
Gerbang di kediaman Kavindra terbuka ketika mobil Rendra akan masuk ke dalam. Di saat itu, para pengawal rumah Rendra pun ikut turun tangan menghalangi para wartawan yang ingin masuk dan mewawancarai Rendra.
"Sudah sana pada pulang saja!" usir salah satu pengawal.
"Tidak bisa dong pak. Kita bahkan belum terima berita apapun dari Tuan Rendra. Sangat disayangkan sekali kalau tidak dapat berita ekslusif."
Si bapak pengawal hanya bisa geleng-geleng kepala. Harusnya yang dibanjiri para wartawan begini adalah koruptor supaya dia malu dan kasusnya bisa segera terungkap. Lah ini? malah gosip pertunangan orang.
Dasar tidak waras!
Gerbang pun ditutup kembali. Para pengawal tetap berjaga disana.
Rendra keluar dari mobilnya lalu membukakan pintu mobil untuk Aura. Tatapan matanya masih kosong. Tangan Rendra terulur untuk menggenggam tangan Aura.
Ketika sampai di dalam rumah, Naya langsung memeluk Aura dan menariknya untuk duduk di sofa. Ia begitu khawatir dengan Aura. Apalagi ia mendapatkan kabar dari Rendra tentang penyerangan ibu-ibu tadi toko bunga. Hatinya jadi ikutan sedih.
"Jangan dengarkan apa kata orang. Mereka hanya iri padamu."
Kalimat itulah yang bisa Naya ucapkan untuk Aura. Karena sangat tidak mungkin menanyakan bagaimana kabar Aura yang sudah jelas tidak baik-baik saja. Jadi, ia hanya akan jadi pendukung Aura.
"Rendra pasti bisa mengatasi semua ini. Percayalah. Dan kau pun harus bisa melewatinya. Tenang ada kita semua bersamamu."
Aura jadi meneteskan air matanya. Ia benar-benar terharu akan ucapan Naya. Mamanya Rendra begitu peduli padanya.
"Cup, cup, cup, jangan menangis sayang."
Naya memeluk Aura kembali dan mengelus kepalanya. Rendra hanya bisa menghela napas lega. Setidaknya dengan Aura di rumahnya. Ada mamanya yang bisa menjaga dan menenangkan Aura.
*
*
Hari berganti jadi malam, setelah makan malam bersama. Aura dan Alin langsung masuk ke dalam kamar. Semua keluarga Richard tahu apa yang dirasakan Aura, jadi mereka memaklumi jika Aura ingin sendirian.
__ADS_1
Sementara keluarga Rendra kini berkumpul di ruang tamu. Ela sudah berapi-api ingin menonjok dan mer*mas-r*mas orang yang sudah menyebarkan berita itu.
"Awas saja kalau ketahuan siapa orangnya! Aku akan membuatnya menderita! Kalau bisa sampai tidak bisa berjalan dan berbicara! Dasar biadab!"
Ketika Ela menumpahkan kekesalannya dengan kata-kata. Rendra justru diam dan memikirkan cara untuk segera meredakan berita ini. Ketika sudah menemukan caranya, ia langsung bergerak tanpa bicara. Ia menghubungi beberapa orang untuk menyelidiki semuanya. Dari mulai seorang hacker handal, detektif hingga pengacara untuk menuntut balik orang tersebut.
"Mama kasihan sekali melihat Aura, Ren. Dia pasti sangat terpuruk. Padahal dia sudah tak lagi jadi wanita bayaran. Tapi, masa lalunya terus menghantuinya. Pasti tidak mudah baginya, ketika semua orang membencinya. Pokoknya jangan biarkan Aura membuka berita di ponselnya. Dia pasti akan membaca komentar-komentar jahat netizen.
Sayang sekali, Aura bahkan kini sedang menangis tanpa suara. Ia sudah membaca komentar-komentar jahat dari netizen. Ada yang menyuruhnya untuk mati. Menghinanya sebagai pelakor dan meminta dirinya untuk bunuh diri saja di depan umum. Bahkan ada juga yang meminta aura untuk bertelanjang di depan umum.
