Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 15 - Duda Gagal Move On


__ADS_3

"Astaga dia masih jadi putri tidur rupanya!"


Dengan tak punya akhlaknya. Aura menggedor-gedor jendela kamar Sena hingga Sena yang berada di dalam pun mendengar kebisingan itu dan terbangun dengan kesal.


"Buka pintu depan!" pinta Aura.


"Iya," jawab Sena dengan malas.


Setelah itu, Aura berjalan ke pintu depan menunggu pintu tersebut terbuka.


Ceklek!


Akhirnya pintu terbuka. Aura pun masuk ke kontrakan Sena. Ia langsung duduk di kursi yang tersedia disana.


"Ngapain pagi-pagi kesini? Ganggu orang tidur saja!" ucap Sena sambil mengucek-ngucek matanya.


"Ayo jalan-jalan!" ajak Aura.


"Aduh, Au! Masih pagi begini kita mau lihat apa? Ke mall pun belum buka. Sekarang masih pukul 07.45 Au," ucap Sena sambil melihat jam dinding yang menempel di temboknya.


"Ke pasar saja ayok! Aku ingin beli bahan-bahan buat masak, terus mengeksekusinya di rumahmu. Bagaimana? Bagus kan ide ku?" ucap Aura.


"Lebih bagus lagi kalau tinggal makan, Au. Ngapain kita bersusah payah masak, bahkan rasanya pun belum tentu enak dan bisa dicerna. Lebih baik beli, dijamin sudah enak dan tidak perlu repot-repot," balas Sena menanggapi.


"His! Sekali-kali lah kita makan dengan usaha sendiri. Ayo! Pokoknya aku minta ditemani! Aku tidak mau sendirian!" kekeh Aura.


Sena pun akhirnya pasrah dan menurut. Ia hanya mencuci wajahnya saja agar tidak terlihat seperti habis bangun tidur.


"Ayo!" Kali ini Sena yang jadi semangat.


*


*


Keduanya pergi ke pasar jalan kaki. Karena kebetulan, jarak dari kontrakan Sena ke pasar hanya membutuhkan waktu tujuh menitan dengan berjalan kaki. Dengan begitu mereka menghemat uang untuk ongkosnya.

__ADS_1


Sesampainya di pasar, Aura membeli telur dan sayur-sayuran, ia juga membeli beberapa ikan air tawar. Ketika akan keluar dari pasar, Aura tidak sengaja menabrak wanita hingga belanjaan wanita tersebut terjatuh.


Untungnya telur yang dibeli Aura dibawa oleh Sena, jadinya tidak ikut pecah juga.


"Aduh, maafkan saya," ucap Aura sambil mengambil belanjaan wanita itu yang terjatuh karenanya.


"Iya, tidak apa-apa. Lagipula bukan salahmu juga. Saya juga tidak memerhatikan jalan tadi. Sudah, tidak usah diambil," ujar wanita itu.


Aura pun berhenti mengambil belanjaan itu dan meminta maaf sekali lagi.


"Untuk menebus kesalahan saya, saya akan belikan sayuran yang terjatuh tadi, tante," ucap Aura.


"Tidak perlu. Sudah jangan terlalu merasa bersalah dan pikirkan. Kalau begitu saya pergi ya," ucap wanita itu kemudian pergi dari hadapan Aura dan Sena.


"Baik banget ya Tante itu? Kalau orang lain yang kau tabrak, tidak mungkin akan sebaik itu tanggapannya. Dia bahkan tidak meminta ganti rugi padamu. Kau beruntung Au," ujar Sena.


Aura pun mengangguk mengiyakan ucapan Sena.


Setelah itu, mereka berdua kembali ke rumah kontrakan Sena. Mulai bereksperimen dengan telur dan sayuran-sayuran.


*


*


"Tidak apa-apa, sesekali aku ingin mampir dan melihat-lihat ke pasar. Siapa tahu aku bisa menemukan supplier baru lagi untuk bahan baku makanan disini. Lagipula aku hanya membawa sedikit sayuran saja, karena selebihnya akan diantarkan langsung kesini oleh kurir. Kau tenang saja!" balas Naya menanggapi.


"Kalau bos Richard tahu, saya bisa dimarahi habis-habisan Bu Bos karena membiarkan istri tercintanya menginjak pasar yang becek dan banyak orang berlalu lalang," ucap sang karyawan yang takut kena marah oleh Richard.


Naya menepuk pundak karyawan itu.


"Tenang saja, itu semua biar aku yang urus. Silahkan kembali bekerja. Aku akan mengecek persediaan bahan yang lain," ucap Naya.


"Baik Bu Bos."


*

__ADS_1


*


Di tempat lain, Rendra dan Elnan tengah sibuk mengadakan rapat akan kebijakan baru yang akan diberlakukan di perusahaan. Dimulai dari kedatangan karyawan yang diharuskan datang tepat waktu. Dilanjutkan dengan kebijakan lain mengenai aturan-aturan kerja.


Setelah selesai rapat, Elnan dan Rendra mengobrol berdua sambil berjalan.


"Aku masih penasaran dengan kejadian semalam. Kau tidak jadi pria perebut pacar orang, kan?" tanya Elnan lagi untuk meyakinkan dirinya dan memastikan jawaban Rendra, agar ia tidak terus berpikiran buruk tentang adiknya.


"Sudah aku bilang, aku tidak begitu," jawab Rendra dengan jujur.


"Lantas?" tanya Elnan lagi.


Rendra mengangkat bahunya tidak tahu. Lagi-lagi ia tidak mendapatkan informasi apapun dari Rendra.


"Kenapa susah sekali mendapatkan informasi darimu?" kesal Elnan.


Bukannya menjawab, Rendra malah balik bertanya. Pertanyaan yang membuat Elnan terkejut.


"Kau suka pada wanita semalam yang bersama Evan?" tanya Rendra tiba-tiba.


"Sembarangan!" pekik Elnan tidak terima.


"Oh, iya aku lupa. Kau kan duda gagal move on," ledek Rendra.


Elnan gemas dengan adiknya sendiri. Hingga ia mer*mas-r*mas jari-jarinya karena tidak bisa berbuat jahat ke adiknya sendiri.


Andai kau bukan adikku, sudah aku buang kau ke dunia tersembunyi!


Keduanya pun berpisah karena berbeda ruangan. Rendra pergi ke ruangannya, kemudian fokus pada dokumen yang ada di depannya. Pikirannya saat ini, hanya fokus kerja, kerja dan kerja. Hatinya terasa hampa. Namun, ia takut jika terisi kembali, ia akan mengalami hal yang sama lagi, yaitu dicampakkan. Sudah terlalu sering Rendra merasakan sakit hati.


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2