
Di panti asuhan, Naya masih mengobrol banyak dengan ibu panti. Mereka berdua hanya menyayangkan pernikahan Meira dan Elnan. Namun, jika dibalik semua itu, ada hikmahnya juga. Keduanya jadi bisa lebih dewasa dalam menghadapi masalah.
Meira pun ikut bergabung bersama dengan ibu panti dan Naya. Mereka mengobrol banyak sekali. Sampai ibu panti harus angkat kaki dari obrolan itu karena harus mengurusi satu hal.
Alhasil tinggallah Meira dan Naya disana. Naya menggenggam tangan Meira.
"Mama sudah dengar semuanya, Mei. Kalau kau tidak berniat untuk menggugurkan janin itu. Kalau kau juga tidak berselingkuh. Maafkan Elnan ya? Pasti kata-katanya saat kalian bertengkar dulu sangat-sangat menyakitkan. Kalau soal emosi, pria di keluarga kami memang bersumbu pendek. Sekali terpantik akan langsung meledak."
Mendengar ucapan Naya, Meira jadi menangis. Ia merasa sekarang ada orang yang mempercayai dirinya selain ibu panti, padahal dulu Elnan tidak mau mendengarkan apapun penjelasannya.
"Jika masih ada cinta, perjuangkan Mei! Daripada hati terus terluka. Apalagi pasti Elnan belum tahu kebenaran ini. Jika dia tahu, pasti dia akan merasa sangat bersalah adamu. Tapi, jika kau sudah tidak mencintai Elnan, maka carilah orang baru. Walaupun kau bukan menantu mama lagi, mama akan tetap menganggap mu sebagai anak perempuan mama."
Tangis Meira semakin pecah. Naya pun memberikan pelukan hangat untuk Meira.
"Dari perpisahan kemarin, kau akhirnya tau arti dari sebuah kepercayaan kan? Salah satu pondasi penting dalam sebuah hubungan."
Meira mengangguk di pelukan Naya.
Keduanya terus berpelukan hingga tangis Meira mereda.
"Kalau begitu mama pulang ya? Hari sudah menggelap pasti orang rumah nanti mencari-cari meskipun mama sudah bilang kalau ada disini."
Meira mengangguk.
"Mama akan coba jelaskan juga ke Elnan tentang semuanya. Boleh kan?"
Meira menggeleng.
"Biarlah ma, semuanya sudah berlalu. Jika aku memang berjodoh dengan Elnan, pasti dengan sendirinya ia akan tahu. Sekarang aku lebih nyaman seperti ini."
"Baiklah, jika itu maumu."
Naya akan mengikuti kemauan Meira meski tidak setuju. Namun ia akan tetap menghargai keputusan itu.
*
*
Naya sudah sampai di rumah, ia dikagetkan dengan sang suami yang duduk di sofa sambil mengangkat satu kakinya ke atas paha dengan ponsel yang terus ia gunakan.
"Kau sedang apa? Kenapa serius sekali?"
Richard tersentak mendengar suara istrinya. Ia langsung mendongak.
"Eh, kau sudah pulang sayang. Sini duduk dulu!" ajak Richard.
Naya pun menurut saja. Kini ia sudah duduk di samping Richard. Richard pun menjelaskan apa yang terjadi pada rumah tangga Rendra dan Aura.
__ADS_1
Naya terkejut, tapi ia tetap mendengarkan semuanya hingga selesai. Naya juga menceritakan tentang kebenaran dari Meira tentang pemicu kerusakan rumah tangganya dulu pada Richard. Ia hanya berjanji tidak bercerita pada Elnan, jadi kepada Richard dia selalu bercerita semua hal.
Richard jadi ikut-ikutan terkejut. Ia menghubungkan benang merah ini. Sepertinya memang ada orang yang sengaja membuat rumah tangga anaknya hancur.
"Sayang, apa kau berpikir sama denganku? Kalau sebenarnya ada pihak lain yang memang menginginkan rumah tangga anak kita hancur? Apa jangan-jangan itu semua dari musuhku? Tapi siapa?"
Naya mengangguk. Ia pun berpikir sama dengan Richard.
Richard terus berpikir keras hingga akhirnya muncul satu nama yang di pikirannya.
