
Sudah berhari-hari Rendra mengalami gejala morning sickness. Ia bahkan tidak bisa pergi kemana pun karena saking lemas nya. Baru jalan sebentar, kepala sudah pusing, mual dan berakhir pingsan. Jadinya, untuk pencarian Aura, ia berikan pada orang suruhannya.
Semenjak kepergian Aura, Rendra memutuskan untuk tinggal bersama kedua orang tuanya. Karena ketika tinggal sendiri, terasa menyedihkan bagi Rendra.
"Huh!"
Rendra membuang napasnya perlahan. Ia melihat fotonya dan Aura di dalam galeri ponselnya.
Cantik sekali.
Foto Aura yang tersenyum sembari memperlihatkan deretan giginya. Tatapan matanya yang teduh, membuat Rendra selalu merasa nyaman.
Namun, kenyamanan itu sekarang telah menghilang akibat ulahnya sendiri.
"Huh!"
Lagi-lagi Rendra membuang napasnya. Nyatanya, urusan percintaan tidaklah mudah baginya. Lebih mudah mengurusi perusahaan.
"Kalau saja aku bisa mengontrol emosi dan ucapanku, pasti jadinya tidak begini kan? Kalau saja aku tidak percaya pada foto dan isi pesan itu, Asti sekarang aku sedang menemani Aura di masa kehamilannya."
Rendra menunduk, memejamkan matanya. Lalu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
"Ternyata benar kata orang, mendapatkan itu mudah, yang sulit itu mempertahankan. Baru dapat masalah dikit saja, aku langsung kelepasan. Benar-benar laki-laki bodoh yang tidak bisa mempertahankan wanitanya! Huh!"
Rendra menghina dirinya sendiri. Setelah puas menghina dan mengolok-olok dirinya. Rendra keluar kamarnya dan melihat semua anggota keluarganya sudah berkumpul di meja makan.
Meja makan terasa sepi. Tak ada satu pembicaraan apapun. Lalu setelahnya, Rendra bertanya pada papanya.
"Pa, apa sudah ditemukan siapa pelakunya?"
"Sebenarnya waktu itu pelakunya sudah hampir tertangkap. Tapi, orang suruhan papa kehilangan jejaknya karena bertepatan ada truk yang lewat di tengah jalan. Makanya tidak terkejar. Tapi, mereka masih mencari dari plat mobil yang digunakannya. Semoga cepat atau lambat, bisa segera ditemukan."
"Semoga saja pa. Aku ingin sekali menghajar wajahnya dan ingin tahu apa motifnya."
Richard mengangguk.
"Bagaimana dengan Aura? Kau sudah menemukannya?" tanya Richard.
Rendra menggeleng.
"Sampai saat ini aku belum menemukannya pa," jawab Rendra sambil tertunduk.
"Apa Aura benar-benar ingin pergi dariku? Apa aku tidak memiliki kesempatan lagi, pa?" tanya Rendra pada papanya.
"Kesempatan itu selalu ada asalkan kau bersungguh-sungguh dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."
__ADS_1
"Iya, aku akan mencari Aura sampai ketemu lalu meminta maaf padanya."
"Bagus! Itu baru anak papa."
Yang sebenarnya terjadi adalah, semua orang suruhan Rendra sudah beralih tugas untuk membantu mencari si pelaku. Mereka hanya melaporkan hal yang diminta oleh Richard bahwa Aura masih belum ditemukan.
Rendra pergi dari sana dan duduk di taman rumah. Ia mengingat lagi kenangan disana bersama Aura. Dimana wanita itu berlari-lari kecil sambil mengejar kupu-kupu. Juga tawa bahagianya ketika mereka berkebun bersama.
"Dasar bodoh!"
Lagi-lagi Rendra mengumpat dirinya sendiri.
*
*
Setelah mendapatkan pesan alamat dimana keberadaan Aura. Esok harinya, Naya benar-benar datang ke rumah Sena.
Pintu diketuk sebanyak tiga kali. Lalu tak lama kemudian seseorang terlihat membuka pintunya.
Dan keduanya saling tatap lalu berpelukan.
"Syukurlah, akhirnya mama benar-benar bisa tenang setelah melihat keadaanmu," ucap Naya lalu melepaskan pelukannya.
"Mari masuk ma," ajak Aura.
"Sudah makan?" tanya Naya.
Aura mengangguk.
"Aku bahkan sudah makan 2 kali hari ini ma. Nyemil makanan saja sudah sampai beberapa kali. Rasanya perutku terus merasa lapar. Aku bahkan sampai harus meminjam uang Sena terus. Karena ketika aku pergi dari apartemen. Aku tidak membawa apapun, bahkan ponsel saja ketinggalan," ucapnya sambil tersenyum miris.
"Ya Tuhan Aura. Ini pakai kartu kredit dan ATM mama untuk keperluanmu disini. Kalau bisa beli ponsel baru juga," ucap Naya sambil menyerahkan kartu ATM dan kartu kreditnya.
"Tapi, ma ... "
Saat ingin menolak Naya langsung berucap lagi.
"Sudah jangan ditolak. Pakai saja yang penting sekarang kau harus penuhi segala kebutuhanmu dan nutrisi untuk bayi di dalam kandunganmu. Pakai juga untuk bayar uang ganti selama kau meminjam uang Sena."
Yang awalnya menolak, Aura jadi menerimanya.
"Terima kasih ma."
"Iya sama-sama. Apa sih yang tidak untuk menantu dan calon cucu mama."
__ADS_1
Aura tersenyum mendengar.
"Astaga!"
Aura tiba-tiba menepuk keningnya.
"Maaf ma, aku lupa tidak menyiapkan jamuan untuk mama."
"Tidak perlu sayang. Oh, iya bicara tentang jamuan. Mama bawa makanan untukmu, sebentar, mama ambil dulu di bagasi."
Tak butuh waktu lama, Naya membawa beberapa kotak makanan yang ketika dibuka isinya ada berbagai masakan olahan. Naya yang melihatnya langsung tiba-tiba lapar lagi.
"Habiskan semuanya ya. Mama kesini cuma sebentar, jadi jaga diri baik-baik ya Au. Ucapkan terima kasih juga dari mama ke Sena ya. Mama pergi dulu."
Aura mengangguk.
"Sekali lagi terima kasih ya ma. Aku akan gunakan apa yang mama berikan dengan baik. Hati-hati di jalan ma."
*
*
Tok tok tok
Terdengar suara pintu yang diketuk dari luar.
"Siapa?" tanya Jack yang ada di dalam rumah.
"Paket makanan dari tuan Rico."
Jack pun langsung bergegas membuka pintunya. Benar saja, ada berbagai jenis menu yang dikirimkan oleh Rico pada Jack.
"Ada pesan juga dari tuan Rico. Katanya jika anda menginginkan sesuatu, anda bisa menghubungi saya. Saya ditugaskan untuk menjaga keberadaan anda oleh tuan Rico."
"Ah, baik."
"Kalau begitu, cepatlah masuk ke dalam. Karena orang suruhan keluarga Kavindra masih berkeliaran di sekitar sini. Untuk selanjutnya, aku akan mengirimkan pesan jika makananmu sudah datang. Tolong juga ketika keluar dari pintu, pakaian masker agar wajahmu tidak dikenali."
"Baik, saya akan mendengarkan semua perkataanmu."
"Bagus! Semoga anda bisa bekerja sama dengan baik."
Setelahnya Jack masuk lagi ke dalam rumah dan si penjaga pun pergi dari sana untuk bersembunyi dan berjaga diam-diam.
*
__ADS_1
*
TBC