
Club Century.
Seperti biasa Sena selalu menjadi pelayan di bar tersebut. Karena memang ia tidak mengambil banyak klien dari kerjanya yang sebagai wanita bayaran. Ia hanya memilih beberapa orang saja yang bisa memperlakukannya dengan baik seperti Ansel. Laki-laki itu selalu membuatnya nyaman dan seakan memberikan harapan untuknya. Namun, lagi-lagi pikiran waras nya bekerja.
Tidak! Aku tidak boleh berharap lebih dengan perlakuan Ansel padaku. Dia seperti itu karena aku adalah wanita bayarannya.
Sena sadar diri dengan siapa dirinya dan siapa Ansel. Sangat-sangat jauh berbeda.
Tiba-tiba bahunya ditepuk oleh seseorang. Sena pun menoleh.
"Ada apa?"
"Ansel menunggumu di ruangan VIP," jawab Karin.
"Baiklah."
Sena pun bergegas merapihkan gaun yang ia kenakan. Tak lupa ia pun menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya. Lalu menuju ke ruangan dimana Ansel berada.
"Hai sayang. Akhirnya kau datang juga. Apa kau tidak rindu denganku? Sudah lama sekali kita tidak berjumpa. Hari-hariku semakin sibuk sekarang dan aku membutuhkanmu untuk melepaskan lelah ini," ucap Ansel sambil mengulurkan tangannya agar Sena duduk di sampingnya.
Sena pun menerima uluran itu dan langsung duduk di samping Ansel.
"Aku juga merindukanmu. Aku pikir kau tidak akan datang lagi kesini. Seperti yang kau tahu, temanmu sudah menjalin hubungan yang serius dengan temanku. Karena itu, aku berpikir mungkin kau juga tidak akan pernah datang lagi kesini."
"Kau ini bicara apa sih? Sebelum aku mengajak Rendra kesini pun, aku sudah sering datang. Bagaimana mungkin aku melupakan wanita cantik sepertimu? Tidak mungkin!"
Sena tersenyum. Senyum yang terlihat cantik di mata Ansel. Namun, bagi Sena senyumnya hanyalah sebuah kepalsuan. Karena dirinya yang memang terlalu dibawa perasaan ucapan Ansel itu.
"Malam ini kau ingin pelayanan apa?" tanya Sena pada Ansel.
"Eum, apa ya?" Ansel mulai berpikir.
"Duduklah di pangkuanku! Lalu puaskan aku dengan bibirmu!"
Sena pun menurut dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Ansel. Dia duduk di pangkuan Ansel dan mulai melakukan aksinya. Ia membelai wajah Ansel dengan sentuhan lembutnya. Kemudian mulai mengecup satu per satu bagian wajah Ansel dengan bibirnya.
Baik Ansel maupun Nicolas, papanya. Keduanya sama-sama suka bermain wanita. Hanya saja Ansel selalu berperilaku baik di depan mamanya. Namun, Nicolas sudah tahu kelakuan buruk anaknya di luar sana. Ia pun tak ambil pusing, karena mungkin darahnya lebih banyak mengalir daripada darah Denada. Sehingga anaknya lebih mirip dengannya. Namun, tetap saja, Nicolas selalu mengatakan pada Ansel untuk tidak sembarang bermain dengan wanita. Intinya jika sudah menemukan wanita yang cocok dengan hatinya. Nikahi saja wanita itu dan berhenti bermain-main. Dan perkataan papanya itu selalu Ansel jadikan pegangan.
Sentuhan bibir Sena sangat memabukkan bagi Ansel. Bahkan Ansel tidak sadar jika kancing bajunya sudah terlepas semua oleh Sena.
Tangan mungil itu mulai meraba-raba tubuh berotot Ansel. Mengecupnya berkali-kali hingga meninggalkan bekas kecupan disana.
__ADS_1
Tak ingin hanya berdiam diri saja menerima sentuhan Sena, Ansel merengkuh tubuh Sena untuk semakin menempel padanya.
"Kau memang pandai sekali memuaskan ku. Bahkan aku tidak pernah bermain dengan wanita lain selain dirimu setelah aku menemukanmu, ah ..."
Ansel tiba-tiba mend*sah ketika p*utingnya dikecup oleh Sena. Ia jadi tidak sabar dan tidak bisa menahan gairahnya lagi. Yang niat awalnya hanya ingin bermain saja. Kini ia jadi ingin lebih. Ansel menggendong Sena seperti koala dan membawa Sena ke dalam sebuah kamar. Keduanya saling memadu kasih disana. Suara-suara d*sahan pun saling bersahut-sahutan. Hingga mereka akhirnya mereka melakukan pelepasan.
