
"Apa itu artinya kau tidak akan pergi meninggalkan aku? Itu artinya kita tidak akan berpisah kan?" tanya Rendra.
Aura hanya mengangkat bahunya tidak tahu, membuat Rendra lemas seketika.
Lalu Aura mulai bicara lagi.
"Mandi dan bersihkan tubuhmu. Aku tidak mau melihatmu dalam keadaan seperti ini!" perintah Aura.
"Apa jika aku mandi nanti, kau akan tetap disini?"
"Iya."
Senyum Rendra mengembang. Setidaknya Aura akan ada bersamanya untuk saat ini. Dengan tenaga yang tersisa Rendra bangun dari posisinya. Namun, ia terjatuh.
"Ayo aku bantu!" ucap Aura. Rendra tersenyum lagi. Meski tak ada senyuman yang terlihat dari Aura ia merasa sangat senang Aura masih perhatian padanya.
Aura pun memapah Rendra ke dalam kamar mandi. Ia menyiapkan alat cukur dan peralatan mandi lainnya disana serta baju gantinya juga. Saat tangan Rendra terulur untuk mengambil alat cukurnya, tangannya seolah-olah tak memiliki kemampuan untuk menggenggam. Bagaimana tidak? Rendra sudah menghabiskan banyak sekali alkohol entah dalam waktu berapa lama.
Terdengar helaan napas dari Aura. Ia pun membantu Rendra untuk mencukur kumis dan jambang Rendra karena takut ketajaman alat cukur itu bisa membuat rahang Rendra berdarah.
"Kau minum berapa botol sih? Baumu tidak enak sekali!"
"Entah, aku tidak menghitungnya. Aku merasa lebih tenang ketika minum. Tapi setelahnya tubuhku rasanya lemas sekali."
"Bodoh memang!"
Tangan Rendra mulai melingkar di pinggang Aura, Aura tidak menyadari itu karena terlalu fokus untuk mencukur rambut-rambut halus di wajah Rendra. Setelah selesai, Aura meminta Rendra untuk mandi sendiri.
"Mandilah."
Rendra mengangguk.
__ADS_1
Aura pun keluar dari kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi itu. Ia mulai membersihkan botol-botol alkohol dan bungkus rokok yang ada di kamar. Ia juga membereskan tempat tidur dengan mengganti sprei dan sarung bantal dan gulingnya. Setelah itu ia menyemprotkan pengharum ruangan, agar bau alkoholnya sedikit menghilang.
Aura menutup pintu kamar dan melihat sang papa mertua sedang asik menonton serial kartun di televisi.
Richard yang mendengar suara pintu tertutup pun langsung menengok ke arah belakang dan melihat Aura yang masih berdiri sambil terdiam disana.
"Bagaimana Rendra? Apa dia sudah beranjak dari posisinya? Apa dia masih memiliki hasrat untuk hidup juga?"
"Sudah pa. Sekarang dia sedang mandi," jawab Aura.
"Baguslah, setidaknya dia sudah jadi manusia kembali, setelah tadi cosplay jadi mayat hidup," ucap Richard lalu fokus kembali pada tontonan nya.
"Bantulah mama di dapur, dia sedang menyiapkan makanan untuk Rendra dan papa."
"Baik pa."
Aura pun berjalan ke dapur dan melihat Naya sedang memotong sayuran untuk di buat sup.
"Aura bantu ya ma," tawar Aura.
Aura mengangguk.
Keduanya sibuk melakukan tugasnya masing-masing. Sampai akhirnya Naya menanyakan langkah apa yang akan Aura pilih untuk hubungan mereka selanjutnya.
"Mama tahu ini pasti berat untukmu. Mama juga tahu, pasti kau juga masih merasa sakit hati dengan Rendra. Tapi, masalah ini harus segera diselesaikan. Apalagi kau sedang mengandung Au. Mama tidak ingin kau kesusahan sendirian nantinya. Semoga pilihanmu nantinya adalah yang terbaik. Kalau mama boleh kasih saran. Berikan kesempatan untuk Rendra. Mama yakin Rendra tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Kalau kalian berdua sampai bercerai, orang yang mendalangi rusaknya rumah tangga kalian akan tertawa bahagia karena rencananya berjalan dengan lancar. Maaf, maaf sekali kau harus terlibat dalam masalah keluarga ini."
"Aku akan memikirkannya baik-baik ma. Aku juga sudah mengatakan ke Rendra, kalau harus sama-sama introspeksi diri. Mungkin aku tidak akan tinggal disini dulu. Aku masih butuh waktu beberapa hari untuk menjernihkan pikiran dan hatiku."
"Iya mama mengerti."
Rendra sudah selesai mandi. Tubuhnya terasa lebih segar dan sedikit bertenaga. Ia pun keluar dari kamar mandi dan tak melihat Aura di kamarnya. Ia langsung membuka pintu dan berteriak-teriak mencari Aura.
__ADS_1
"Aura! Aura! Kau dimana!"
"Haishh!!! Berisik sekali! Istrimu ada di dapur. Sudah duduk saja sini temani papa," pinta Richard.
Rendra pun menuruti ucapan papanya. Tetapi, ia sambil mencuri-curi pandang ke arah dapur untuk melihat Aura.
"Makanya kalau cinta itu dijaga jangan disakiti. Wanita itu jika sudah marah sangat menakutkan. Apalagi karakter mamamu dan Aura sama persis. Jadi, papa sedikit paham dengan Aura. Kalau nantinya Aura memaafkan mu. Kau jangan sampai mengulangi hal yang sama lagi. Sekali lagi menyakitinya, papa sendiri yang akan memisahkan kalian. Lalu jangan harap kau akan mendapatkan warisan dari papa. Karena warisanmu akan papa turunkan ke anakmu kalau kau menyakiti Aura. Ingat itu baik-baik!"
Rendra mengangguk dan tak ingin menjawab ucapan papanya. Ia tahu ucapan papanya barusan adalah sebuah kesungguhan dan seperti sebuah perintah yang tidak boleh dilanggar.
Tiba-tiba Richard mendapatkan telepon dari Nicolas. Ia langsung mengangkatnya.
"Rich, aku tahu dimana keberadaan Rico. Tapi akan sangat sulit sekali untuk bisa sampai bertemu dengannya."
"Dimana? Si bajingan itu ada dimana? Mau sesulit apapun itu, aku akan tetap menemuinya. Meski belum ada bukti kalau dia yang merusak rumah tangga kedua anakku. Aku sangat-sangat yakin dialah pelakunya."
"Sudah aku kirim alamatnya padamu. Kalau kau ingin kesana jangan lupa ajak-ajak aku."
"Oke, thanks Nic."
Panggilan pun berakhir.
"Siapa yang papa maksud bajingan?" tanya Rendra yang penasaran.
"Orang yang papa curigai telah merusak rumah tanggamu dan Elnan. Dia adalah musuh masa lalu papa," ucap Richard.
Rendra membelalakkan matanya tidak percaya. Ia tidak menyangka kalau rusaknya rumah tangga kakaknya dulu juga karena sebuah jebakan.
Astaga! Aku dan kakak benar-benar bodoh!
*
__ADS_1
*
TBC