Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 52 - Berkunjung ke panti asuhan


__ADS_3

Di panti asuhan, Meira melihat anak panti yang bermain sepak bola di halaman. Wanita itu hanya duduk termenung dengan tatapan kosong. Bagi orang yang tidak mengenal Meira dengan baik, pasti tidak akan tahu kalau sebenarnya Meira sedang tidak baik-baik saja. Berbeda dengan ibu panti, yang sudah tahu karakter Meira sejak kecil.


"Ragamu boleh saja disini. Tapi hati dan pikiranmu sebenarnya ada di tempat lain. Kenapa dulu kau mengiyakan ketika Elnan menuduh mu berselingkuh? Ibu tidak habis pikir denganmu Mei." ucap ibu panti yang mulai duduk di samping Meira.


"Aku tidak punya keberanian Bu. Bukti-buktinya sudah jelas dan memang yang ada di foto itu adalah aku. Tidak ada rekayasa editan di dalamnya. Jadi, percuma saja jika aku mengelak, pasti Elnan tetap tidak akan percaya," jawab Meira.


Ibu panti menarik napas pelan. Sebenarnya ia tidak ingin melihat anak asuhnya menderita seperti ini setelah perceraian mereka.


"Ya sudah, ibu tidak akan lagi memaksamu untuk menceritakan semuanya. Yang ibu inginkan sekarang hanya kau bahagia. Itu saja."


"Iya ibu. Terima kasih," ucap Meira sambil memeluk ibu panti.


Keduanya pun saling memberikan pelukan. Tak lama kemudian, sebuah mobil datang ke panti asuhan dan membuat anak-anak yang bermain bola seketika berhenti.


Saat melihat siapa yang datang, anak-anak langsung mengerumuni orang itu. Sontak saja membuat ibu panti dan Meira sedikit keheranan.


Hingga akhirnya wajah dari orang itu pun terlihat. Elnan lah yang datang kesana. Rupanya, Elnan menyuruh Rendra untuk segera ke kantor karena dirinya yang akan pergi keluar ke panti asuhan. Tentunya, Elnan tidak akan mungkin menceritakan alasan yang sebenarnya, karena adiknya masih begitu membenci Meira.


Bicara soal benci, sebenarnya Elnan juga benci pada Meira. Tapi, sepertinya rasa benci itu kalah dengan rasa cintanya. Setelah pertemuan mereka di taman waktu itu, Elnan jadi terus memikirkan Meira dan ingin terus bertemu mantan istrinya.


Elnan merasa, pergi setahun ke negeri orang untuk berusaha melupakan orang yang dicintainya sia-sia. Ternyata mau sekeras apapun berusaha melupakan jika kemauan hati untuk melupa tidak begitu besar, hasilnya akan percuma. Apalagi ia merasa pertemuan mereka setelah berpisah waktu itu menunjukkan bahwa ia masih mencintai Meira. Kilas balik kenangan di otaknya pun terus teringat kenangan indah bersama wanita itu dan terus menerus terpikirkan hingga membuat Elnan lelah sendiri. Alhasil, ia memberanikan dirinya untuk mengunjungi kembali panti asuhan tempat Meira tinggal.


Elnan berjalan ke arah ibu panti dan Meira diikuti dengan anak panti di belakang Elnan.

__ADS_1


"Ya Tuhan, Elnan. Bagaimana kabarmu, nak?" tanya ibu panti yang senang Elnan datang ke panti.


"Kabarku baik Bu. Ibu gimana? Sehat?" tanya Elnan lagi.


"Iya, ibu sehat-sehat saja. Ayo masuk! Ada banyak hal yang harus kita bicarakan. Karena kau yang tiba-tiba pergi ke Paris," ucap ibu panti membuat Elnan tersenyum tipis.


Berbeda dengan Meira yang merasa tidak enak hati. Ketika ibu menggandeng tangan Elnan untuk membawa laki-laki itu masuk, Meira justru akan pergi ke tempat lain.


"Eh, mau kemana? Ada tamu yang harus dijamu. Kau tidak boleh pergi," cegah Ibu panti tidak mengizinkan Meira untuk pergi.


Alhasil Meira pun mengikuti ibu panti dan Elnan di belakang.


Kini mereka sudah duduk di kursi ruang tamu panti asuhan.


"Oh iya, aku bawa beberapa makanan dan pakaian untuk anak-anak panti Bu."


"Tidak apa-apa Bu. Lagian aku juga hanya sesekali datang dan tidak sering jadi tidak repot."


"Nanti ibu akan minta orang untuk mengambilnya dari mobilmu."


Elnan pun mengangguk.


Sudah agak lama berbincang, tapi minuman atau minuman pun belum dihidangkan sama sekali oleh Meira.

__ADS_1


"Astaga! Maaf, saking rindunya, sampai lupa tidak menjamu tamu." Ibu panti menyentuh lengan Meira.


"Sana buatkan minuman dan beberapa cemilan dari dapur," pinta ibu panti ke Meira.


"Iya ibu," jawab Meira.


Setelah Meira tak ada di antara mereka. Ibu mulai perbincangan yang agak serius dengan Rendra.


"Ibu minta maaf atas sikap Meira padamu. Maaf karena ibu tidak bisa mendidik anak ibu dengan baik hingga akhirnya kalian harus berpisah."


Elnan menyentuh tangan ibu dan berkata, "Semua sudah terjadi dan itu bukan salah ibu. Mungkin memang itu sudah jadi jalan takdirku. Jadi, tidak perlu meminta maaf."


Rasanya ibu ingin sekali mengatakan kalau Meira tidaklah berselingkuh dengan pria lain. Tapi rasanya lidahnya kelu dan ia pun masih tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di waktu itu. Andaikan saja Meira mau membuka mulutnya dan menceritakan semuanya, mungkin saja masalahnya akan selesai dan tidak berakhir dengan perceraian.


"Kau benci dengan Meira?" tanya ibu yang penasaran.


"Entah, aku tidak tahu Bu," jawab Elnan.


Ibu memperhatikan setiap gerak wajah Elnan. Ia tahu baik Elnan maupun Meira masih sama-sama saling cinta.


Ya Tuhan, semoga mereka bisa bersatu kembali.


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2