
Pada siang harinya, Aura mengunjungi kantor Rendra sesuai permintaan pria itu. Ia kesana sambil membawa bekal makanan untuk makan siang suaminya.
Kini ketika Aura datang ke kantor, ia disambut dengan baik dan para karyawan menundukkan kepala padanya. Karena mereka tahu kalau Aura adalah nyonya muda dari keluarga Kavindra.
"Tuan Rendra ada di dalam ruangannya nyonya. Dia sudah menunggu aja sejak tadi."
"Baik, terima kasih ya."
Aura pun berjalan menuju ke ruangan Rendra. Ia mengetuk pintu ruangan tersebut. Hingga sebuah jawaban pun terdengar. Aura langsung membuka pintu dan masuk ke dalam.
Melihat Aura yang datang, Rendra langsung mendekati istrinya.
"Kenapa mengetuk pintu tadi? Padahal kau bisa langsung masuk saja."
"Aku takut mengganggumu. Siapa tahu saja kau sedang sibuk atau sedang mengerjakan suatu hal."
"Sesibuk-sibuknya aku jika itu menyangkut dirimu akan aku prioritaskan kau dulu."
"Ayo duduk," ajak Rendra.
"Bawa apa?" tanya Rendra.
Aura tidak menjawab. Ia malah langsung membuka bekal itu satu per satu.
"Aku hanya coba-coba memasak ini tadi di rumah. Aku tidak tahu apa kau suka atau tidak. Kalau tidak enak bilang tidak ya. Jangan tidak enak bilang enak. Aku ingin jawaban jujur darimu."
Rendra mengangguk.
Semua makanan sudah ada di depan mata. Tinggal mengeksekusinya saja. Namun, Rendra hanya melihat dan diam.
"Kau tidak berniat menyuapi aku gitu?" tanya Rendra.
"Oh, kau ingin disuapi. Makanya bilang jangan diam saja."
Rendra mencibir.
"Saat jadi wanita bayaran sikapku manis sekali juga perhatian. Tapi ternyata aslinya tidak pekaan," kesal Rendra.
"Oh, jadi kau mau aku kembali menjadi wanita bayaran lagi begitu?"
"Eh, janganlah. Mana boleh begitu. Kau itu hanya milikku," ucap Rendra sambil memeluk Aura dengan erat.
__ADS_1
"Kapan makannya kalau begini?"
"Suapi ya?"
"Iya."
Rendra pun makan siang dengan disuapi oleh Aura. Ia terus tersenyum melihat istrinya yang menyuapi dirinya. Rasanya senang sekali. Bahkan ia ingin sekali setiap waktu terus bersama Aura. Jauh sedikit saja rasanya sudah rindu.
Makan pun selesai, Aura membereskan wadah bekalnya dan dijadikan satu. Ketika berniat akan pulang, Rendra melarangnya.
"Disini saja temani aku. Kau bisa menunggu disini sambil membaca beberapa buku. Atau nanti jika bosan dan lelah kau bisa tidur di kamar pribadiku."
Aura pun menurut saja. Ia memilih untuk duduk di sofa sambil membaca beberapa majalah yang ada di meja.
Hingga lama kelamaan Aura mulai mengantuk dan tertidur di sofa. Rendra yang melihat itu pun langsung gerak cepat menyanggah kepala Aura agar tidak terjatuh dan membaringkan Aura di sofa.
Rendra juga menutup tubuh Aura dengan jas yang ia kenakan. Tangan Rendra terulur untuk mengusap rambut Aura. Namun, ia merasa kalau Aura tidur di sofa ia tidak akan merasa nyaman, alhasil Rendra membawa Aura itu tidur di kamar pribadinya.
*
*
Di restoran, Meira sedang melayani pelanggan yang akan membayar pesanannya. Namun, tiba-tiba matanya melihat seseorang yang sepertinya ia kenali. Ingin sekali rasanya Meira mengejar orang itu, sayangnya itu tidak mungkin. Ia tidak mungkin meninggalkan pelanggannya begitu saja. Bisa-bisa ia dipecat.
