Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 89 - Rencana


__ADS_3

Malam pun tiba, di saat para wanita di keluarga Kavindra sudah tidur, para lelaki di keluarga Kavindra malah berkumpul di ruang kerja Richard. Tentunya ada Nicolas dan Ansel juga disana.


"Yang paling utama sekarang adalah kita harus bisa masuk dulu ke dalam rumah Rico. Itu artinya kita harus melumpuhkan penjagaan di luar. Lalu setelah itu, kita tetap harus waspada karena kemungkinan besar, rumah Rico dijaga oleh orang-orang yang mengerikan. Ketika kita mengendap-ngendap ke dalam pun, harus tetap berhati-hati. Karena firasat ku mengatakan Rico sudah ikut dengan geng-geng mafia atau sejenisnya," jelas Richard.


"Lalu gimana cara melumpuhkan para penjaga di depan tanpa menimbulkan adanya keributan Rich? Aku tidak bisa memikirkan apapun," jawab Nicolas menanggapi.


"Aku ada ide, pa, om," sahut Rendra.


"Apa itu?" tanya keduanya bersamaan.


"Kita sewa wanita cantik untuk berdagang minuman atau jamu gitu di depan rumah itu dan minumannya sudah lebih dulu dicampur dengan obat tidur. Otomatis hal itu tidak akan menimbulkan keributan."


Richard mengangguk setuju.


"Masalahnya wanita mana yang harus kita sewa Ren?" tanya Richard lagi.


Rendra tersenyum miring.


"Sena, temannya Aura. Dia pasti sudah ahli dalam urusan begini. Aku akan meminta tolong padanya."


Ansel terkejut. Ia tidak terima jika Sena akan diikutsertakan dalam rencana ini. Ia takut Sena nantinya akan terlibat dan berada dalam bahaya.


"Tidak, tidak, jangan Sena. Cari wanita lain saja," tolak Ansel.


"Hih? Kenapa menolak? Lagian yang aku minta bukan kau. Aku akan langsung menanyakannya besok. Jika Sena mau, kita bisa langsung bertindak pa. Mau siang atau malam hari itu terserah papa saja."


"Oke bagus."


"Yang jadi poin utamanya sekarang, kita datang kesana itu untuk apa? Menghajar musuh papa itu? Atau gimana sih? Aku masih belum mengerti pa. Masalahnya kalau hanya bukti rekaman suara saja kurang bisa meyakinkan polisi pa. Kita masih kekurangan buktinya."


Richard tampak berpikir lagi. Ucapan Elnan ada benarnya juga. Mereka tetap harus melakukan penyelidikan secara lebih menyeluruh dulu sebelum bertindak. Hal yang dilakukan secara tergesa-gesa dan tanpa rencana akan membaut semuanya runyam dan sia-sia.


"Kalau begitu, Elnan dan Rendra cari tahu bisnis apa yang sedang digeluti oleh Rico. Papa yakin bisnisnya ilegal. Dengan begitu ada satu bukti yang membuatnya bisa mendekam di penjara lagi. Khusus kau dan anakmu kalian cari siapa saja yang berkerja sama dengan Rico. Cari tahu siapa saja yang pernah ditemui oleh Rico. Dan aku sendiri, aku akan memerintahkan orang untuk mencari tahu informasi tentang Rico di sekitar rumahnya."


Semuanya mengangguk setuju. Lalu pertemuan untuk menyusun rencana pun selesai.


*

__ADS_1


*


Rendra mulai mencari tahu tentang Rico di internet dan dari orang suruhannya. Namun, ternyata tidak banyak informasi yang ia dapatkan.


Huh!


Sedetik kemudian, ia teringat dengan Albert yang dulu pernah ingin melecehkan Aura. Ia meminta data-data pria itu lagi dan mengecek siapa saja yang pernah bersinggungan dengannya.


RJ Group


Nama perusahaan yang Albert pimpin. Rasanya sangat sedikit janggal.


"Ah, siapa ya nama asli musuh papa itu, Rico, Rico, Rico, Je ... Je ... Jekano."


Setelah agak lama berpikir, akhirnya Rendra mengingat nama asli dari musuh papanya itu.


"Rico Jekano kalau disingkat jadi inisial itu berarti RJ. Apa jangan-jangan pemilik sebenarnya dari RJ Group adalah Rico Jekano? Wah, kalau benar, ini sebuah kesempatan emas. Aku bisa menjebloskan keduanya ke dalam penjara."


Walaupun begitu, Rendra tak ingin salah menyimpulkan. Ia tetap akan mencari benang merahnya hingga terhubung dengan sempurna. Ia segera memerintahkan bawahannya lewat telpon untuk mencari lebih banyak informasi tentang Albert dan Rico.


