
Esok harinya, Aura di ajak Sena ke mall. Sena bilang dia ingin membeli beberapa gaun baru yang cantik dan seksi karena gaunnya yang ada di rumah sudah lusuh dan jelek.
Ketika sudah ada di toko pakaian, Sena menanyakan pendapat Aura tentang gaun yang dipilihnya.
"Jangan yang itu, terlalu terbuka dan ketat."
"Tapi, aku kan memang cari yang seperti itu Au. Aku akan ambil ini."
Aura hanya menggelengkan kepalanya. Percuma saja mengungkapkan pendapatnya karena jika Sena sudah suka itu akan sulit.
Sena terus mencari-cari gaun dengan model lain. Matanya tiba-tiba terpesona dengan sebuah lingerie berwarna merah muda. Ia akan membelinya dan memberikan lingerie itu ke Aura.
Setelah melakukan pembayaran di kasir, Sena memberikan satu paper bag ke Aura.
"Apa ini?"
"Hadiah untukmu karena sudah menemaniku belanja. Jangan lupa dipakai kalau kau mau melakukan anu-anu sama Rendra."
"Ih, apaan. Aku masih belum menikah, tidak boleh melakukan itu," ucap Aura lalu memberikan kembali paper bag pemberian Sena.
"Sudah terima saja. Kan bisa dipakai setelah kau nikah nanti."
"Baiklah."
Akhirnya Aura pun menerima hadiah dari Sena.
Mereka berdua pun pergi ke restoran Jepang karena Sena ingin makan makanan itu. Sambil menunggu pesanan datang, Aura terus berkirim pesan dengan Rendra. Katanya laki-laki itu akan menyusulnya kesana.
"Nanti Rendra akan kesini. Jadi jangan pulang dulu ya."
"Aku sih nanti setelah Rendra datang akan langsung pergi. Bisa-bisa jadi obat nyamuk kalau terus bersama kalian."
"Huh!"
Makanan pun datang. Keduanya menikmati makanan. Karena saking sukanya, Sena manambah pesanan. Sementara Aura akan pergi ke toilet.
"Jangan lama-lama nanti tunanganmu mencari!"
"Iya, cuma sebentar kok."
Suasana mall di hari itu sangatlah ramai. Hingga Aura tidak sadar ada seseorang yang berlari di belakangnya dan menabraknya hingga akan terjatuh. Harusnya sih aura sudah ada di lantai dan kesakitan. Namun nyatanya ada seseorang yang merengkuh pinggangnya dari belakang untuk menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
"Kau tidak apa-apa?" ucap laki-laki itu.
"Eh." Aura tersadar dan membalikan tubuhnya untuk mengetahui orang yang sudah menolongnya.
"Malvin, terima kasih ya sudah menolongku."
__ADS_1
"Iya sama-sama. Lain kali hati-hati."
"Benar tidak apa-apa kan? Tidak ada yang luka kan? Atau ada yang memar?" ucap Malvin yang khawatir sambil memegang lengan Aura.
Tiba-tiba seseorang datang dan menarik Aura untuk berada di sisinya.
"Siapa kau! Beraninya menyentuh tunanganku!" ucap Rendra dengan tatapan tajam dan aura tak bersahabatnya.
Aura meraih tangan Rendra agar laki-lakinya bisa meredakan emosinya.
Mengetahui orang itu adalah tunangan Rendra, Malvin jadi merasa rendah diri.
Jadi, Aura sudah bertunangan dengan Rendra? Apa itu artinya aku benar-benar tidak memiliki kesempatan lagi?
Malvin sadar dirinya bukan apa-apa dibandingkan dengan Rendra. Dari segi kekayaan, kekuasaan, kemampuan semuanya sudah kalah. Rendra sudah banyak memiliki penghargaan.
"Sekali lagi terima kasih ya Vin. Lebih baik kau pergi saja. Maaf juga atas sikap tunanganku."
"Kenapa harus minta maaf sih?"
Malvin pun mengikuti saja apa yang diucapkan Aura. Setelah berjalan agak jauh, Malvin menoleh dan melihat Rendra yang begitu posesif pada Aura.
"Ternyata mereka berdua saling mencintai."
Kembali lagi pada Rendra dan Aura.
Aura menelan salivanya sendiri.
Haruskah aku bilang kalau Malvin adalah mantan kekasihku?
Aura pun menceritakan semuanya tentang kejadian tadi dan tentang Malvin yang adalah mantan kekasihnya.
"Oh, dia mantanmu. Masih tampan aku kemana-mana," ucap Rendra dengan percaya dirinya.
Sedetik kemudian, Rendra mulai kesal lagi saat mengingat laki-laki tadi menyentuh tangan Aura.
Rendra pun mengusap jejak sentuhan tangan laki-laki tadi dengan sentuhan tangannya.
"Kuman itu harus segera disingkirkan."
Aura tersenyum melihatnya. Rasanya lucu sekali melihat Rendra yang cemburu seperti ini.
"Apa kau cemburu?" goda Aura.
"Cemburu? Haha yang benar saja. Bahkan bukan hanya cemburu,tapi sangat cemburu," ucap Rendra menjelaskan isi hatinya.
Lagi-lagi Aura tersenyum.
__ADS_1
"Nanti mandi pakai pakai sabun yang anti bakterinya tinggi. Kalau perlu berendam selama satu jam."
"Iya sayang," ucap Aura sambil mengusap tangan Rendra.
Mendengar kata sayang dari Aura. Amarah Rendra jadi mereda. Ia pun menggandeng tangan Aura dan menghampiri Sena yang ada di restoran.
"Akhirnya kalian datang juga. Kenapa lama sekali Au ke toiletnya?"
"Ada kejadian tadi tuh makanya lama."
"Oh."
"Ya sudah aku pergi dulu ya. Kalian nikmatilah waktu bersama. Bye."
Setelah Sena pergi, Aura dan Rendra pun pergi dari restoran itu menuju ke tempat lain.
"Tadi beli apa saja dengan Sena?" tanya Rendra.
"Aku hanya menemaninya belanja, terus menemaninya makan juga. Semuanya dibayar oleh Sena. Juga ini dikasih sama dia," ucap Aura sambil menunjukkan hadiah dari Sena.
"Apa itu?"
Saat ditanya seperti itu. Aura jadi meneguk ludahnya. Sangat tidak mungkin Aura bilang ia diberi lingerie oleh Sena. Nanti apa yang dipikirkan Rendra tentangnya. Aura takut Rendra akan berpikir yang tidak-tidak padanya.
"Hanya gaun," bohong Aura.
"Benar gaun?" tanya Rendra yang tidak percaya.
"Iya."
"Kalau begitu, nanti pakai gaunnya saat kita pergi."
Aura jadi gelisah dan was-was. Mana mungkin ia keluar dengan pakaian yang transparan itu. Bisa habis dirinya dilihat oleh laki-laki hidung belang.
"Eum, sebenarnya Sena membelikan aku lingerie," ucap Aura sambil menunduk.
Awalnya Rendra terkejut namun kemudian ia jadi biasa saja.
"Pakai saat malam pertama kita."
Hanya ucapan itu saja, sudah membaut wajah Aura merah merona.
*
*
TBC
__ADS_1