Rupanya, orang itu masuk ke dalam ruangan VIP, yang dimana tempat itu dikhususkan untuk pelanggan istimewa dan tempatnya tertutup. Walau begitu, Meira bisa mendengar sedikit pembicaraan orang-orang yang ada di dalamnya.
"Mulai sekarang kau ikuti saja istrinya. Kemana pun dia pergi. Ketika ada celah, lancarkan misinya. Buat rumah tangga mereka rusak. Seperti apa yang kau lakukan pada rumah tangga Elnan sebelumnya."
Meira terkejut dan langsung menutup mulutnya supaya tidak bersuara. Ia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang sudah didengarnya barusan. Ia memang sudah curiga kalau apa yang dialaminya dulu adalah rencana seseorang yang berniat jahat padanya dan Elnan. Tapi ia sungguh tidak menyangka jika orang itu akan menyakiti orang lain lagi. Yang Meira sendiri tidak bisa menebak siapa orangnya karena tidak disebutkan.
Ya Tuhan, jangan sampai apa yang terjadi padaku dialami juga oleh orang itu.
Sebelum ketahuan, Meira pun kembali ke meja kerjanya. Meski di hatinya khawatir dan cemas, ia harus tetap profesional dalam bekerja.
Tak lama kemudian orang yang dikenalinya pun keluar. Sayangnya, orang itu kelaut sendirian. Padahal, sepertinya tadi ada suara dua orang di dalam.
Aku penasaran sekali. Siapa dia sebenarnya? Kenapa ia melakukan hal jahat padaku dahulu? Padahal kenal saja pun tidak. Ya Tuhan. Masalah apa yang sebenarnya terjadi?
Meira terus-terusan membatin. Ia benar-benar penasaran. Karena setelah kejadian itu, orang tersebut langsung pergi dan menghilang dari hadapan Meira. Seolah-olah memang disengaja.
*
__ADS_1
*
Di NC Entertainment
Pada hari itu, Nicolas berkunjung ke perusahaanya untuk melihat kinerja dari sang anak. Walaupun ia sudah tak menjadi CEO disana. Ia tetap selalu datang untuk mengawasi anaknya.
"Papa kenapa datang tidak bilang-bilang?" tanya Ansel ketika papanya sudah ada di hadapannya.
"Memangnya papa kalau datang selalu bilang padamu?" Nicolas malah bertanya balik.
Ansel mendengus sebal.
"Nanti malam kau jangan pergi kemana-mana. Datanglah ke rumah, mamamu ingin kau ikut makan malam di rumah."
"Iya pa."
"Jangan iya-iya tapi tidak datang. Nanti mamamu bisa nangis semalaman," ucap Nicolas lagi.
Karena semenjak Ansel menjabat menjadi CEO. Ia tiba-tiba ingin tinggal sendirian di apartemen dengan alasan ingin merasakan hidup mandiri dan tidak apa-apa dibantu dan disiapkan mamanya.
"Iya, aku janji. Nanti aku pulang pa."
"Bagus."
Setelah itu Nicolas keluar dari ruangan Ansel dan hendak melihat-lihat ruangan lainnya. Namun, ponsel Nicolas tiba-tiba saja berdering.
"Halo."
"Lapor Tuan. Tadi saya tidak sengaja melihat Tuan Rico keluar dari sebuah restoran. Saat saya akan mengejarnya, tiba-tiba saja mobil saya mogok jadi saya kehilangan jejaknya."
"Eum, baik terima kasih informasinya. Terus cari tahu tentang Rico. Apa saja yang ia lakukan setelah keluar dari penjara."
"Baik tuan."
Nicolas menghela napas kasar. Setelah Rico keluar dari penjara. Nicolas selalu mengawasi pergerakan Rico diam-diam. Ia tidak ingin sepupunya itu menyakiti keluarga Richard lagi karena Richard kini juga adalah temannya. Namun, sayangnya, ketika Rico tahu bahwa Nicolas memata-matainya, Rico seperti hilang di telan bumi. Keberadaan pria itu tak pernah bisa ia temukan.
"Aku harap, aku akan segera menemukanmu Ric. Aku ingin memastikan sesuatu padamu kalau apa yang aku pikirkan selama ini salah dan aku berharap kau sudah berubah.
*
*
__ADS_1
TBC