Lalu, ia menelpon Sena untuk memberitahukan rencananya semalam.


"Bukan. Aku ingin meminta bantuanmu untuk memuluskan rencana. Aku hanya ingin kau berpura-pura menjadi pedagang minuman yang mana di dalamnya sudah ada obat tidur."


"What!!! Kau mau menjebak siapa hah?!" Sena langsung berapi-api.


"Jangan memotong dulu. Aku belum selesai menjelaskannya padamu. Aku beserta yang lainnya sedang ingin menjebak pelaku yang membuat kehidupan rumah tanggaku dan rumah tangga kakakku rusak. Dan fakta mengejutkannya, dia adalah musuh lama ayahku. Jadi intinya begitu. Kau mau membantunya tidak?"


"Oke, oke, aku siap membantu. Kalau itu sudah menyangkut Aura. Apapun akan aku lakukan supaya dia bisa bahagia. dan tidak berada dalam bahaya lagi. Kapan rencananya akan dilaksanakan?"


"Untuk eksekusinya, aku akan memberitahumu lagi. Kita semua masih mengumpulkan bukti, akan ketika menyerbu nantinya. Kita bisa langsung melaporkannya juga ke polisi."


"Oh begitu, ya sudah aku tunggu kabar selanjutnya."


"Iya, terima kasih Sen."


"Berterimakasih lah pada istrimu. Kalau begitu sudah dulu ya, aku akan luluran dulu bersama Aura. Bye."

__ADS_1


Rendra hanya mampu menghela napasnya. Sejujurnya ia ingin sekali mengatakan rencana ini langsung kepada Sena sekaligus ingin melihat wajah Aura. Rasanya berat sekali harus berpisah rumah dan ranjang dengan istrinya sendiri. Bahkan di tengah malam, Rendra selalu tidak bisa tidur karena tak ada Aura di sampingnya.


"Sudahlah, terima nasibmu saja Rendra. Lagian salah sendiri, kenapa tidak bisa menjaga emosi, huh!" Rendra mengejek dirinya sendiri.


*


*


Berhari-hari telah berlalu, semua informasi sudah terkumpul. Richard tersenyum senang melihat semua kertas yang berisi tentang data diri Rico setelah keluar dari penjara. Tentang dirinya yang mulai membuat usaha kecil-kecilan dan sampai akhirnya terjerumus ke dalam bisnis ilegal dengan menyelundupkan barang haram ke luar kota maupun luar negeri. Bukti-bukti ini sudah cukup untuk membuat Rico mendekam lagi di penjara. Richard jadi tidak sabar untuk meringkus kembali si Rico itu. Bahkan tangannya sudah mengepal sangat keras.


Rencananya besok, penggrebekan akan dimulai.


"Aku tidak akan membiarkanmu untuk lolos lagi Rico. Kau sudah mengganggu kehidupan anak-anakku. Aku tidak ingin kau hidup dengan nyaman setelah ini," ucap Richard dengan tatapan yang mengerikan.


"Papa, papa ayo turun. Makan malam sudah siap."


Suara Naya membuat Richard yang dingin dan dipenuhi amarah jadi lembut kembali.


"Iya sayang, aku akan segera turun," jawab Richard.


Makan malam pun berlangsung dengan sangat ramai. Karena Ela selalu menjadi penghibur di antara mereka.


Setelah makan malam, Rendra pergi ke kolam renang dan duduk di tepi kolam renang sambil mencelupkan kakinya ke dalam air.


Ela mendekat dan mengikuti apa yang dilakukan oleh Rendra. Ia menepuk-nepuk bahu Rendra mencoba memberikan semangat pada kembarannya itu.


"Aku yakin, Aura pasti memilih untuk melanjutkan hubungan kalian berdua. Ada banyak faktor yang bisa membuat Aura tidak bisa putus hubungan denganmu. Salah satunya janin yang ada di dalam kandungan Aura. Beberapa temanku mengatakan, jika terkadang ibu hamil ingin selalu ada di dekat suaminya. Itu karena kemauan si bayi. Jika hal itu terjadi pada Aura, gunakan kesempatan itu untuk membuat Aura tidak bisa pergi jauh darimu."


Setelah mengatakan itu, Ela bangkit dari posisinya dan masuk ke dalam rumah.


Rendra tersenyum melihat kepergian kembarannya itu. Interaksi antar keduanya memang jarang yang seperti ini. Karena kebanyakan keduanya akan saling bertengkar dan adu bicara.


"Kali ini aku akan mendengarkan ucapan mu El."


*


*

__ADS_1


TBC


__ADS_2