Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 42 - Di antara dua pilihan


__ADS_3

Hari telah berganti, Rendra sudah bersiap dengan kaos hitam polosnya yang ditutupi dengan blazer berwarna moca. Sangat cocok sekali dengan tone kulit Rendra. Tak lupa, ia juga menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya.


Ketika akan pergi ke luar rumah, Ela melihatnya dengan begitu banyak rasa penasaran di kepalanya. Padahal hari ini adalah hari libur tapi kenapa Rendra malah rapi sekali? Seperti akan kencan. Belum juga dengan minyak wanginya yang overdosis.


Deg!


Kencan?


Sedetik kemudian, Ela mengingat kalau kembarannya itu memang sudah punya kekasih.


"Rendra, kalau mau kencan minyak wanginya jangan banyak-banyak! Nanti Aura mabok di dekatmu!" tegur Ela.


"Berisik!"


"His! Pulang kencan nanti belikan aku cemilan ya? Oke?" pinta Ela.


"Punya tangan, punya kaki, kenapa harus menyuruh orang lain sih? Pergi keluar saja sana! Beli sendiri!" tolak Rendra.


"Hih! Dasar tidak berperikemanusiaan!"


"Bodo! Aku pergi! Kalau mama tanya. Bilang saja aku pergi dengan Aura. Bye!"


Rendra pergi menuju ke garasi dan melajukan mobilnya keluar dari area rumahnya. Saking bahagianya, Rendra sampai memutar lagu-lagu cinta. Ketika lagunya berpindah ke lagu galau, ia menggantinya lagi dengan lagu yang ceria dan romantis. Benar-benar jatuh cinta membuat dirinya seperti terlahir kembali.


Tak berbeda jauh dengan Aura. Wanita itu memilih memakai dress dengan panjang di bawah lutut, modelnya tidak membentuk badan dan sedikit kebesaran di tubuh Aura. Namun, tetap terlihat cantik jika Aura yang mengenakannya. Aura juga merias wajahnya dengan make-up yang natural. Model rambutnya ia buat ikal di bagian bawah. Sangat cocok dengan Aura. Untuk penyempurna semuanya, Aura pun menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya. Ia tersenyum begitu manis di depan kaca.


"Perfect!"


Suara klakson mobil terdengar dari luar. Tak lain dan tak bukan itu pasti Rendra. Aura keluar dari rumahnya lalu mengunci pintu rumahnya dan berjalan masuk ke dalam mobil.


Rendra terpana melihat kecantikan Aura. Padahal sebelum-sebelumnya ia merasa biasa saja. Tapi sekarang? Hatinya berdebar-debar.


"Kenapa melihatku seperti itu? Jelek ya?" tanya Aura.


"Tidak, bukan jelek. Tapi terlalu cantik. Aku sampai tidak rela jika laki-laki melihatmu yang cantik begini. Apa kita batalkan saja?"


Hal itu membuat Aura tersipu malu. Tapi dibuat kesal juga. Sudah dandan cantik-cantik masa batal pergi keluar. Rasanya hatinya kecewa.


"Oke, kita jadi pergi," ucap Rendra kemudian menjalankan mobilnya. Satu tangannya ia gunakan untuk menggenggam tangan Aura.


Keduanya mengobrol banyak di dalam mobil hingga akhirnya sampai di tempat tujuan.


Rendra membawa Aura ke atas bukit untuk melihat pemandangan yang indah dan jauh dari perkotaan. Aura merasa senang karena ia memang suka tempat-temat berbau alam, mengingatkannya pada masa-masa bersama ibunya. Rupanya tak hanya itu, Rendra bahkan sudah menyiapkan segala peralatan yang mereka butuhkan.

__ADS_1


Keduanya duduk di kursi sambil melihat ke pemandangan di depannya.


"Apa kau selalu mengajak mantan-mantanmu kesini?" tanya Aura.


"Tidak."


Aura mengernyit bingung.


"Kenapa?"


"Seperti yang sudah aku jelaskan sebelumnya. Mantanku semuanya matre. Mana mau mereka aku ajak ke tempat yang sejuk begini. Mereka akan selalu mengajakku untuk pergi ke mall, salon dan tempat lain yang mengeluarkan banyak uang. Berbeda denganmu, Au," jawab Rendra.


