Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 97 - Selamat malam calon istri


__ADS_3

Sore harinya, Sena sudah berdandan dengan sangat cantik. Ia mengenakan dress berwarna peach tanpa lengan dengan panjang hingga 5 cm di bawah lutut. Dress itu dipadu padankan dengan make up natural dan rambut yang dicepol. Benar-benar terlihat fresh layaknya seorang remaja.


Sena jadi gugup sendiri menunggu kedatangan Ansel. Ia benar-benar masih tidak percaya kalau Ansel telah mengeluarkannya dari dunia kelam itu. Namun jika ia keluar dari sana, mau kerja apa? Pasalnya ia hanya lulusan SMA saja.


Tak lama, Ansel pun datang dan mengetuk pintu rumah Sena. Sena langsung membukanya. Keduanya sama-sama terpesona dengan penampilan satu sama lain.


Tampan sekali!


Cantik sekali!


Puji mereka di dalam hati masing-masing. Hingga Ansel pun tersadar dan langsung mengajak Sena masuk ke dalam mobilnya. Ia bahkan membukakan pintu mobilnya itu.


Di perjalanan, Sena menanyakan banyak hal pada Ansel termasuk tujuan mereka saat ini.


"Kita mau kemana?"


"Rahasia," jawab Ansel yang membuat Sena mendengus sebal.


"Kalau begitu, turunkan saja aku di jalan!" ancam Sena.


"Eits! Tidak bisa! Karena sebentar lagi kita akan sampai," balas Ansel.


Benar saja, kini mobil Ansel memasuki sebuah rumah yang terlihat megah dan mewah di mata Sena. Sena sedikit keheranan, karena Ansel membawa ke rumah itu.


Sena pun turun dari mobil dengan dibukakan pintu juga oleh Ansel. Hatinya sedikit mencelos karena sikap manis Ansel itu.


Ansel mengulurkan tangannya minta digenggam. Sena yang tidak peka, tiba-tiba langsung dibuat kaget karena tangannya sudah digenggam oleh Ansel.


"Kau membuatku kaget tahu."


"Salah sendiri, tanganku sudah pegal menunggu balasan uluran tanganmu. Ayo masuk ke dalam," ajak Ansel.


"Ini rumah siapa?" tanya Sena yang penasaran.


"Rumahku, lebih tepatnya rumah kedua orang tuaku."


Deg!


Jantung Sena berdetak sangat kencang. Ia jadi memikirkan banyak hal.


Untuk apa Ansel membawaku ke rumahnya? Tidak mungkin dia mau mengenalkan aku pada orang tuanya kan? Ah, rasanya tidak mungkin. Ya Tuhan, aku takut.


Melihat wajah ketakutan dan gugup dari Sena, Ansel hanya meng*lum senyum. Ia sudah tidak sabar untuk mengenalkan Sena pada kedua orang tuanya.


Langkah keduanya sudah masuk hingga sampai di ruang tamu. Disana sudah ada Denada dan Nicolas yang sedang duduk menunggu kedatangan anaknya. Mereka pun langsung berdiri menyambut Sena dengan ramah. Apalagi Denada yang langsung menggandeng tangan Sena. Hal itu membuat Sena kebingungan diperlakukan begitu baik disana. Bahkan ia belum memperkenalkan diri di depan orang tua Ansel.


"Tante senang sekali ketika Ansel mengatakan akan membawa seorang wanita ke rumah. Karena ini adalah pertama kalinya ia membawa wanita. Apalagi ketika melihatmu, Tante langsung senang, dan jadi ingin cepat-cepat menjadikanmu menantu."


Deg!


Mantu? Apa maksudnya ini? Kenapa aku tidak percaya kalau aku adalah wanita pertama yang diajak Ansel ke rumah? Rasanya tidak mungkin sekali.

__ADS_1


"Ah, sepertinya Tante salah paham. Aku hanya teman Ansel saja," bantah Sena.


"Kalau masih teman pun, ya tidak apa-apa. Lagian dari teman pun bisa jadi pasangan," balas Denada.


"Sebenarnya Tante juga tahu kalau Ansel adalah seorang casanova. Tante juga tahu kalau Ansel selalu bermain dengan banyak wanita. Tapi, Tante yakin, suatu saat nanti. Pasti ia akan berhenti ketika sudah menemukan pilihan hatinya. Dan itu adalah kau, Sena. Tante ibunya, jadi Tante bisa melihat itu."


Sena terdiam setelah mendengarkan ucapan Denada. Ia benar-benar tidak bisa berpikir jernih sekarang. Apalagi mendengar hal yang tak pernah ia duga sebelumnya.


Denada mulai meraih tangan Sena.


"Tolong jaga anak Tante ya. Buat dia jadi laki-laki yang setia pada satu wanita. Tante tahu kau orang baik."


Rasanya Sena ingin menangis sekarang. Ia benar-benar terharu dengan ucapan Denada yang mengatakannya orang baik. Padahal dirinya hanyalah orang kotor yang hina. Ia bahkan bisa dikatakan sebagai seorang p*lacur.