Rico
Laki-laki itulah musuhnya. Ia sudah mendengar jika Rico sudah keluar dari penjara puluhan tahu lalu. Tapi, Richard tidak ambil pusing untuk itu. Karena ia berpikir mungkin Rico sudah bertobat. Tapi, sekarang? Ia jadi berpikiran lain.
Dengan cepat, Richard meraih ponselnya dan menghubungi Nicolas.
"Tumben malam-malam begini telepon. Ada apa?" tanya Nicolas.
"Rico, dimana dia?" tanya Richard tiba-tiba membuat Nicolas jadi bertanya-tanya.
"Aku tidak tahu. Aku bahkan sudah mengerahkan anak buahku untuk mencarinya. Tapi nyatanya hasilnya nihil. Tapi, kemarin anak buahku tidak sengaja melihat nya di restoran," jawab Nicolas.
Terdengar helaan napas kasar dari Richard.
"Kenapa Rich? Apa sesuatu terjadi?"
"Sayangnya aku pun masih mencari Rich. Ya sudah nanti aku juga bantu sebisaku."
"Ya, terima kasih."
"Sama-sama."
Sambungan telepon berakhir.
"Bagaimana?" tanya Naya.
Richard menggeleng. Naya jadi menarik napas perlahan.
"Lebih kita istirahat saja, besok kita lanjut lagi penyelidikannya."
Richard mengangguk.
*
*
Rendra masih mencari keberadaan Aura. Ia bahkan sampai tidak makan, tidak minum, tidak istirahat juga. Padahal baru saja kembali dari luar kota.
__ADS_1
Di tempat sepi, Rendra menepikan mobilnya dan memukul-mukul stir kemudinya. Ia terus-menerus mengatai diri sendiri.
"B*go! B*go! B*go! Kenapa kau tidak bisa menjaga emosimu! Harusnya tanya dulu baik-baik dan dengarkan penjelasan Aura! argh!!!! Dasar b*go!"
Cairan bening pun menetes. Rendra benar-benar merasa bersalah. Ia takut, takut Aura benar-benar pergi meninggalkannya.
"Arghhh!!!!!"
"Aura, maafkan aku! Tolong maafkan aku! Aku salah! Aku b*go! Aku bodoh! Aku bahkan sudah menyakitimu dengan kata-kata kasar!"
Rendra mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia bingung harus kemana sekarang. Ia sudah mencari Aura di rumah Alin dan tidak ada Aura disana. Ia sudah mengunjungi rumah Sena tapi semuanya gelap seperti tidak da orang di rumah.
Alhasil, Rendra menghubungi Ansel siapa tahu pria itu tahu keberadaan Sena. Itu pikir Rendra.
"Dimana Sena?"
"Lah? Ya mana aku tahu! Dia tidak mengatakan apapun padaku."
"Aih! Kau, kau tahu orang yang dikenal Aura, selain Sena tidak?"
"Aneh! Kau yang suaminya kenapa malah bertanya padaku?"
"Hah! Sudahlah, aku matikan saja teleponnya. Bukannya menemukan solusi malah tambah pusing. Bye."
Rendra jadi bingung dan kesal sendiri. Ia pun melajukan lagi mobilnya entah kemana. Intinya sebelum Aura ditemukan, ia tidak akan pernah berhenti mencari.
*
*
Esok harinya, Aura sudah diperbolehkan untuk pulang oleh dokter. Aura juga diberikan beberapa vitamin agar kandungannya jadi kuat.
Kini Aura dan Sena berada di depan gedung rumah sakit sambil menunggu taksi yang lewat.
"Kau mau aku antar pulang kemana? Apartemen mu? Rumah mertuamu? Atau rumah Alin? Atau mau menginap di rumahku saja?"
"Ke rumahmu saja Sen. Aku tidak ingin Alin jadi ikut khawatir padaku. Sekarang kan dia lagi sibuk mengerjakan tugas akhirnya. Aku takut itu akan mengganggunya."
"Baiklah, ayo kita pulang ke rumahku," ucap Sena lalu menggandeng tangan Aura menaiki taksi yang sudah berhenti di depannya.
*
*
TBC
Jangan lupa mampir ke ceritaku yang baru. Judulnya Terjebak Cinta Jorell
__ADS_1