
Keesokan harinya, Meira diantar pulang oleh Elnan ke panti.
"Lho kok dibawa pulang?" tanya ibu pura-pura keheranan.
"Kalau nggak dibawa pulang takut kelepasan Bu, hehe," jawab Elnan.
Ibu panti hanya menanggapinya dengan tersenyum. Ia pun mempersilahkan Elnan untuk mampir sekedar makan dan minum lebih dulu. Tapi Elnan menolaknya. Jadinya, ia langsung pulang ke rumahnya.
"Bagaimana hubunganmu dengan Elnan?Sudah membaik?" tanya ibu mulai penasaran.
Meira yang ditanya begitu jadi tersenyum lalu mengangguk.
"Semoga akan terus membaik ya. Ibu berharap kalian bisa rujuk kembali," ucap ibu lalu menepuk bahu Meira kemudian pergi.
*
*
Elnan baru saja tiba di rumah, ia bahkan senyum-senyum sendiri. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Sampai-sampai satpam di rumahnya saja ia sapa. Benar-benar keajaiban dari cinta.
Naya yang melihat anaknya yang sudah banyak tersenyum jadi ikutan senyum.
"Darimana semalam? Kenapa nggak pulang ke rumah?"
"Hehe, nginap di apartemen ma," jawabnya.
Naya hanya geleng-geleng kepala.
"Sendirian?"
"Sama Meira," jawabnya lagi.
Naya sedikit terkejut kemudian menatap anaknya penuh selidik.
__ADS_1
"Kau nggak melakukan apapun padanya kan?"
"Memangnya aku mau melakukan apa sih ma?"
"Ya, siapa tahu harimau di dalam tubuhmu sudah siap menerkam mangsanya. Mama kan hanya bertanya."
"Aman. Semua masih aman terkendali ma. Tapi, sepertinya kalau aku nggak pulang sepagi ini, mungkin saja aku bisa kelepasan, hehe."
Naya hanya menepuk jidatnya sendiri.
"Ya sudah sana pergi mandi dan setelah itu makan. Urusan itu, kita bicarakan lagi nanti."
"Siap ma."
*
*
Malam harinya di club Century, Ansel datang untuk menemui Sena. Kali ini ia benar-benar berniat untuk mengeluarkan Sena dari sana. Tidak peduli jika Sena akan menolaknya lagi.
Sena berjalan menghampiri Ansel lalu duduk di sampingnya.
"Ada apa panggil-panggil?"
"Hm, kali ini tolong percaya padaku. Aku benar-benar akan mengeluarkan mu dari sini. Bukan untuk jadi wanita pemuas nafsu lagi. Tapi jadi kekasih hatiku. Mau tidak?"
Sena menatap wajah Ansel penuh selidik. Ia mencari kejujuran di mata itu. Ia hanya takut dibohongi dan dihancurkan hatinya karena sudah berlabuh dan percaya pada orang yang salah. Namun, Sena malah melihat kejujuran disana.
"Keluarkan saja kalau bisa," ucapnya.
Ansel tersenyum senang mendengarnya.
"Tentu saja bisa. Lihat saja besok, pasti kau sudah keluar dari sini," ucapnya lalu pergi.
__ADS_1
Sena dibuat heran dengan tingkah Ansel yang agak berbeda. Ia tak lagi meminta Sena untuk memuaskan hasratnya. Bahkan sepertinya Ansel datang tidak untuk minum atau bermain wanita.
"Mungkin hanya pikiranku saja."
Sena kembali bekerja dan melayani para tamu yang datang dan mengantarkan minuman yang dipesan.
Esok harinya, Sena mendapatkan kabar dari Mami Lena kalau dia sudah bukan lagi anak anak asuhnya dan sudah membayar denda pemutusan kontrak.
Sena masih tidak percaya akan hal itu. Ia bahkan sampai membuka pesan dari Mami Lena berkali-kali untuk memastikan itu semua. Dan hasilnya masih sama.
"Ya Tuhan! Apa ini benar?"
Tiba-tiba saja Sena mendapatkan sebuah telepon dari Ansel.
"Gimana? Sudah dapat kabar belum? Sudah percaya padaku?"
"Sel, kenapa kau melakukan semua ini?"
"Jawabannya sederhana. Aku cuma ingin merajut kisah bersamamu."
"Apa sekarang bulan April?"
"Bukan," jawab Ansel.
"Jadi kau tidak sedang bercanda padaku?"
"Tentu saja tidak. Nanti sore aku akan menjemputmu ke rumah. Dandan yang cantik ya. bye."
Sambungan telepon pun berhenti. Sena masih merasa tidak percaya akan semua ini. Rasanya seperti mimpi. Ia bahkan mencubit tangannya untuk memastikan semuanya bukanlah mimpi.
"Ternyata sakit. Jadi ini nyata ya?"
*
__ADS_1
*
TBC