*
*
Keesokan paginya, Sena terbangun lebih dulu dari Ansel. Ia menatap pria yang ada di sampingnya itu lalu mengecup kedua mata yang tertutup itu.
"Tampan sekali. Andai saja aku bukan wanita bayaran. Mungkin aku bisa lebih berani mengungkapkan isi hatiku. Tapi meski tidak bisa, aku akan memperlihatkan semua itu dengan perlakuanku."
"Eung ... "
Ansel sedikit menggumam dan mengubah posisinya jadi memeluk Sena. Awalnya Sena sedikit terkejut takut Ansel mendengar ucapannya. Namun, ternyata Ansel tidak mendengar apapun dan masih terlelap dalam tidurnya.
Sena tidak mampu bergerak sama sekali. Karena dekapan itu terlalu erat namun Sena menyukainya.
*
*
"Padahal tidak usah mengantarku. Jalannya kan tidak searah dengan kantormu."
"Tidak apa. Lagipula asal bersamamu mau sejauh apapun jaraknya aku tetap ingin mengantarmu."
"Hih! Gombal!"
"Hahaha, gombal darimana? Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan sayang."
"Ya, ya, ya, ya."
"Jangan begitu, aku jadi ingin menciummu."
"Lakukan saja."
Rendra sudah mendekatkan wajahnya ke Aura, akan tetapi saat wajah keduanya sudah semakin dekat. Tiba-tiba ...
"Kakak! Kalau mau ciuman jangan di depanku! Mataku bisa ternoda oleh kelakuan kalian berdua."
__ADS_1
Suara Alin lah yang menggagalkan ciuman itu. Aura merasa malu. Sementara Rendra bersikap biasa saja. Alin pun pergi dari rumahnya sebelum melihat yang tidak-tidak lagi dari kakaknya.
Setelah Alin pergi, Rendra mendekatkan kembali wajahnya. Namun, Aura dengan cepat malah mendorong tubuh Rendra dan meminta Rendra untuk segera mengantarkannya saja. Rendra hanya bisa menghela napas pasrah saja. Ciumannya gagal untuk hari ini.
Selama di perjalanan, kedua saling berbincang dan terus saling menggenggam.
"Kau ingin acara pertunangan yang mewah atau sederhana?" tanya Rendra tiba-tiba.
"Memangnya harus? Bukankah kau sudah melamar ku? Kenapa harus ada pertunangan lagi?" tanya Aura.
"Aku hanya ingin semua orang tahu kau adalah miliki. Maka dari itu aku ingin menunjukkannya di hadapan orang bukan hanya di saat kita berdua saja. Jadi, mau mewah atau sederhana."
"Sederhana saja, lagipula aku tidak memiliki keluarga untuk dibawa selain Alin. Karena dialah satu-satunya keluarga yang aku miliki."
"Baiklah, nanti aku akan atur semuanya dengan mama."
Aura mengangguk. Ia serahkan saja semuanya pada Rendra. Toh acaranya akan sederhana. Pasti tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mempersiapkannya. Padahal belum tentu sederhana di pikiran Aura sama dengan sederhana yang ada di pikiran Rendra.
Setelah mengantar Aura ke toko bunganya, Rendra berangkat ke kantornya. Namun, di tengah jalan, ia mendapatkan telepon dari Ansel.
"Kenapa!?"
"Hih! Aku belum bicara apa-apa saja kau sudah ketus begitu. Apa kabar dengan Aura yang tiap hari menghadapi mu? Kasihan sekali Aura!"
"Ya bedalah, ngapain aku lembut-lembut padamu. Menggelikan!"
"Hahaha. Oke, oke. Aku telepon cuma ingin tahu kabarmu saja. Tapi, sepertinya kabarmu selalu baik setelah bersama Aura. Jadi, kita sudahi saja."
"Sialan! Kau kurang kerjaan sekali!"
"Kata siapa? Aku lho baru selesai bercocok tanam. Kau belum pernah merasakan itu kan? Hihi."
"Ansel!" Rendra teriak di dalam mobilnya. Ansel pun langsung mematikan sambungan teleponnya dan tertawa terbahak-bahak membayangkan kemarahan di diri Rendra.
*
*
TBC
Yok banyakin komentar dan dukungannya, supaya cerita ini bisa meningkat popularitas nya.
__ADS_1