Ingin sekali Aura menyangkal semuanya. Tapi apakah saya, semua foto-foto itu memang benar adanya. Dirinya memang wanita bayar dulunya. Namun ia bukan pelakor, bukan j*lang, juga bukan wanita murahan. Ia hanya seorang manusia yang mencari uang untuk bertahan hidup. Apakah salah?
Sebenarnya Alin tahu kakaknya sedang bersedih, tapi ia biarkan saja. Terkadang lebih baik menangis sejadi-jadinya daripada hanya diam dan memendam semuanya. Itu akan lebih menyakitkan.
Semoga kakak kuat menghadapi semuanya.
Balik lagi ke ruang tamu, Richard kini penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh anaknya. Keputusan seperti apa yang akan dikeluarkan dari mulut Rendra.
"Iya pa. Aku sedang menyusun rencananya."
"Tadi siang Evan menghubungiku, katanya para wartawan juga berkunjung ke perusahannya untuk mencari-cari informasi tentang Aura. Tapi, tenang saja Evan tidak mengatakan apapun ke media."
"Syukurlah kalau begitu," ucap Naya.
"Coba lihat ke depan apa wartawan masih berkerumun di depan rumah kita?" pinta Richard.
Ela pun berjalan ke jendela dan mengintipnya. Ia hanya bisa menghela napas.
"Mereka masih ada disana pa. Mereka kan haus berita. Yang penting rating tinggi. Viral dan meledak di dunia maya. Itu yang mereka cari. Dasar tidak punya hati!" kesal Ela lagi.
Rasanya Ela ingin membangkrutkan perusahaan media satu per satu. Seenaknya saja membaut berita asal dan bohong demi popularitas. Benar-benar tidak manusiawi.
"Ya sudah, karena hari sudah malam, lebih baik kalian pergi ke kamar masing-masing. Kita bicarakan lagi besok. Dan untuk kamu Rendra, jika ingin memutuskan sesuatu cerita dulu ke papa. Setidaknya papa bisa ikut memberikan saran pada keputusanmu itu. Mengerti?"
__ADS_1
"Iya, mengerti pa."
Mereka pun pergi ke kamarnya masing-masing kecuali Rendra. Ia masih sibuk memberikan pesan pada bawahannya.
*
*
Pagi telah tiba, Aura hanya bisa berdiam diri di rumah Rendra. Sesekali ia melihat dari jendela ke luar rumah.
"Mereka masih belum pergi juga."
Aura benar-benar tidak habis pikir dengan mereka yang rela menunggu disana hanya demi sebuah informasi.
"Sudah, jangan dilihat terus Au. Biarkan saja, nanti juga pada pulang sendiri."
"Tapi, aku merasa tidak enak tante. Rumah tante jadi banyak wartawan begini. Maaf ... " Aura menundukkan kepalanya "karena masa laluku yang buruk malah jadi bahan berita dan menjadikan keluarga ini terbawa-bawa."
"Jangan bicara begitu. Semua orang punya masa lalu. Mau itu masa lalu yang baik atau yang buruk. Tapi tetap saja setiap orang pun berhak memiliki masa depan yang lebih baik. Mau itu bekas penjahat, koruptor, pembunuh, semuanya masih punya harapan untuk masa depan. Ini semua terjadi, karena Tuhan menyayangimu Au. Dia ingin tahu seberapa kuatnya kamu mengahadapi ini semua."
"Tapi, aku tidak tahu apa aku kuat atau tidak? Aku ... aku merasa hina tante. Aku sangat sangat tidak cocok berada di keluarga ini. Apa lebih baik aku pergi saja dari hidup Rendra? Dengan begitu semuanya akan kembali seperti semula," ucap Aura sambil meneteskan air matanya. Ia benar-benar tidak bisa berpikir jernih sekarang. Yang ada di pikirannya, hanyalah pergi dan menghilang dari semuanya.
Naya menggeleng. Ia tidak setuju dengan apa yang diucapkan oleh Aura. Sama sekali tidak setuju. Apa jadinya jika Aura pergi? Bisa saja Rendra akan terpuruk dan Aura pun akan begitu.
"Jangan sekali-kali kau melakukan apa yang kau pikirkan Au. Karena Tante sendiri yang akan melarangnya."
Aura menangis. Sudah dua hari ini tidak ada senyum di bibirnya, yang ada hanya tangis, tangis dan tangis.
*
*
TBC
__ADS_1