Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 37 - Dasar Pelakor!


__ADS_3

Hari berganti, Aura pun telah datang di rumah Rendra beberapa menit yang lalu. Ia bahkan datang tanpa dijemput oleh Rendra karena dirinya sendiri yang menolak. Rendra yang sudah cape memaksa pun membiaran hal itu.


"Cantik-cantik begini masa naik ojek kesini Au. Rendra benar-benar tidak perhatian jadi kekasih," kesal Naya pada anaknya sendiri.


"Eh, ini bukan salah Rendra Tante. Memang aku yang mau. Soalnya di jalan dekat rumah sedang ada hajatan terus gang nya sengaja ditutup untuk kendaraan roda empat. Makanya supaya lebih cepat, aku naik ojek tante," jawab Aura supaya mamanya Rendra tidak salah paham.


"Oh, begitu. Tante pikir anak Tante yang terlalu cuek, hehe."


Naya pun melirik ke tangan Aura yang terlihat membawa paper bag.


"Itu apa Au?" tanya Naya.


"Ini bolu rasa pandan tante. Aku buat sendiri. Maaf kalo rasanya kurang enak nantinya."


"Ah, jangan bilang begitu. Mana sini tante coba dulu!"


Aura pun memberikan paper bag itu. Naya segera membukanya dan menaruh bolunya di meja. Ia segera memotong bolunya dan mencicipinya.


"Eum, kurang enak apanya Au. Ini sih enak sekali. Kau belajar darimana? Tante tuh dari dulu ingin sekali buat bolu selembut dan seenak ini. Tapi sayangnya, kalau tante yang buat selalu saja bantat dan keras. Tapi kalau urusan masak-memasak selain yang manis-manis begini, tante jagonya," ujar Naya.


"Ini dulu diajarin ibuku tante. Kalau tante mau, kapan-kapan aku ajarin tante buat bolu seperti itu."


"Wah, pantas saja. Rupanya turunan dari ibumu. Oke."


Di saat Naya masih memakan bolu tersebut, Rendra pun turun dari kamarnya hendak pergi ke kantor. Padahal hari sudah menunjukkan pukul 10.00. Benar-benar memanfaatkan jabatan CEO.

__ADS_1


"Ren sini dulu! Cobain dulu bolu buatan Aura. Dijamin pasti ketagihan!" ucap Naya memuji-muji bolu buatan Naya.


Sementara Rendra ada sedikit percaya dan tidak. Tapi, daripada nantinya terus dipaksa sang mama, Rendra pun berjalan mendekat dan meminta disuapi bolunya.


"Lihat Au, sudah sebesar ini badannya. Masih minta disuapi. Benar-benar kau ya, Ren."


Hap!


Rendra melahap bolu yang dipotong mamanya dengan mulutnya.


"Sana manja-manja sama kekasihmu. Kalau papa liat nantinya, kau bisa diomeli lagi," cecar Naya.


"Hih, mama. Papa tuh jangan dimanjain terus. Nanti nggak bisa mandiri," kesal Rendra.


Naya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Rendra dan Richard memang selalu berkompetisi dalam hal mencari perhatian dari Naya. Bahkan sering berdebat hanya karena hal kecil. Benar-benar kembar dalam versi usia yang berbeda.


Lalu menghampiri Aura dan mencium pipi Aura juga kemudian diakhiri dengan mengacak-acak rambut Aura. Entah sadar atau tidak akan perbuatannya pada Aura. Hal tersebut membuat jantung Aura berdebar sangat kencang.


Naya yang melihat perlakuan manis dari Rendra pun hanya meng*lum senyum.


Lalu bagaimana dengan Rendra? Pria itu pun keluar dari rumah dengan perasaan yang berbunga-bunga. Sepertinya cepat atau lambat ia benar-benar akan meresmikan hubungannya. Padahal jika dihitung-hitung, pertemuan keduanya seakan singkat akan tetapi selalu berkesan dan membekas di pikiran dan hatinya. Yang awalnya tak percaya cinta dan wanita, seolah-olah terkikis dengan sikap Aura yang selalu menarik perhatiannya tanpa ia sadari.


Kembali lagi ke Aura, wanita itu masih menetralkan debaran jantungnya yang seakan seperti mau meledak.


"Au."

__ADS_1


Panggilan dari Naya seolah menjadi penyadar baginya.


"Rendra memang suka seperti itu pada orang yang dia sayang. Jadi, jangan kaget lagi ya. Tetap seperti ini, jadi dirimu sendiri," ucap Naya yang membuat Aura jadi bertanya-tanya.


Iya kah begitu? Apa iya aku termasuk ke dalam orang-orang yang Rendra sayangi? Tapi rasanya tidak mungkin. Aku dan dia kan hanya berpura-pura. Pasti tante Naya hanya asal bicara.


Waktu demi waktu terus berjalan. Para teman arisan pun sudah datang di kediaman Kavindra. Mereka dijamin dengan makanan manis buatan Aura dan makanan asin atau renyah buatan Naya.


Tak lama kemudian, Stella pun datang dengan rasa penasaran karena kata teman-teman yang lain, anaknya Naya sudah memiliki kekasih, dan ia sangat penasaran dengan wanita yang mampu meluluhkan hati pria berhati dingin itu.


Stella pun duduk di paling ujung kemudian menyilangkan kakinya.


Naya pun datang dengan membawa beberapa cemilan lagi.


"Akhirnya kau bisa datang juga Stel," ucap Naya.


"Tentu saja. Habisnya aku penasaran dengan kekasih Rendra itu. Katanya anaknya cantik. Iya kah begitu?" tanya Stella yang langsung pada intinya.


"Iya, memang cantik. Sebentar, anaknya juga akan kemari," ujar Naya.


Sesaat kemudian, Aura pun datang dengan membawa minuman untuk para tamu. Awalnya Stella belum menyadari bahwa itu Aura karena wajahnya terhalangi oleh rambut. Tapi ketika wanita itu berdiri di samping Naya, Stella langsung berdiri dan menatap tajam ke arah Aura.


"Dasar pelakor!"


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2