
Didalam rumah kontrakan Arum. Terdengar suara sapu lidi yang dipukùlkan seseorang sesaat setelah Arum masuk kedalam rumahnya. Arum, wanita cantik yang memiliki kulit putih seputih susu itu harus menahan rasa perih saat tiap helaian sapu lidi menyapu punggungnya.
Arum pulang kerumah setelah menemani Angkasa semalam, ia pulang dengan diantarkan Awan. Awan belum sempat masuk sebab mendapat telepon dari Abian yang memberitahu jika mereka sudah terbang ke Arab saudi menggunakan pesawat pribadi. Namun saat ia ingin masuk, ia mendengar teriakan Nining dari dalam.
"Mama sudah bilang untuk tidak melakukan itu, tapi kenapa kamu tidak mendengarkan Mama?" Nining mengangkat tangan, seperti ayahnya dulu yang mengangkat tangan untuk memukulinya saat itu terjadi padanya.
Tak meminta ampun, tak memberontak dan tak juga berteriak kesakitan, Arum diam menerima hukuman dari mamanya, sampai suara sapu lidi itu jatuh ke lantai, seiring Nining yang juga ikut luruh dengan mata yang basah.
"Tuhan, padahal aku berharap dan selalu berdoa agar ini tidak terjadi pada anakku. Tapi kenapa dia harus mengalami hal yang sama?"
Awan menelan ludah mendengarnya. Ia tak bisa berbuat apa-apa, ini urusan antara ibu dan anak.
"Kenapa kamu tidak mendengarkan pesan Mama dulu, Rum?" Menyesal setelah melakukan itu pada Arum, Nining menarik tubuh Arum untuk dipeluknya.
Ia terguguh, mendekap tubuh kecil Arum yang masih terasa perih setelah terkena sabe tan sapu lidi yang biasa untuk membersihkan kasur.
"Maafkan Mama, Arum. Maafkan Mama," menghujani kepala Arum dengan kecupan, menyesal, tapi dia harus melakukan itu.
Arum ikut terisak dalam diam, membalas pelukan mamanya. Ia tahu hati mamanya terluka atas ini. Dia tak menyalahkan mamanya, tapi menyalahkan dirinya sendiri yang begitu mudah menyerahkan sesuatu yang berharga dalam dirinya.
Entah dulu Nining percaya hal ini tidak akan terjadi saat Arum bersama Alex, karena Nining tahu Arum tidak begitu mencintai Alex, meski anaknya begitu patuh pada Alex dan mengakui jika dia mencintai Alex. Tapi saat bersama Angkasa, dia melihat dari mata keduanya yang memancarkan ketertarikan satu sama lain. Maka dari itu ia sudah mewanti-wanti Arum dari lama agar Arum tak mengalami hal yang sama denganya.
Tahu sejak lama jika Arum dan Angkasa tidur bersama, Nining berharap bayi itu tak hadir cepat. Tapi mendengar pengakuan Arum sudah berbadan dua saat anaknya pulang, Nining seakan membuka luka lama dirinya dulu. Tapi entah Angkasa akan bertahan atau tidak? Atau Arum mengalami nasib yang sama.
"Jika keluarganya menawari untuk menikah dengan saudaranya demi anak kamu, jangan pernah mengatakan 'iya'." Bicara sambil menyisir rambut Arum, setelah tadi Arum mandi dan diberi salep agar luka dan rasa sakitnya cepat hilang.
"Jangan sampai anak kamu mengalami kepahitan hidup yang sama, punya ayah tiri tidak seindah yang kita bayangkan. Dulu ayahmu juga begitu, sangat baik diawal." Kembali mengingatkan. Arum mengangguk saja, sebab dia masih menahan perih dipunggungnya.
Didepan pintu mereka, Awan masih berdiri dan mendengarkan sejak awal apa yang terjadi diantara ibu dan anak itu.
Dering ponsel membuat Awan menunduk, melihat pemanggil, nama Reini muncul disana.
"Halo." Menjawab panggilan Reini, berjalan menjauhi rumah Arum.
"Wan, kamu dimana sih? Aku sudah nunggu hampir setengah jam lebih."
Suara tinggi Reini langsung terdengar. Awan menekan pangkal hidung, lupa jika tadi Reini meminta untuk dijemput.
__ADS_1
"Iya, aku kesana."
"What?? Kamu jadi belum jalan?"
"Ini lagi dijalan. Setengah jam lagi aku sampai."
Tut
Panggilan terputus, Awan menoleh kebelakang melihat rumah Arum yang pintunya sedikit terbuka. Dia mengirim pesan pada Arum jika harus menjemput Reini.
Setengah jam tepat Awan sampai dibandara. Ia memakirkan mobil, lalu berlari kecil mencari keberadaan Reini. Awan menghela nafas, saat mendapati Reini yang sudah menunggunya di coffeshop bandara dengan wajah ditekuk.
Wanita itu berdiri, dan berjalan melewati Awan menuju parkiran.
"Aku sebenarnya malas buat nunggu kamu jika tidak ada yang mau aku omongin sama kamu." Reini bicara dengan ketus.
Awan hanya menolehnya sekilas.
