yang tinggal disana, karena Elnan yang sudah bercerai, dan Rendra yang masih belum memiliki pasangan.


"Silahkan duduk Tante," ucap Aura kemudian pamit ke dapur untuk membantu Naya lagi.


"Terima kasih ya Au, Tante jadi terus-terusan merepotkan mu."


"Tidak Tante," ucap Aura yang tidak merasa direpotkan.


"Apa minuman itu untuk teman-teman Tante?" tanya Aura.


"Iya," jawab Naya.


"Biar aku yang membawanya ke depan Tante," ucap Naya menawarkan diri. Ia pun membawa nampan yang berisi minuman itu dengan hati-hati ke ruang tamu diikuti oleh Naya yang membawa cemilan dan makanan ringan lainnya.


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2