Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 40 - Menjadi sepasang kekasih sungguhan


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir Rendra dan Aura menjadi kekasih pura-pura. Untuk itu Rendra benar-benar memanfaatkan waktunya untuk seharian bersama Aura tanpa melakukan pekerjaan apapun. Mereka berdua berjalan-jalan dari tempat satu ke tempat yang lainnya.


Rendra membawa Aura ke taman bermain. Kata Ansel wanita itu suka dengan suasana taman bermain. Bisa menaiki banyak wahana. Dan benar saja, Aura tampak menikmati wahana yang sedang mereka naiki berdua yaitu rollercoaster. Terkadang Aura bersorak riang di saat rollercoaster mulai turun dari puncak tertingginya. Terkadang matanya terpejam karena sedikit takut melihat ke bawah ketika rollercoaster nya menanjak. Ekspresi di wajah Aura ketika itu benar-benar membuat Rendra terpesona dan tersenyum diam-diam. Bahkan bisa di ingat kapan terakhir kali ia bermain sebahagia ini. Mungkin ketika ia kecil dulu.


Selesai itu, Rendra membelikan ice cream rasa stroberi untuk Aura dan rasa vanila untuknya. Mereka berjalan sambil memakan ice cream itu. Tanpa sengaja, ada orang yang lewat dengan tergesa-gesa hingga membuat ice cream yang Aura makan mengenai pipinya dan ice yang ia pegang pun terjatuh.


Rendra yang melihat itu, langsung mengelap ice cream yang ada di pipi aura dengan tangannya.


"Udah bersih," ucap Rendra.


Aura malah terdiam mematung. Karena jarak antara dia dan Rendra sangatlah dekat. Pria itu berada tepat di hadapannya.


"Eh, sebentar, masih ada sedikit," ucap Rendra lalu agak menundukkan kepalanya untuk melihat bekas ice cream yang menempel disana.


Duh! Kenapa harus dekat-dekat sih! Kalau dia mendengar detak jantungku bagaimana?


Batin Aura bersuara. Ia benar-benar gugup dan takut Rendra bisa mendengar detak jantungnya. Selesai dengan apa yang Rendra lakukan, Rendra pun memberikan ice cream nya untuk Aura.


"Habiskan saja punyaku," ujar Rendra sambil menyerahkan ice cream nya.


Karena tak kunjung diterima. Rendra menarik tangan Aura dan menaruhnya di tangan Aura. Sementara tangan satunya Rendra gunakan untuk menggandeng tangan Aura. Layaknya sepasang kekasih, keduanya berjalan sambil bergandengan.


Entah kenapa hatinya terasa menghangat. Rendra jadi tidak ingin momen ini berakhir begitu saja.


Hingga malam pun tiba. Keduanya berada di tepian pantai sambil melihat ke langit yang bertaburan bintang. Deburan ombak seakan mengiringi keduanya. Suasana tampak sunyi karena orang yang berlalu lalang di pantai sudah mulai pulang dan juga cuacanya yang terasa dingin.


"Au, setelah kita tidak jadi kekasih lagi. Apa kau masih akan jadi wanita bayaran?" tanya Rendra.


"Tentu saja. Memangnya aku dapat uang darimana jika bukan jadi wanita bayaran?" jawab Aura.


"Jika aku katakan aku akan membantumu mencari pekerjaan lain bagaimana? Jadi kau tidak usah jadi wanita bayaran."


"Memang pekerjaan apa yang ingin kau tawarkan? Aku hanya lulusan SMA, Ren. Paling mentok-mentok jadi pelayan restoran, kasir atau bahkan OB dan gajinya tidaklah seberapa. Sedangkan keperluanku banyak," jawab Aura lagi.


Rendra menarik napas pelan.

__ADS_1


"Jadi kekasihku lagi," ucap Rendra.


Aura tersenyum kecut.


"Lebih baik jangan Ren. Kau sudah mengeluarkan uang terlalu banyak hanya untuk menyewa ku sebagai kekasih pura-pura mu. Lagipula, pasti sudah banyak klien yang mencari-cari ku."


"Aku serius Au. Jadi kekasihku lagi bukan pura-pura tapi sungguhan."


Aura sedikit terkejut dengan pernyataan Rendra tersebut. Ia bertanya-tanya dalam hatinya. Apa Rendra mengatakan itu karena kasihan padanya? Atau memang ada rasa padanya? Tapi kenapa bisa? Dia hanya orang dari kelas rendahan.


"Becanda mu tidak lucu," sahut Aura.


"Apa aku terlihat becanda, Au?" ujar Rendra sambil menarik Aura untuk menghadap ke arahnya dan menatap Aura dalam-dalam.


Aura meneguk ludahnya. Ia bisa melihat dari mata Rendra yang tidak sedang bercanda. Itu berarti ajakan Rendra adalah kebenaran bukan kebohongan.


"Apa kau sudah percaya cinta lagi?" tanya Aura untuk memastikan.


"Iya."


"Iya."


"Apa kau nyaman berada di dekatku?"


"Iya."


"Apa kau mencintaiku?"


"Iya."


Pertanyaan yang dilontarkan Aura selalu dijawab dengan kata iya oleh Rendra tanpa sedikit pun berpaling dari menatap Aura.


"Kenapa kau mencintaiku?"


"Haruskah ada alasan untuk itu?"

__ADS_1


Aura mengangguk.


"Baiklah, alasannya karena itu kau. Apa yang kau lakukan aku suka. Semua yang ada di dirimu aku suka. Apa sudah cukup?"


Deg! Deg! Deg!


Jantung Aura berdetak tak beraturan seolah menabuh genderang perang disana. Ia benar-benar tidak menyangka Rendra akan menyukainya. Dan sebenarnya ia juga nyaman berada di dekat Rendra, apalagi keluarga Rendra yang begitu menerimanya dengan baik. Tapi ...


"Lebih baik cari wanita lain saja Ren. Aku tidak pantas untukmu," tolak Aura.


"Apa itu artinya kau menolak ku? Kalau alasanmu menolak karena status sosial. Mulai hari ini kita benar-benar sepasang kekasih sungguhan. Tapi kalau menolak dengan alasan tidak mencintaiku dan mencintai laki-laki lain, aku menerima penolakan mu," ujar Rendra.


Aura menggigit ujung kukunya. Jika ia mengatakan tengah mencintai laki-laki lain. pasti Rendra akan bertanya siapa orangnya.


Duh! Serba salah.


"Au," panggil Rendra dengan suara lembutnya sambil menggenggam tangan Aura.


"Status sosial itu tidak penting bagiku. Aku hanya butuh kau mencintaiku. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku berjuang membantumu."


Aaaa. Kenapa kata-kata yang dia ucapkan romantis sekali sih? Kemana Rendra yang kejam dan dingin itu? Aku jadi ...


"Bagaimana? Sudah mendapatkan jawabannya?"


"A-aku t-terima," jawab Aura sambil memalingkan wajahnya malu-malu.


Rendra tersenyum kesenangan. Dua kata itu sudah cukup baginya. Ia tidak mau bertanya lagi karena takut Aura berubah pikiran.


Keduanya terdiam cukup lama. Rasa canggung mulai hadir di antara mereka. Menjadi sepasang kekasih yang sesungguhnya seakan seperti mimpi. Rendra menaruh kepala Aura untuk bersandar di bahunya. Mereka menikmati waktu bersama sebagai sepasang kekasih mulai malam itu.


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2