"Iya juga sih, tapi kalau dibilang matre, aku juga matre," ujar Aura.


"Kau tidak matre. Aku tahu itu."


Aura tersenyum mendengarnya.


Waktu berlalu, hari sudah semakin siang. Rendra memakaikan topi ke kepala Aura agar wanitanya tidak kepanasan. Rendra juga melepaskan blazernya karena tubuhnya mulai berkeringat banyak.


"Jangan dilepas topinya, nanti kulitmu gosong," ucap Rendra.


"Kalau begitu, lebih baik kita duduk di bawah pohon saja. Pasti lebih sejuk dan tidak akan terkena sinar matahari," usul Aura.


"Benar juga. Kenapa aku tidak kepikiran hal itu? Ayo!"


"Nyaman sekali. Aku tidur sebentar ya," ucap Rendra kemudian memejamkan matanya.


Aura dengan lembutnya mengusap rambut Rendra. Ia benar-benar tidak menyangka akan berakhir jadi kekasih sungguhan dari Rendra.


"Ternyata begini sifat aslimu. Hihi, seperti kucing saja."


Hampir 3 jam Rendra tertidur di pahanya. Meski agak pegal, Aura membiarkan saja Rendra terbangun dengan sendirinya. Ia tahu betapa lelahnya Rendra bekerja tiap harinya. Pasti pria ini hanya memilki waktu istirahat yang kurang.


Drt drt


Ponsel Aura berdering tanda notifikasi pesan masuk.


Au, kau dimana? Bukankah kontrak kerjamu dengan Rendra sudah berakhir? Kenapa tidak ke club? Ini Mami Lena mencari mu.


Aura menghela napas kasar. Saking bahagianya, ia sampai lupa kalau ia masih terikat kontrak dengan Mami Lena. Ia tidak bisa begitu saja lari dari Mami Lena.


Iya, nanti malam aku kesana.

__ADS_1


Aura pun mengirim pesan balasan pada Sena.


"Kalau aku berpacaran denganmu, tentu saja aku tidak akan mungkin terus bekerja menjadi wanita bayaran. Apa jadinya jika begitu? Pasti kaulah yang banyak ruginya, Ren. Diberitakan dimana-mana. Tapi, jika aku keluar? Dapat uang darimana? Huh! Hutang ibu masih sangat banyak! Biaya kuliah Alin juga belum aku bayar seperempat nya."


Pikirannya terus berkecamuk dengan dua pilihan tersebut. Tanpa diduga ternyata Rendra sudah bangun dari tidurnya dan mendengarkan ucapan Aura tersebut.


Kau tidak usah khawatir tentang uang. Aku akan jadi bandar uangmu.


Perlahan-lahan Rendra membuka matanya.


"Berapa lama aku tidur?" tanya Rendra.


"Eh, kau sudah bangun? Sekitar 3 jam."


Rendra langsung berpindah untuk duduk.


"Pasti kakiku terasa pegal karena aku tidur selama itu. Ayo kita pulang! ajak Rendra.


"Ayo!" jawab Aura.


"Eh, eh, eh." Aura terkejut ketika ia tiba-tiba digendong oleh Rendra dengan bridal style. Padahal kakinya masih bisa berjalan.


"Turunkan aku!" pinta Aura.


"Iya nanti aku turunkan kalau sudah sampai mobil," jawab Rendra.


"Aku berat tahu."


"Iya aku tahu. Tapi tenang saja, energiku sudah terisi banyak. Jadi masih bisa mengangkat tubuhmu."


"Ren, turunkan aku!"


"Tidak Au. Kakimu sudah dibuat pegal olehku. Jadi, biarkan aku berjasa untukmu kali ini."


"Tapi aku masih punya kaki, dan dia masih kuat berjalan," ucap Aura lagi.


"Aku tahu. Tapi apa tidak boleh pacar menggendong pacarnya sendiri? Ini kan bentuk perhatianku padamu? Atau kau lebih memilih aku menciummu karena terus-menerus menolak?"


Aaa, tidak!


Aura akhirnya pasrah saja. Ia bahkan menyembunyikan wajahnya ke tubuh Rendra karena takut akan dicium oleh Rendra. Rendra yang melihat itu jadi gemas sendiri dan benar-benar ingin mencium Aura saat itu juga.


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2