
Waktu berlalu dengan cepat. Persalinan pun akan segera dilaksanakan. Rendra jadi gugup, khawatir juga takut. Karena sebelum menghadapi ini semua, Rendra sudah lebih dulu mencari-cari informasi tentang persalinan.
Ada berbagai informasi yang ia dapatkan. Salah satunya seorang ibu yang meninggal usai persalinan. Memikirkan hal itu, Rendra jadi takut. Ada juga informasi tentang bayi yang keluar langsung meninggal, hal itu juga membaut Rendra takut. Meski dokter mengatakan janin di dalam tubuh istrinya sehat dan baik-baik saja. Tetapi Rendra tidak bisa menghilangkan ketakutan itu. Sampai-sampai Richard menepuk bahu anaknya.
"Sana masuk ke dalam, temani istrimu. Dia pasti membutuhkanmu untuk mendampinginya."
"Tapi, pa ... "
"Tidak ada tapi-tapian, cepat masuk ke dalam, supaya kau tahu seberapa besar perjuangan seorang ibu untuk melahirkan anaknya."
"Aku takut pa," ucap Rendra.
"Kau saja yang tidak melahirkan takut, apalagi yang melahirkan? Makanya Aura itu butuh dukungan. Cepat sana masuk!"
Richard terus mendorong Rendra untuk masuk ke dalam ruang bersalin. Ia tahu ketakutan anaknya itu. Tapi, yang lebih penting sekarang adalah Aura dan calon bayinya.
Setelah menunggu beberapa jam di luar, kini sudah terdengar suara tangisan bayi yang begitu nyaring. Naya menangis terharu sementara Richard tersenyum karena cucunya bertambah. Setelah mendapatkan cucu laki-laki juga dari Elnan.
"Cucu kita sudah lahir pa."
"Iya sayang. Sebentar lagi kita kan direpotkan dua bayi di rumah."
Plak!
Sebuah pukulan melayang ke tangan Richard, meski tanpa tenaga.
"Jangan bilang gitu. Mereka cucu kita, jangan bilang merepotkan."
"Iya, iya, sayang."
Setelah beberapa waktu menunggu, Richard dan Naya pun sudah boleh masuk ke dalam ruangan dan melihat bayi yang baru melihat dunia itu.
Rendra tak henti-hentinya menangis. Ia masih tidak menyangka dirinya bisa membuat bayi selucu dan segelas ini. Aura bahkan dibuat terkekeh terus sejak saat persalinan tadi. Karena tingkah suaminya yang overprotektif jadi membuat dirinya nyaman dan tidak terlalu tegang ketika melahirkan anaknya.
"Sudah punya anak masih cengeng saja. Malu tuh sama anak sendiri yang diam begitu," ledek Richard pada Rendra.
Rendra tak menanggapi ucapan papanya. Ia masih menangis. Apalagi mengingat ketika persalinan tadi Aura mempertaruhkan hidup dan matinya untuk sang anak.
"Sayang, pokoknya aku tidak mau punya anak lagi. Satu saja sudah cukup. Aku tidak mau melihatmu kesakitan seperti tadi," ucapnya.
Aura hanya mengiyakan saja supaya Rendra tak menangis lagi. Ia bisa merasakan ketakutan Rendra yang begitu mendalam.
__ADS_1
"Sini, ayo pegang anak kita. Pipinya gembul lho," ucap Aura.
Rendra pun berjalan mendekati ranjang Aura. Ia melihat dengan seksama wajah anaknya yang tertidur di pangkuan Aura. Tangisnya berubah jadi sebuah senyuman bahagia.
"Anak ganteng, kalau sudah besar jangan nakal ya. Mamamu sampai bertaruh nyawa untuk melahirkan mu," ucap Rendra lalu mengecup kening anaknya.
Richard hanya bisa mendengus sebal. Perasaan dia dulu juga mengatakan hal seperti itu pada kedua anak kembarnya. Tapi kenapa dua-duanya sama-sama nakal? Yang satu nakal karena sikapnya, yang satunya lagi nakal karena susah dibilangin.
Huh!
Richard hanya bisa menghela napasnya saja. Berharap sang cucu tidak akan seperti anaknya.
"Selamat ya sayang, kau sudah menjadi seorang ibu sekarang."
"Terima kasih ma. Mohon bimbingannya untuk ke depan. Aku masih awam soal mengurus anak."
"Iya, tenang saja. Lama-lama kau juga terbiasa, kalau mengurus anak itu tidak ada habisnya untuk belajar."
Aura mengangguk.
"Mama cuma mau sampaikan salam dan maaf dari Elnan dan Meira, mereka tidak bisa hadir karena bayinya rewel."
Perbincangan pun selesai sampai disana.
*
*
Beberapa hari kemudian, Aura sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah karena keadaannya sudah stabil.
Di rumah, kehadiran sang bayi disambut dengan meriah oleh seluruh anggota keluarga. Ada juga tulisan yang menghiasi dinding di rumah itu.
'Welcome home baby Reynard Devian Kavindra'
Aura tersenyum senang sambil menggendong bayinya.
Semua anggota keluarga bercengkrama disana. Kebahagiaan terpancarkan dari setiap raut wajah orang yang ada disana.
"Lihatlah sayang, kau disambut dengan bahagia oleh orang di sekitarmu," ucap Aura sambil menyentuh pipi gembul anaknya.
Rendra pun merangkul pundak Aura dan tersenyum manis pada istrinya itu.
__ADS_1
Kehadiran Aura di dalam hidupnya memberikan warna di setiap momennya. Baik itu, sedih, senang, pokoknya semuanya bercampur menjadi satu.
Rendra jadi bisa merasakan semua rasa itu berkat sentuhan cinta dari Aura yang sebelumnya tak pernah mengenal apa itu cinta yang sebenarnya.
Cinta bukan hanya sekedar ungkapan atau kata-kata. Tapi, meski begitu, untuk memperjelas semuanya cinta memang harus dikatakan.
Rendra memandangi semua anggota keluarganya satu persatu.
Elnan, kakaknya yang susah move on kini sudah kembali rujuk dengan mantan istrinya dan menghadirkan seorang bayi laki-laki bernama Ezra Marvolo Kavindra.
Papanya yang terlihat tidak peduli, padahal selalu memperdulikan anaknya dalam diamnya.
Sang mama yang selalu mengkhawatirkan apapun menyangkut anak-anaknya.
Meira, kakak iparnya yang dulu ia benci karena telah mengkhianati kakaknya. Kini ia sayangi.
Lalu wanita di sampingnya yang akan terus menemaninya hingga hari tua.
Rendra mengecup kening istrinya dengan sayang.
Tak lupa, ada bayi laki-laki mungil yang akan menemani dirinya untuk menjaga istrinya kelak.
Semua terasa sangat membahagiakan bagi Rendra. Ia berharap kebahagian ini bukanlah akhirnya.
TAMAT
*
*
Terima kasih, karena kalian sudah mengikuti jalannya cerita ini dari awal hingga akhir. Aku sangat terharu sekali.
Yang menanyakan bagaimana kisah cinta Ela, kalian bisa langsung cek di profilku.
Cerita Ela dan tambatan hatinya sudah di up beberapa bab judulnya Cinta Sang Aktor.
Ada juga cerita lain yaitu Terjebak Cinta Jorell, silahkan mampir.
__ADS_1