Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Saling Tipu


__ADS_3

Seperti biasa, apapun yang berhubungan dengan Arum itu akan menjadi sesuatu benda berharga bagi Angkasa. Dia menyimpan kemeja yang tadi sempat bersentuhan dengan Arum, wangi Arum masih menempel disana. Dia tak pernah sadar dengan apa yang dia lakukan itu aneh. Dibungkusnya dengan plastik bening seperti habis di laundry, padahal kemeja tadi tak dicuci sama sekali.


Lalu dia menuju taman belakang rumahnya, laki-laki dengan tubuh tegap itu menggali tanah yang pernah ia gunakan untuk mengubur kotak yang berisi barang berharga pemberian Arum.


Bukan pemberian Arum tepatnya, hanya saja, barang-barang itu pernah bersentuhan langsung dengan Arum.


Delia yang sedang makan rujak, mengikuti langkah anaknya, dia diam menatap heran pada Angkasa yang sedang menggali itu. Ini gerimis, apa yang sedang dilakukan anaknya?


"Astaga, apa Angkasa menyembunyikan sesuatu?" Delia memutar tubuh, kembali ke tempat tadi dia makan rujak, mengambil ponsel, memvideokan yang dilakukan anaknya sebagai bukti yang akan dia tunjukkan pada suaminya nanti.


Delia menutup mulut, saat melihat Angkasa nampak memasukkan kemeja dalam kotak dan kembali menguburnya. Berbagai pikiran negatif melintas dikepalanya. Dia menyimpan ponselnya, dia tak boleh diam saja melihat anaknya melakukan kesalahan.


"Sayang, kamu lagi apa?" tanya Delia, wajahnya sudah terlihat panik.


"Ma!" Angkasa terkejut.


"Apa yang sedang kamu lakukan, Nak. Ini gerimis, nanti kamu masuk angin. Apa yang ada didalam sana?" tanyanya, menunjuk tanah yang baru ditutup galianya.


"Bukan apa-apa, Ma. Hanya barang nggak penting."


Delia mendekati anaknya, menyampakkkan begitu saja payung yang melindunginya dari tetesan air hujan yang bisa membuatnya pilek .


"Sayang, jujur sama Mama. Apa yang sudah terjadi, Mama tidak akan marah, kita hadapi sama-sama, jangan ditutupi," katanya memegangi kedua pundak anaknya dengan tatapan menyiratkan ketakutan dan kekhawatiran seorang ibu.


Angkasa yang ditanya, mengerutkan keningnya melihat ekpresi wajah mamanya.


"Angkasa nggak ada apa-apa, Ma," katanya mengambil tangan mamanya. "Kita masuk, Ma. Nanti Mama sakit, papa khawatir." Dirangkulnya pundak sang mama masuk kerumah. Delia masih menoleh kebelakang, melihat tanah bekas galian anaknya.


Apakah anaknya menjadi seorang psikopat seperti film yang sering ia tonton selama ini?


* * *


Delia duduk diujung tempat tidur.


"Apalagi yang kamu pikir, hem? Semua yang kamu khawatirkan terbukti salah," ucap Abian duduk disebelah istrinya, mengusap lembut pundak istrinya. Delia menoleh, menyandarkan kepalanya pada pundak sang suami.


Ingatannya kembali berputar pada saat ia dan Angkasa pergi ke mini market, dia mengingat wajah Arum yang memberi botol kecap padanya, dan itu Arum yang sama dengan Arum yang nyaris membuatnya kehilangan nyawa anaknya.


Apa mungkin hari ini Angkasa kembali bertemu gadis itu? sampai kemeja yang Angakasa pakai hari ini ikut ia simpan, instingnya berkata demikian.


Delia menarik nafas dalam, Arum membuat anaknya melakukan hal-hal aneh karena mungkin cinta Angkasa bertepuk sebelah tangan.


"Bi, kata kamu kemarin, yang namanya Delia itu memiliki hubungan dengan, Alex 'kan?"


"Iya, mereka pacaran, dan katanya hubungan mereka seperti suami istri. Kenapa sayang?" Abian menarik wajah istrinya untuk menghadapnya. Delia menggeleng, tebakanya benar, cinta Angkasa bertepuk sebelah tangan.


"Kamu mikirin apa sih, hem?"


