
Dibebaskannya Angkasa secara tiba-tiba membuat Angkasa, dan yang lain merasa curiga, padahal dari pihak Angkasa sendiri belum mengatakan apa-apa.
Angkasa sendiri, sebenarnya dia sudah punya rencana agar bisa keluar dari sini dengan bertukar posisi dengan Awan, tapi dia bebas lebih dulu.
"Maaf semuanya, aku harus pergi dulu, ini sangat penting," ujar Angkasa, saat baru saja petugas meninggalkan mereka, belum juga sampai satu menit. "Wan, tolong. Jika ada yang mencari ku, berpura-puralah menjadi ku," pintanya menepuk kedua pipi Awan. Belum juga Awan mengiyakan permintaannya, Angakasa sudah melesat pergi.
"Tar juga dia balik lagi," gumam Awan terkekeh kecil, mengeluarkan dompet dan kunci mobil dari saku celananya, dan dalam hitungan detik, Angkasa kembali, Angkasa berlari seperti dikejar depkoleptor.
"Kau berhutang banyak pada ku, My brother," ucap Awan menyerahkan dompetnya pada Angkasa. Interaksi keduanya membuat Abian, Daniel dan Denisa terbengong.
"Otak mereka sepertinya terkoneksi satu sama lain," celetuk Denisa.
"Itulah enaknya, punya saudara kembar identik. Polisi akan percaya kalau sim atau kartu identitas yang dibawa Angkasa asli milik dia." Daniel menimpali, kemudian dia terkekeh, "sepertinya kasus yang tengah kita hadapi ini berhubungan dengan perempuan," Komen Daniel menatap Abian.
"Berhubungan dengan perempuan harus sebercanda ini? Memakai cara licik, membuat kacau satu perusahaan, aku tidak akan membiarkan ini berlalu begitu saja." Abian menatap Daniel nyalang, tak setuju dengan pendapat adik iparnya.
"Hei Aa' ku yang polos, kau terlalu jinak saat masih muda." Daniel menjentikkan jarinya didepan wajah Abin. "Laki-laki sejati akan melakukan segala cara untuk mendapatkan ataupun mempertahankan wanita yang dia inginkan, termasuk menjebak orang lain sekalipun."
"Tapi aku tidak bisa membiarkan ini. Bagaimana kalau masalah ini sampai merembet kemana-mana? Angkasa mendekam selamanya didalam sel, apa kau bisa terima? Aku tak tahu, secantik apa wanita itu sampai mereka melakukan hal gila ini." Abian dibuat geleng kepala, benar-benar tak bisa habis pikir mereka harus melakukan ini, "apa tidak ada cara lain yang bisa mereka lakukan?"
Denisa memijit pangkal hidungnya, mulai pusing jika kedua Tom and Jerry ini sudah bertemu.
"Sebelum mereka melakukan ini, aku yakin mereka telah memperhitungkan apa yang akan terjadi, mungkin targetnya sangat besar. Aku jadi penasaran dengan wanita yang bisa membuat keponakan ku se keren ini, aku suka cara bersaing mereka." Daniel mengelus dagunya.
"Om Daniel nggak suka Awan?"
__ADS_1
"Kamu belum menemukan wanita yang bisa membuat mu gila, Wan. Jika kamu telah menemukannya, Om yakin kamu akan melakukan hal keren seperti ini. Sayang sekali dulu Om tidak ada saingan kelas berat seperti ini."
"Memangnya kamu mau yang seperti apa?" hardik Denisa marah.
"Hehehe, tidak ada sayang. Aku hanya becanda." Daniel merengkuh pinggang istrinya.
"Pantas dulu kau sampai berbuat nekat untuk merebut istri orang." Sindir Abian mengungkit masa lalu. "Menghadapi mama saja kau harus banyak berbohong."
"Oh ya Ayah? Om Daniel pernah melakukan itu? Aku penasaran seperti apa ceritanya?" sahut Awan menjadi penasaran dengan kisah cinta Daniel dan Denisa.
"Kalian bisa melanjutkan bernostalgia-nya. Aku permisi." Pamit Denisa melepaskan tangan Daniel, hatinya terasa berkobar mendengar pembahasan ini.
"Kau tidak bisa menjaga mulut mu, Jamur." Daniel marah pada Abian, lalu menyusul istrinya yang sepertinya ngambek itu.
"Sudah, biarkan saja. Itu urusan rumah tangga mereka, hem padahal urusan kita belum selesai, tapi om sama tante kamu sudah pergi." Abian merangkul anaknya mengajak Awan pulang.
"Ayah masih akan melanjutkan kasus ini?"
"Iya, ini nggak bisa dibiarkan berakhir begitu saja. Kasus ini bukan kasus main-main. Ayah akan tetap mencari tahu siapa pelaku penjebak Angakasa."
"Iya Yah. Apapun alasanya, perbuatan orang itu sangat tidak dibenarkan." Mereka berjalan menyusuri koridor ruang pemeriksaan.
"Pak, kita akan tetap memproses kasus ini, Bapak hari ini tetap ikut saya ke kantor," ucap Abian pada sang pengacaranya.
"Iya Pak. Saya rasa juga kasus ini tidak bisa dibiarkan menghilang begitu saja. Penjebak memiliki barang terlarang itu. Kita tinggal menunggu anak Bapak saja untuk dimintai keterangan, dia saksi dalam kasus ini."
__ADS_1
Abian mengangguk. "Iya, kita biarkan dia menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu," jawab Abian. Kini dia sedikit merasa lebih lega, ternyata Angkasa hanya dijebak.
Dia kini tinggal mencari banyak bukti saja untuk menjerat penjebak Angkasa, bagaimanapun, tindakan orang tersebut sangat merugikan Angkasa dan perusahaannya, untung saja malam itu asisten pribadinya bisa cepat membungkam para awak media untuk tak menyebarkan berita ini terlebih dahulu.
Namun, meski demikian. Abian tak bisa menutup mulut para petinggi yang sudah mendengar kasus ini. Baru saja dibicarakan, dia mendapat telepon dari asisten pribadinya itu, jika saat ini para petinggi jajaran direksi sedang mengadakan rapat tertutup mengenai kasus yang menimpa Angakasa.
* * *
Ditempat lain.
"Ed, dimana Arum?" tanya Angkasa pada Edward dan Andini saat tiba diapartemen Edward.
"Maaf Capt. Nona Arum pergi," jawab Andini takut-takut.
"Kenapa kalian tidak mencegahnya?" desak Angakasa.
"Kami tidak tahu Capt, jika Nona Arum akan pergi, tapi Nona Arum menitipkan ini."
Andini menyerahkan kertas yang ia temukan diatas kasur.
Angkasa langsung membacanya.
"Capt maaf jika aku kembali harus merepotkan Captain. Jika Captain membaca surat ini, berarti Captain sudah keluar. Temui saya di apartemen Alex, Capt. Saya ingin mengambil ponsel saya, disana banyak bukti yang bisa menjerat Ayah Captain Alex, tapi aku minta, apapun yang terjadi, nanti. Jangan hukum Captain Alex. Dia tidak bersalah."
Angakasa menarik nafas panjang, selalu merasa sesak jika Arum membela Alex, sedalam itukah Arum mencintai Alex? Sampai dia selalu melindungi Alex dalam keadaan apapun.
__ADS_1