
Malam harinya, Elnan mengetuk kamar Rendra. Hati dan pikirannya sungguh tidak tenang mengingat perbincangannya dengan Andrew. Ia benar-benar ingin memastikan semuanya ke adiknya.
"Ren," panggil Elnan sambil mengetuk pintu kamar Rendra.
Tak lama kemudian Rendra membuka pintu dan menunjukkan wajahnya yang datar.
"Boleh masuk?" tanya Elnan.
Tanpa menjawab, Rendra lalu membuka lebar kamarnya pertanda ia mengizinkan Elnan untuk memasuki kamarnya.
Elnan langsung duduk di sofa dan meminta Rendra untuk duduk juga disana.
"Aku mau menanyakan hal penting padamu."
"Tanyakan saja."
"Kau dan Aura benar-benar pacaran?" tanya Elnan.
Rendra sedikit mengerutkan alisnya seolah ada yang aneh dengan kakaknya.
"Kenapa bertanya? Bukankah kakak sudah tahu jawabannya?"
"Haish!" mendapat jawaban seperti itu membuat Elnan gemas sendiri pada Rendra.
"Aku tahu pekerjaan Aura. Kalau kau dan Aura benar-benar berpacaran, aku hanya ingin kau tahu juga latarbelakang nya bagaimana. Kalau kau dan Aura hanya berpura-pura. Tolong jelaskan padaku alasannya dan aku minta sudahi saja kepura-puraan itu. Karena aku bisa melihat kalau mama begitu sangat menyukai Aura. Apa kau ingin membuat mama bersedih?"
Rendra sebenarnya tidak ingin menjawab pertanyaan Elnan. Namun, daripada Elnan malah merusak rencananya. Rendra pun mau tak mau menjelaskan semuanya.
"Aku dan Aura memang hanya berpura-pura pacaran. Awalnya hanya karena ingin membahagiakan mama dan membuat mama tidak terpengaruh dengan hasutan Kaila yang mulai mendekati mama lagi. Tapi, entah kenapa semakin kesini aku juga merasa nyaman dengannya," jawab Rendra dengan jujur dari dalam hatinya.
"Kalau begitu, berarti kau sudah tau pekerjaan Aura sebagai wanita bayaran. Apa kau tidak takut jika ada seseorang yang dengan sengaja merusak citra mu? Pekerjaan wanita bayaran itu begitu buruk di kalangan masyarakat. Kau pasti tahu itu kan?"
Rendra mengangguk.
"Aku tahu. Tapi Aura tidak seperti apa yang kau pikirkan. Dia memang wanita bayaran tapi bukan untuk memuaskan nafsu pria hidung belang," jawab Rendra.
"Jika kau sudah berkata seperti itu. Aku percaya Ren. Tapi tetap saja jika kau benar-benar ingin merealisasikan hubunganmu dengan Aura, ada banyak pihak yang membenci apalagi dengan pekerjaan Aura itu. Tolong pikirkan baik-baik. Sebagai kakak aku hanya ingin kau bahagia dan tidak terluka sedikit pun."
Rendra yang sudah dinasehati oleh Elnan tampak sedikit berpikir. Tapi mau dipikir bagaimana pun, ia tidak peduli dengan pekerjaan Aura yang wanita bayaran. Ia bisa membaut Aura berhenti bekerja disana.
"Aku hanya ingin mengatakan itu. Keputusan ada di tanganmu."
Elnan pun keluar dari kamar Rendra. Sementara Rendra kini berpindah posisi dengan merebahkan tubuhnya di sofa.
"Apa sehina itu jadi wanita bayaran? Kenapa semua orang beranggapan buruk tanpa tahu alasan kenapa orang memilih pekerjaan tersebut? Aku tahu Aura, meski belum terlalu lama kenal dengannya."
__ADS_1
Rendra memejamkan matanya. Bayangan yang terlihat ketika itu adalah senyuman Aura yang sangat manis. Rendra langsung terkesiap dan bangun dari rebahannya.
"Astaga! Kenapa aku malah memikirkannya?"
Rendra pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Saat ia mencuci wajahnya di wastafel, tiba-tiba saja ia melihat bayangan Aura di belakangnya.
Lagi-lagi Aura, Rendra menggelengkan kepalanya. Kini Aura benar-benar sudah masuk ke dalam pikirannya.
"Sepertinya aku kurang minum air putih sampai-sampai memikirkan hal aneh begini."
Kakinya pun melangkah keluar dari kamar mandi. Saat melihat gelas di atas mejanya kosong, Rendra pun turun dari kamarnya ke dapur.
Di dapur, Rendra bertemu dengan mamanya yang sedang memasak mie instan.