"Aku rasa Angkasa memiliki rasa pada Arum, tapi dia kecewa mengetahui keadaan jika Arum_"


"Biarlah, itu urusan anak muda," kata Abian sambil mengusap pipi lembut istrinya.


"Tapi aku kurang suka sama Arum, dia seperti banyak membawa masalah kedepannya."

__ADS_1


Abian mengecup bibir Delia. "Jangan begitu, biarlah mereka memilih sendiri pilihan mereka. Musim hujan begini, mending kita olahraga, cari keringat, biar diusia kita yang semakin tua, makin sehat. Jangan mikir yang macam-macam," ujar Abian mengalihkan, dia sudah cukup pusing mengurus masalah diperusahaan, butuh penyaluran yang bisa membuat kepalanya sedikit adem.


Istrinya memang sudah berumur, tapi pesonanya tak pernah luntur, dan tak bisa membuat Abian berpaling pada daun muda seperti para relasinya yang suka main pucuk daun seperti ulat teh.


Dan Delia juga tak bisa menolak jika jemari suaminya sudah menjalar kemana-mana dan menyentuh apa yang ingin dia sentuh.


.


.


.


"Hasilnya sudah negatif, nanti tante buatkan surat keterangannya dari rumah sakit," ujar Denisa pada keponakannya, Angkasa mengangguk.


"Terima kasih, Tante," ucap Angkasa. Dia kemudian berlalu berjalan menuju lantai dua, kamarnya.


Ya, Angkasa masih sering melakukan serangkaian tes untuk memastikan diam masih positif zat obat terlarang itu lagi atau tidak.


Beruntung dia memiliki tante yang berprofesi seorang dokter, yang bisa memberi saran, apa saja yang harus ia lakukan, agar hasil tesnya cepat berubah negatif, selain menerapkan gaya hidup sehat, dan makan makanan yang bergizi, banyak minum air putih sebagai pembilasan, Angkasa juga dianjurkan meminum jus lobak setiap pagi, yang dipercaya bisa dengan cepat membersihkan kandungan zat terlarang itu didalam tubuhnya, bukan hanya tes urine saja, tes rambut juga bisa berubah negatif.


Delia yang melihat anaknya tak bersemangat tentu sedih.


"Kenapa, Kak?" tanya Denisa melihat kakaknya yang hanya diam menatap punggung Angkasa menaiki satu persatu anak tangga. Dia merapikan alat yang ia gunakan untuk memeriksa Angkasa tadi


"Nggak papa. Padahal dia senang sudah dinyatakan negatif, tapi wajahnya nggak ada bahagia-bahagianya."


"Mungkin lagi ada masalah, masalah hati." Tebak Denisa asal tapi tepat sasaran.


"Kamu punya teman dokter muda yang cocok untuk Angkasa."


"Siapa tahu ada yang nyantol, sama Angkasa."


"Ada sih, cantik, dari keluarga baik-baik. Kakak mau?" Denisa mengeluarkan ponsel, membuka grup chat, mencari foto yang dikirim di grup itu.


"Nih anaknya, gimana? Suka nggak?"


"Boleh deh, nanti kamu kenalin ke Kakak ya. Namanya juga usaha, nggak cocok juga nggak papa."


"Sip, nanti juga dia ada jadwal siang." Delia mengangguk. Denisa menoleh kearah Daniel dan Awan yang ngobrol serius di pojokan.


"Mas Daniel sering datang kesini?"


Delia menoleh kearah pandang Denisa. "Iya, nggak tahu tuh ada urusan apa dia sama Awan."


Setelah urusannya selesai, Denisa dan Daniel pulang.


"Kamu ada urusan apa sih sama Awan, kayaknya sering banget pergi sama Awan," tanya Denisa saat mobil mereka sudah keluar dari pekarangan rumah Delia.


"Keponakan kita itu lucu-lucu, mereka nggak sat, set, mending aku kerjain aja," jawab Daniel terkekeh kecil.


"Jangan ajarin Awan yang nggak bener. Ingat kita punya anak perempuan."


"Enggak sayang, kamu tenang aja, pokoknya nanti kita akan nonton drama romantis. Semoga semua berjalan sesuai yang mereka inginkan." Daniel menggenggam tangan istrinya.

