
"Jangan terlalu kejam pada Angakasa, sayang. Aku rasa kamu terlalu berlebihan," kata Abian menasehati Delia saat Delia mengantarkannya ke depan. "Kamu seperti bukan Delia yang aku kenal dulu."
Delia mengerucutkan bibir, salim pada sang suami.
"Aku cuma mau memberi pelajaran saja dengan cara ku sendiri, aku yang telah melahirkanya, jadi aku tahu cara menghukumnya, Bi. Biar dia tahu dia salah. Aku kesal sama perubahan dia akhir-akhir ini," sahut Delia sambil merapikan jas milik suaminya. "Aku sebenarnya sudah menghargai keputusannya menolak untuk dijodohkan dengan Andini, tapi aku nggak suka cara dia menghilang seperti kemarin," sungut Delia.
"Kamu nggak tahu betapa khawatirnya aku tidak dapat kabar dari dia sama sekali, pikiran seorang ibu sudah jauh kemana-mana jika anaknya menghilang. Giliran pulang seperti tidak ada rasa bersalah sama sekali. Aku sudah capek ngomel."
Abian menghela nafas, benar juga apa yang dikatakan istrinya.
"Yasudah, aku berangkat dulu. Kamu jangan marah-marah terus, setelah aku lihat-lihat, kerutan dibawah mata kamu bertambah." Abian terkekeh, mengelus lembut bawah pipi Delia lalu mengecup kening dan bibir Delia.
"Biarin, sudah laku ini." Abian mengulas senyum, masuk kedalam mobil. Dia melambaikan tangan pada istrinya saat mobil menuju pintu gerbang.
Saat Delia berbalik, Awan keluar dengan terburu-buru.
"Sayang, sudah mau berangkat?"
"Iya, Ma. Mau jemput Reini dulu." Awan mencium punggung tangan Delia, lalu berganti mengecup sayang pipi mamanya.
__ADS_1
"Hati-hati, jangan ngebut. Dan jangan lupa baca doa." Awan mengangguk, berlalu menuju garasi mobil.
Setelah Awan, kini Andini yang muncul. "Loh, bukannya hari ini libur praktek. Mau kemana?"
"Ada perlu sama teman Tante. Andini permisi ya Tante."
"Iya, kamu naik apa?"
"Taksi." Delia berpikir sejenak, Awan tadi terlihat sangat buru-buru, tidak mungkin dia minta tolong Awan mengantar Andini, sedang asa Reini yang menunggunya.
"Yasudah, ini ongkos Taksinya," Delia mengeluarkan selembar uang kertas berwarna pink dari saku kemejanya.
Delia mengambil tangan Andini, meletakkan uang ditelapak tangan Andini. "Tante tidak menerima penolakan dari kamu. Terima ini, atau Tante akan ngambek." katanya mengancam, "biar kamu punya penghasilan sendiri, tapi transportasi kemanapun kamu pergi, Tante yang menanggung, karena sekarang kamu tanggung jawab Tante."
Andini mengharu, dia begitu senang mendapat keluarga yang perhatian dan menyayanginya.
"Terima kasih Tante." Andini memeluk Delia, lalu berpamitan.
"Aira juga, Ma. Uang taksi punya Aira." Gadis berusia dua puluh tahun itu menengadahkan tangan. Delia mengambil uang dari kantong doraemonnya, memberi Aira dua lembar uang kertas berwarna pink.
__ADS_1
"Belajar yang benar, jangan banyak main. Ingat diluar sana banyak orang yang ingin diposisi kamu." Delia selalu mengingatkan Aira, agar bersyukur dengan hidupnya.
"Iya Ma. Aira berangkat ke kampus dulu." Seperti yang lainnya, gadis itu menyalimi tangan Delia, mencium pipi Delia, dan pamit.
Delia tak tahu saja, setelah Aira naik taksi dari rumahnya, gadis itu mengambil mobil milik Angkasa yang Angkasa titip pada bengkel langganan mereka, untung bengkel itu berlawanan arah dengan arah Abian dan Awan lewat, jadi mereka tak akan melihat jika Angkasa menaruh mobilnya disana.
Delia menatap rumahnya yang sepi setelah anak-anaknya pergi. Dia kembali sendiri, mungkin lebih baik nanti dia meminta Abian untuk segera pensiun dini agar bisa menemaninya dirumah, biar Awan yang mengambil alih tugasnya.
* * *
Seorang wanita mendorong pintu kaca toko roti, membuat pemilik toko yang sedang mengajari karyawan barunya mendongak untuk melihat siapa yang datang.
"Suster Andini," ucapnya, "sebentar ya?" izinya pada wanita yang mengenakan kemeja putih dan celana hitam panjang itu.
"Karyawan baru?" tanya Andini, saling menempelkan pipi kiri, pipi kanan dengan Arum.
"Iya, kemarin Angkasa menempelkan lowongan pekerjaan untuk bantu-bantu di toko." Andini tersenyum mendengar itu. Senyum mengandung luka, setelah Delia pernah mendeklarasikan dia dijodohkan dengan Angkasa, sedikit dia mengharap agar hal itu terlaksana.
Wanita mana yang sanggup menolak pesona Angkasa?
__ADS_1
Keduanya menoleh saat pintu kaca mereka didorong, muncul tiga laki-laki berbadan besar masuk.