
Hari berganti, minggu berlalu, bulan bertukar. Pernikahan Reini dan Awan nampak harmonis meski tanpa kehadiran seorang malaikat kecil diantara hidup mereka sebagai pelengkap kebahagiaan seperti pasangan pada umumnya. Reini masih menjalani pekerjaanya meski pernah mengalami hal buruk. Ia juga jauh berubah, seperti menjadi sedikit pendiam dan menjaga ucapanya saat bekerja, bicara seperlunya.
Hari-hari Reini dan Awan dijalani dengan sama-sama sibuk, jarang juga mereka bertemu meski satu rumah. Reini dengan aktivitasnya yang tidak menentu, dan Awan dengan sejuta pekerjaanya, bagaimana dia bisa membuat sebuah perusahaan stabil. Karena benar pepatah mengatakan, mempertahankan lebih sulit dari meraih. Tak hanya ingin berpatok pada usaha milik keluarga. Awan mengembangkan bisnis baru jual beli mobil import.
Angkasa bukan tak mau membantu, ia hanya memberikan ide atau masukan jika diminta, ia lebih sering membantu Arum, karena tak ingin istrinya terlalu kelelahan. Sedang usaha Arum juga sayang untuk ditinggalkan.
Bukan hanya Awan dan Rein yang semakin harmonis. Angkasa dan Arum juga sama, mereka semakin bahagia dengan kehadiran kedua putranya yang ia beri nama Airlangga Philips Hamzah, mengambil nama dari perusahaan milik sang kakek, yang belum lama berpulang. Nampaknya kali ini Angkasa menahan untuk tidak menambah momongan meski belum dikaruniai seorang putri cantik dalam keluarga mereka, Arum tetap menjadi yang tercantik saat ini.
Arum juga mulai sibuk dengan bisnis roti dan kuenya yang semakin berkembang. Tidak hanya di ibu kota, Arum juga membuka cabang di sekitar kota. Setelah hampir dua tahun pernikahan mereka. Angkasa baru berani memberi kejutan untuk Arum sebuah hadiah yang sudah ia simpan sejak lama sebagai anivarsary pernikahan mereka yang kedua yang diadakan di restoran Jepang. Yaitu sebotol kecap, beberapa bungkus roti pemberian Arum yang tanggal serta bulan expirednya masih terlihat jelas, terbukti Angkasa sangat menjaganya, dan sepotong seragam kebanggaanya yang memiliki noda tumpahan kopi dari Arum.
Arum sampai menutup mulut atas kejutan yang diberikan Angkasa. Didepan seluruh anggota keluarga, Angkasa memberikan hadiahnya ini yang ia hias didalam bingkai besar berornamen keemasan.
"Ini mungkin tidak bergarga, Rum. Tapi aku menjaga barang kenangan ini seperti aku menjaga cinta kita."
Mata Arum berkaca-kaca. "Apa kamu sedang menggombal? Aku tidak terharu?" Menekan ujung mata yang basah. "Atau sedang melamar?"
"Iya, seharusnya aku memberikan ini saat aku melamar mu, tapi saat itu keadaan ku sangat tidak mendukung. Dan aku malu untuk memberikanya."
Arum mengambil bingkai itu, menatapnya penuh haru. Sungguh Angkasa membuat semua pasangan sangat iri pada Arum.
"Dimana nyimpenya? Kenapa aku nggak tahu kamu nyimpenya dimana?" Seorang pasti penguasa rumah, benda sekecil apapun, atau letak pulpen dipindahkan saja dia pasti tahu, apalagi ini? Kenapa dia sampai tidak tahu Angkasa menyimpannya.
Sedang mengharu birunya, Daniel menyeletuk.
"Tapi nggak pintar menyembunyikan sesuatu kan? Seperti ..." Daniel tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Denisa mengikut perutnya.
"Jangan buat pasangan yang sedang berbagai jadi kacau." Denisa memberikan tatapan tajam.
"Tau nih Papi, bikin kacau suasana haru aja." Dara menimpali.
Arum menatap Angkasa jadi marah. "Tapi yang dikatakan Om Daniel nggak benar kan, Bang?"
"Ayo Bang bakso, ngaku?" Daniel membuat suasana makin kacau.
__ADS_1
"Ahh Om Daniel," rutuk Angkasa kesal. "Yah, bisa panggilkan satpam nggak buat usir pak tua yang nggak kepake ini?" Angkasa sebal. Yang mengundang derai tawa para keluarga.
"Besok-besok kalau ada acara, jangan undang lagi saja," ujar Abian.
"Nggak masalah, nggak keluarin uang juga buat kasih kado, atau ucapan basa-basi." Kedua orang tua ini malah ribut sendiri.
"Rum, jangan dengarkan apa kata aki-aki ini ya. Mana mungkin Angkasa berani mendua, atau ada wanita idaman lain. Tante akan menyuntik kebiriii kalau itu sampai terjadi." Denisa menenangkan Arum yang mulai panik.