__ADS_1


"Yang mereka inginkan, apa yang kamu inginkan?"


"Dua-duanya," Daniel melihat sekeliling, "ada hotel, kita mampir ke hotel sebentar yuk."


"Jangan macem-macem deh, semalem udah, nggak ada bosennya apa?"


"Kalo aku bosen, berbahaya sayang," sahut Daniel, tanpa persetujuan istrinya, dia membelokkan mobilnya ke hotel.


* * *


"Ma, nanti mau bikin acara di acara ulang tahun, Awan sekalian kenalin ke Mama calon istri Awan," kata Awan pada Delia yang sedang menscroll foto-foto wanita cantik di sosial media temannya.


"Tumben mau ngadain acara." Delia mendongak, menatap Awan sudah siap dengan kemeja kantornya, hari ini dia sudah mulai bekerja, tapi masih sebagai tim marketing, sebab dia tak memiliki pengalaman bekerja, Abian juga ingin Awan tahu seluk beluk perusahaan dari bawah, sebelum dia menggantikan posisinya nanti.


"Lagi pengen aja. Boleh nggak Ma?" tanyanya lagi.


"Ya boleh donk, mau bikin acara dimana?"


"Di rumah, sekalian Awan mau kenalin calon istri Awan ke keluarga besar kita."


"Kamu seriusan, bukan sama Reini? Terus gimana sama Reini?" Delia meletakkan ponselnya diatas meja, berdiri merapikan kerah kemeja Awan.


"Kan Reini nggak suka sama Awan."


"Mama lihat belakangan dia kayak cemburu gitu sama kamu."


"Biarain aja, Ma. Jodoh nggak akan kemana?" katanya menaik turunkan alisnya.


* * *


Jam makan siang. Awan menyempatkan diri kerumah Arum, ini hari pertama Arum membuka toko rotinya. Awan memang sudah berjanji pada Arum akan membantu Arum, tapi dia lupa jika hari ini bersamaan dengan hari pertama dia kerja.


Angkasa yang sekarang menjadi pengacara, alias pengangguran banyak acara, selalu memantau kegiatan Arum dari jauh. Dia memang tidak tahu jika Arum mau membuka toko roti, tapi dari pantauanya, dia mengetahui itu.


Sejak tadi toko roti Arum terlihat sepi, tak ada karangan bunga ucapan selamat seperti toko yang baru buka pada umumnya, karena memang Arum tidak memiliki banyak teman. Tapi terlihat


Andini baru sampai.


Toko Arum tidaklah besar, hanya toko kecil yang ia sewa dengan harga murah, mungkin masih besar warung kopi dibanding toko Arum. Belum ada plang-nya juga, jadi tidak banyak yang tahu mungkin, jika ada penjual roti enak.


Angkasa mendesis sebal, sebab melihat Awan datang, tak lama kemudian datang juga ucapan berupa karangan bunga, Arum menyambut hangat kedatangan Awan, mereka terlihat semakin dekat saja.


Hati Angkasa semakin panas, dia membuang nafas lewat mulut, mengusir kesal. Kemudian dia mengirim pesan pada Awan.


"Kaki Reini terkilir, dia minta tolong, tapi aku lagi ada urusan."


Angkasa kemudian melihat kedepan, Awan terlihat berlari keluar dari toko Arum dengan wajah panik, dan langsung masuk kedalam mobil. Dia menangkap jika Awan masih begitu mencintai Reini, tapi kenapa dia malah menjadikan Arum calon istrinya?


Benar-benar memusingkan.


Setelah mobil Awan tancap gas, Angkasa memanggil orang yang ada didekat mobilnya, memberikan uang dalam jumlah banyak, untuk mengajak temannya memborong roti milik Arum.


Arum kewalahan, tiba-tiba banyak yang membeli rotinya, untung ada Andini yang datang membantu, sebab dia belum memiliki uang lebih untuk membayar karyawan.

__ADS_1


"Pak, ini roti punya Bapak. Terima kasih, rotinya memang enak, penjualnya juga cantik dan ramah, nanti kami pasti beli roti itu lagi."


"Dia sudah punya suami," ujar Angkasa tegas. Dia lebih fokus pada wajah laki-laki yang mengatakan jika Arum cantik, dari pada ucapanya yang memuji roti Arum.


__ADS_2