"Mama, jangan kuasai Sena sendirian! Aku kan mengajaknya kesini untuk dikenalkan ke mama dan papa."


"Tuh, sikap cerewetnya sudah keluar! Ayo kesana sebelum Ansel bersuara lagi," ajak Denada.


Kini mereka sudah berada di dalam satu meja makan yang sama. Denada mengambilkan makanan untuk Sena. Memperlakukan Sena seperti ia memperlakukan anaknya sendiri.


"Makan yang banyak. Jangan malu-malu," ucap Denada dengan senyuman.


Sena pun membalas senyuman itu.


Selesai makan, Nicolas langsung bicara pada intinya saja.


"Jadi kapan kalian akan menikah?"


"Uhuk ... uhuk ... "


"Sebulan lagi pa."


Sena langsung mendelik kaget.


Sebulan lagi? Apa maksudnya? Bahkan dilamar saja belum?


"Kau membuat Sena terkejut Sel. Bicarakanlah dulu sebelum menjawabnya," saran Denada.


"Sudah kok. Pokoknya sebulan lagi aku akan menikah dengan Sena," jawab Ansel menegaskan.


Hal itu membuat Denada menggelengkan kepalanya. Anak orang dibuat terkejut oleh anaknya.


Sena tak mampu menjawab apapun disana. Ia hanya diam saja dan memilih untuk menanyakan itu nanti pada Ansel.


Waktu pun berlalu, Sena kini sudah diantar pulang oleh Ansel dan sudah sampai di depan rumahnya. Sena bahkan tak kunjung masuk ke dalam rumah, karena ingin memastikan banyak hal pada Ansel.


"Masuklah, hari sudah malam. Nanti kau kedinginan," ucap Ansel.


Sena menatap Ansel dengan tajam dan penuh selidik.


"Kenapa tatapan mu begitu?"

__ADS_1


"Kau kenapa tidak bilang kalau ingin bersandiwara di depan orang tuamu? Setidaknya aku kan bisa membantu dan tidak jadi orang bodoh yang tidak tahu apapun ketika disana."


"Apa tadi aku terlihat sedang bersandiwara?" tanya Ansel lagi.


"Tentu saja. Kau tiba-tiba saja mengatakan kita akan menikah. Padahal melamar ku saja tidak pernah. Jadi aku berasumsi kalau kau bersandiwara," jawab Sena.


Ctak!


Ansel menyentil dahi Sena hingga membuat wanita itu merintih kesakitan.


"Sakit tahu!" rintihnya.


"Salah kau sendiri. Kenapa jadi bodoh begini? Kau pikir aku mau mengeluarkan mu dari sana kalau aku tidak mencintaimu? Tentu tidak."


"Hih! Lagian siapa juga yang meminta bantuanmu."


"Ya, aku yang mau. Karena aku tidak rela kau akan melayani laki-laki lain selain aku. Aku tahu kita masing-masing punya masa lalu yang kelam. Tapi semuanya kan hanya masa lalu. Yang akan kita jalani ada di masa depan. Jadi, di hari ini, malam ini, detik ini juga. Maukah kau menciptakan masa depan bersamaku?"


Sena terperangah dengan ucapan Ansel yang tak terduga itu. Ia jadi gugup dan bingung mau menahannya. Di satu sisi ia sangat senang. Di sisi lain ia merasa tidak pantas. Apalagi ketika melihat keluarga dan rumah Ansel tadi, membuatnya jadi rendah diri.


"Jangan pikirkan apa kata orang. Aku sudah menceritakan semua tentangmu pada mama. Makanya dia tahu namamu. Mamaku bukan orang yang berpikiran tertutup. Ia bahkan memaafkan aku yang sudah mengecewakannya berkali-kali. Jadi, cukup pikirkan dirimu sendiri dan pikirkan aku mulai sekarang. Aku kan sudah jadi calon suami mu"


Plak!


Sena memukul lengan Ansel pelan. Belum juga ia menjawab ajakan Ansel, laki-laki itu langsung berkata seolah-olah ia sudah menerima ajakan menikah Ansel.


"Aku bahkan belum menerima ajakanmu!"


"Oh, jadi kau mau menolaknya?" tanya Ansel.


"Eum ... " Sena tampak berpikir.


"Kelamaan," ucap Ansel.


"Hih! Tidak sabaran sekali sih!"


"Jadi, terima apa tidak? Kalau tidak terima pun kau akan tetap jadi istriku!"


"Kan, kan, kan."


Ansel hanya tertawa mendengarnya.


"Oke, sudah aku putuskan."


Ansel mengecup bibir Sena dan ********** pelan. Kemudian pergi dari sana dengan melambaikan tangannya dan berucap, "Selamat malam calon istri. Mimpi indah ya."


Sena hanya bisa mematung di tempat akan tingkah Ansel. Ia terus menerus menepuk pipinya.


"Benar, kali ini nyata dan aku tidak bermimpi."


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2