"Aku mau jawaban dari Angakasanya langsung, Tan. Apa benar apa yang dikatakan Om Daniel, Bang?"
"Sayang, kamu lebih percaya orang dari pada aku?"
Arum begitu sensitif, kini badannya memiliki bobot delapan puluh kilogram, sudah melakukan diet ketat, olahraga, senam aerobik, serta minum obat pelangsing, tapi belum juga berhasil. Dan itu membuat Reini semakin yakin atas pilihanya, takut hamil.
Wajar saja jika Arum mudah termakan gosip diluaran sana, padahal suaminya begitu setia.
"Ada aku yang bisa kamu jadiin mata-mata, Rum. Tenang aja." Reini menepuk pundak Arum menenangkan. Kini Reini berada di pihak Arum.
Andini menemui Awan diruanganya, Awan sedang termenung menatap luar gedung.
"Wan, lagi mikir apa sih?" Sampai harus memanggil sebutan akrab. Awan terkejut, tak sengaja tanganya menyentuh buah dada Andini, dan itu membuat Andini terkejut karena menghindar, tapi kakinya menbentur lemari dibelakangnya. Awan sigap menahan pinggang Andini.
Mata keduanya bertemu dan saling mengunci. Andini lebih dulu sadar dan melepaskan tangan Awan dipinggangnya.
"Sorry, An." Awan melepaskan tanganya diudara. Apa-apaan kamu Wan?
Andini tak menjawab, hanya anggukan kecil yang tak terlihat oleh Awan, ia juga tak kalah canggung, adegan seperti disinetron tadi cukup membuatnya terserang penyakit jantung dini.
"Tadi lagi mikirin apa sih? Aku ketuk pintu dan panggil berkali-kali nggak nyahut." Bicara santai untuk menghilangkan kecanggungan. Duduk didepan meja Awan.
"Aku kesini ingin memberi tahu kamu, kalau program kita sejauh banyak diminati. Delapan puluh persen karyawan datang menghubungi kami, aku senang baru bergabung sudah bisa memberikan manfaat untuk mereka dan membantu jalan keluar dari masalah yang mereka hadapi." Menjelaskan maksud kedatangannya.
"Aku yakin Airlangga Airlines ditangan mu bisa menjadi lebih baik lagi." Awan mengangguk.
__ADS_1
Karena tak ada tanggapan dari Awan, Reini jadi ikut diam.
"Hei Wan, are you okey?" Melambaikan tangan didepan wajah Awan.
"Aku rasa aku juga butuh bantuan mu," kata Awan menatap Andini.
Andini menelan ludah. Astaga, akibat adegan sinetron tadi suara Awan mendadak seksi ditelinganya.
"A-aps yang bisa aku bantu?" Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering.
Awan mengusap wajahnya. "Setelah setahu ini, aku menahan, aku kesepian."
Apa maksudnya, ambigu sekali ditelinga Andini.
"Setiap pulang kerumah aku merasa kesepian, tak ada suara anak kecil, tak ada sambutan senyuman dari istri ku. Aku kesepian, kadang aku sengaja pulang larut agar tak merasa sendiri jika Reini sedang tidak pulang."
"Hei, this is your office, under your control, and she's your wife. Kamu bisa meminta dan melakukan sesuai keinginan mu."
"Itu akan terkesan kalau aku tidak profesional," sahut Awan, "crewlink juga sering bertanya lebih dulu dengan ku sebelum menbuat jadwal Reini. Tapi aku memilih menyerahkan semuanya pada mereka, hanya saja aku meminta Reini untuk dijadwalkan dengan pilot yang lebih senior dan berumur, yang kesetiaanya telah teruji. Aku takut kejadian dulu menimpa Reini lagi, tapi aku juga nggak bisa melarangnya."
"Kenapa nggak dikomunikasikan aja sih, Wan. Jujur itu lebih baik, bukankah Reini berubah jauh lebih baik setelah peristiwa itu?"
Reini memang sempat trauma, dan pernah meminta bantuan Andini untuk menghilangkan traumanya itu. Namun sifat bawaan dari kecil tidak mudah untuk dirubah dalam sekejap oleh Awan, Reini kembali ke setelan awal, setiap Awan mengajaknya berdiskusi, ia menghindar.
"Terus apa yang bisa aku lakukan?"
"Bisakah kamu bicara dengan Reini, agar dia mau hamil anakku?"
Andini baru paham, diamnya dan menurutnya Awan dengan keputusan Reini, tak sepenuhnya mengikuti keinginan Reini.
"Akan aku usahakan, nanti aku akan langsung bertemu Reini dan menjemputnya dibandara."
"Oke, terima kasih." Awan melihat jam dipergelangan tanganya, "sudah masuk jam makan siang, kita makan siang diluar yuk. Aku bosan makan siang dikantor."
__ADS_1
Andini mengiyakan saja ajakan Awan, mereka pun keluar bersama. Awan izin pada sekretarisnya dan memberi tahu juru bicaranya jika dia akan makan di luar.