"Mau ambil apa Ren?" tanya Naya.
"Minum ma. Rendra haus," jawab Rendra.
"Mama kenapa masak mie malam-malam padahal tadi sudah makan malam?" tanya Rendra.
"Ini bukan untuk mama. Tapi papamu yang minta dibuatkan. Katanya untuk menemaninya nonton film," jawab Naya.
"Oh, begitu. Aku ke kamar lagi ya ma."
"Ren, tunggu sebentar. Tolong sampaikan ke Aura untuk datang lagi ke acara arisan mama lusa," pinta Naya.
"Iya, nanti Rendra bilangin ke Aura," jawab Rendra lalu berjalan menjauh dari dapur.
Sesampainya di kamar, Rendra tersenyum, ia jadi punya alasan untuk mengirim pesan pada Aura.
Mamaku ingin kau datang lusa ke rumah. Katanya sih ada arisan lagi.
Pesan pun terkirim. Rendra gelisah menunggu balasan dari Aura. Ia sampai mondar-mandir di kamarnya karena tak kunjung mendapatkan balasan. Bahkan ia sudah berpindah posisi beberapa kali. Hanya demi menunggu sebuah pesan. Sampai akhirnya Rendra pun ketiduran saking lamanya menunggu.
*
*
Akhir-akhir ini Alin merasa kakaknya terlihat bahagia. Bahkan ia juga merasa sedikit heran karena kakaknya tak lagi memakai baju yang seksi padahal akan bertemu dengan kliennya.
"Apa kakak sudah tidak lagi jadi wanita bayaran?" gumam Alin sambil membuat roti bakar.
"Kalau iya, aku senang sekali. Aku tidak tega melihat kakak dihina terus menerus."
Tiba-tiba Aura datang dengan masih memakai pakaian tidurnya. Ia duduk di meja makan dan melihat ke arah adiknya.
__ADS_1
"Ih, kenapa kakak liatin aku kaya gitu?" tanya Alin yang keheranan.
"Kakak ngerasa akhir-akhir ini jarang mengobrol denganmu. Kakak pergi sebelum kau pergi. Kakak pulang saat kau pun kadang sudah tertidur. Maaf ya," ujar Aura.
Padahal di kenyataannya, meski jarang mengobrol, Alin suka mengintip apa saja yang dilakukan kakaknya itu. Ia hanya ingin melihat perasaan jujur kakaknya ketika tahu ia sudah tertidur. Dan Alin melihat kakaknya yang selalu tersenyum.
"Tidak apa-apa kak. Aku tahu kakak sibuk," jawab Alin kemudian menaruh roti bakar di depan Aura.
"Makanlah kak!" suruh Alin.
Dengan senang hati Aura pun memakan roti bakar itu dan menikmati rasanya. Enak, dan sesuai dengan lidahnya.
"Oh, iya bukankah sekarang kau sudah mulai magang. Magang di perusahaan mana?" tanya Aura.
"Di salah satu cabang perusahaan Kav Corp di bidang fashion," jawab Alin.
Aura pun mengangguk-angguk mengerti. Karena ia tahu perusahaan tersebutlah yang dipimpin oleh Rendra.
"Semangat!" ucap Aura menyemangati adiknya. Alin pun tersenyum menanggapi itu.
Keduanya sarapan sambil mengobrol banyak hal.
*
*
Di tempat lain, Kaila sangat gelisah karena keuangannya benar-benar sudah menipis. Andai saja Rendra tidak memblokir kartu kreditnya, mungkin saja Kalia masih bisa membeli apapun yang ia inginkan karena selama setahun lalu ia benar-benar hidup dengan uang Rendra meski sudah putus dengan pria itu.
"Sial! Aku harus cari uang dimana? Doni tidak bisa diandalkan dalam urusan uang. Aku selalu merasa kurang hanya dengan uang Doni saja," kesal Kaila.
"Kenapa berisik sekali? Ini masih pagi sayang!" ucap seorang pria yang ada di samping Kaila yang tak lain adalah Doni.
"Aku butuh uang, aku tuh mau perawatan sayang, lihat kulitku sudah mulai kusam, lihat juga wajahku yang sudah mulai timbul bruntusan," ucap Kalian mengadu ke Doni.
"Walau begitu kau tetap cantik di mataku sayang," ujar Doni sambil memeluk Kalia.
"Huh!"
Ada rasa senang dan kesal. Senang karena selalu dipuji oleh Doni. Kesal karena rupanya laki-laki yang ia cintai memang tidak bisa diandalkan dalam urusan keuangan.
*
*
TBC
__ADS_1