"Sejak Angkasa mengalami kecelakaan kamu tuh jadi sibuk banget ya. Ampe kasih kabar ke aku aja nggak sempet, nanya kabar aku juga enggak." Bersedekap mentapap jalanan.
"Urusin Angkasa apa Arum? Angkasa sudah ada mama Delia sama calon istrinya." Menatap Awan tajam.
"Arum." Mata Reini sampai membola mendengar pengakuan Awan yang terlalu jujur.
"Jadi feeling aku bener kamu mau nikahi Arum dan bertanggung jawab atas anak yang bukan perbuatan kamu?"
"Mau bagaimana lagi? Arum wanita yang lemah lembut, dia akan menerima aku apa adanya. Tanpa banyak menuntut ini itu."
"Awan!" Reini sampai mengepalkan tanganya tak percaya.
"Tapi Arum menolak tawaran itu." Awan menjawab tanpa mengalihkan tatapan dari jalanan aspal didepanya.
Meski belum menanyakan hal itu pada Arum langsung, Awan yakin setelah mendengar perbincangan Arum dan mamanya tadi, Arum akan menolaknya, Awan juga sangat mengerti perasaan ibu dan anak itu, jadi Awan tidak akan melakukan itu. Arum sudah cukup menderita.
"Aku nggak percaya kamu jadi laki-laki pecundang, Wan. Kamu menyakiti perasaan ku."
"Tidak ada yang menyakiti perasaan kamu, Rein. Justru aku memberi mu kebebasan dan mencari laki-laki sesuai harapan kamu. Pilot, dan tidak takut ketinggian."
__ADS_1
"Jadi kamu menyerah begitu saja?"
"Kamu sudah tahu jawabanya dari Andini bukan. Bukan tentang traumanya, tapi tentang nyawa orang banyak."
Sampai dirumahnya Reini langsung turun, tak menawari Awan untuk masuk. Awan pun langsung tancap gas setelah Reini turun.
"Akhhhhh ... dasar brengksèkkk." Kesal ternyata Awan tidak meyusulnya dan merayunya seperti biasa.
"Kenapa sih sayang?" Voni yang mendengar teriakan Reini keluar.
Reini berhambur memeluk mamanya. "Awan, Ma. Awan ... " Menumpahkan kesedihan dipelukan mamanya.
"Ayo masuk, ceritakan didalam, kamu kecapean, Nak."
Mendengar curhatan sang anak, Voni sedikit berpikir untuk menjelaskan pada anaknya. Voni rasa dia tidak terlalu memanjakan Reini, tapi kenapa Reini jadi seperti ini? Apa karena dia anak tunggal jadi merasa setiap keinginanya harus terpenuhi.
"Rein, Mama rasa apa yang dikatakan Awan benar. Mama harus menjelaskan satu persatu kemungkinan kenyataan yang mungkin belum kamu ketahui." Voni harus sedikit mengambil langkah agar Reini paham situasi sekarang, jika yang dilakukannya salah.
"Pertama, Mama nggak nyangka kamu memaksa Awan untuk melawan traumanya. Itu sulit dan berbahaya, sayang. Itu menyangkut nyawa orang juga, bukan hanya gaya-gayaan dan terlihat keren. Usia kamu sudah bukan remaja lagi, seharusnya kamu tahu cara memilih jodoh." Reini diam.
"Dan keputusan Awan untuk menikahi Arum. Mama rasa itu bukan sepenuhnya keinginan Awan, mungkin ada permintaan dari keluarganya. Tidak mungkin mereka membiarkan anak Angkasa lahir tanpa seorang ayah, sedang Angkasa saat ini tidak bisa dipastikan bisa bertahan hidup atau tidak? Karena jika alat-alat itu dilepas dari tubuh Angkasa, Angkasa tidak akan bisa kita lihat sampai detik ini."
Reini hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan mamanya. Berarti, Angkasa sebenarnya ...
Tapi Reini tetap tak terima, gara-gara Arum hamil, perhatian Awan padanya jadi berkurang, dan Awan harus menikahi Arum juga atas dosa Arum.
* * *
Reini berdiri didepan pintu rumah Arum menunggu dibukakan oleh pemilik rumah. Ini sudah malam, tapi Reini nekat datang menemui Arum. Saat pintu terbuka, Arum terkejut mendapati Reini yang datang.
"Aku bukan hantu, jadi tidak usah kaget begitu." Belum diizinkan untuk masuk, Reini nyelonong masuk kedalam.
"Aku tahu nggak sopan malam-malam bertamu. Tapi aku nggak bisa menahan diri untuk nggak bilang ini sama kamu." Arum masih berdiri diambang pintu, menatap Reini yang bicara. Wanita itu tak sudi duduk di sofa rumah Arum.
"Jauhi Awan. Jangan pernah minta dia bertanggung jawab atas apa yang tidak dilakukannya. Dan ingat satu hal, jangan pernah mau diantar Awan kemanapun karena dia cuma milik ku seorang. Dia bukan supir mu."
Arum masih loading, tak paham maksud ucapan Reini, tapi Reini sudah pergi begitu saja.
__ADS_1