Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Dua Calon Istri


__ADS_3

Dari suaranya, Angkasa sudah bisa menebak jika yang datang adalah suster Andini. Suster Andini datang, berarti bersama Arum, tebaknya. Angkasa acuh, pura-pura tidak tahu jika yang datang Arum, dia menunggu Arum menghampirinya, mengenakan gaun pemberiannya.


Tapi hampir sepuluh menit menunggu, tak terdeteksi suara Arum, hanya suara berisik tante dan mamanya yang mengenalkan Andini ke keluarganya satu persatu. Kemudian terdengar suara Awan yang bertanya.


"Suster datang sendiri?" tanya Awan. Melihat kearah keluar, barang kali Arum menyusul dibelakangnya.


"Iya, Andini dijemput supir Tante. Kalian sudah saling kenal?" giliran Denisa yang bertanya, menunjuk Awan dan Andini bergantian.


"Dia suster yang menangani-" Awan merasa ada yang aneh, "kok Tante kenal sama suster Andini?" sesi tanya jawab belum selesai, Awan penasaran kenapa Andini bisa kenal dengan tantenya.


Andini juga merasakan hal yang sama, dia juga penasaran, kenapa ada Awan disini?


Denisa dan Delia saling pandang, dengan senyum penuh arti.


"Jadi gini, Andini ini teman Tante, dia masih masa training, dan jadi asisten dokter psikolog di klinik Tante," Denisa menjelaskan pada Awan, "nah Andini, Awan ini keponakan saya," Denisa memberi tahu Andini.


Andini mengangguk paham, dia menyimpulkan, jika Awan keponakan Denisa, berarti Angkasa juga sudah pasti keponakan Denisa juga.


"Jadi kedatangan Andini ini, undangan pribadi Mama sama Tante," Delia menimpali, "Mama ingin kasih surprise untuk anak Mama yang hari ini sedang berulang tahun," ucap Delia melirik arah Angkasa yang masih membelakangi posisinya.


Delia menarik tangan Andini, menghampiri Angkasa.


"Sayang," panggil Delia, Angkasa membalikkan badanya, "kenalin, Andini. Teman Tante Denisa." Delia memperkenalkan keduanya.


Angkasa berdiri. "Kami sudah saling kenal, Ma," ucap Angkasa tanpa basa-basi.


"Benarkah? Ya Tuhan, ini bukan sebuah kebetulan yang kebetulan kan? Andini cantik kan, sayang?" tanya Delia mengedipkan sebelah matanya, mengusap pundak Andini.


Andini memaksakan senyumnya.


"Maksud Mama?" tanya Angkasa menautkan keningnya jadi menyatu. Delia hendak menjawab, tapi suara salam dari luar membuatnya mengurungkan niatnya.


Voni, sahabatnya datang bersama anak dan suaminya. Wajah Reini terlihat ditekuk, gadis itu awalnya enggan ikut datang ke acara ulang tahun Awan, tapi Voni memakasanya. Reini tak siap melihat Awan memperkenalkan calon istrinya, apalagi jika nanti ada adegan tukar cincin, itu hanya akan membuat hatinya merasa ... perih.


Delia menyambut tamu yang juga ia tunggu kehadirannya.


"Kamu tidak bersama Arum?" tanya Angkasa sepeninggal mamanya.


"Saya tidak tahu jika dokter Denisa tante anda, Tuan," jawab Andini singkat.


Tapi cukup mewakili semua pertanyaan yang ada dalam hati Angkasa. Jika kedatangan Andini atas undangan Denisa, dan dia tak bisa datang bersama Arum.


Kemudian keduanya saling diam.


Angkasa melirik jam ditangannya, menunggu kedatangan Arum.


Lain lagi dengan Awan, mata Awan tak berkedip melihat wajah cantik Reini yang mengenakan gaun yang diberikannya.


"Om mencium bau-bau tak enak disini," bisik Daniel menyenggol lengan Awan. Tapi yang diajak bicara tak merespon, matanya tak bisa lepas dari pemandangan indah dihadapanya. Wanita pujaan hatinya, yang ia sukai sejak dia beranjak remaja mengenakan gaun pemberiannya.


Daniel melirik Awan yang ternganga melihat Reini. Daniel berdecak kesal.


"Auwwwww," Awan berteriak, membuat yang lain melihat kearahnya.


"Om kenapa injek kaki aku, sih?" bisik Awan mengusap kakinya yang sakit.


"Jual mahal sedikit, iler kamu udah kayak bayi gumoh," ucap Daniel geram.


Refkeks Awan mengusap mulutnya. "Emang keliatan ya, Om?" Awan bertanya seperti tak berdosa, membuat Daniel makin geram. Daniel hanya merotasikan mata malas.


"Mama kamu seperti mau menjodohkan suster itu dengan Angakasa," ucap Daniel memperjelas ucapanya tadi, sambil menunjuk arah Angkasa dan Andini. Awan ikut arah yang ditunjuk Daniel.

__ADS_1


Awan mengangguk.


"Terus, gimana rencana kita, Om. Mana Arum belum datang." Awan melirik pintu masuk.


"Kamu telepon Arum, dia sudah sampai dimana?" perintah Daniel, "kita lihat bagaimana reaksi Angakasa nanti, jika feeling Om benar. Semua tergantung dengan Angkasa."


Kemarin Daniel sempat menemui Angkasa, dia menceritakan bagaimana dulu dia merebut hati Denisa saat ada laki-laki yang menyatakan cinta dihadapanya. Dan Daniel menceritakan, bagaimana perjuangannya mendapatkan Denisa, sampai dia harus menipu keluarga tantenya demi mendapatkan restu, entah mengapa dia merasa jika Delia tidak setuju dengan Arum.


Awan yang tadi diperintah Daniel, menurut. Titah Daniel seperti perintah paduka raja yang langsung ia turuti, dan tak berani ia tolak. Diapun menghubungi Arum, dan ternyata Arum sedang dalam perjalanan menggunakan ojek online.


Awan tersenyum masam, hatinya bergetar, dia melirik Andini yang tadi datang dijemput supir sang tante. Kemudian melirik Reini yang datang bersama keluarganya dengan mobil mewahnya. Sedang Arum, dia harus datang sendiri tanpa ada yang menjemput setelah berperang dengan keringat mencari sesuap nasi demi bisa mengisi perutnya untuk hari ini.


"Karena semua sudah kumpul, yuk kita langsung aja acara makan-makannya." Suara Delia mengintruksi.


Semua duduk di meja panjang yang sudah disediakan Delia, anak muda dan orang tua duduk dimeja yang terpisah. Formasi lengkap, tak ada kursi yang tersisa, diatas meja telah tersedia berbagai macam hidangan dengan begitu rapi, baik tradisional dan internasional Delia sajikan sebagai jamuan. Biarpun acara diadakan dirumah, tapi cukup mewah, meja ditata seperti jamuan hotel bintang lima.


Keluarga Abian tak pernah melakukan tradisi tiup lilin, juga tak ada kue ulang tahun. Ini atas permintaan Angkasa dan Awan, mereka hanya ingin acara ini untuk kumpul keluarga saja, sekaligus Awan yang katanya ingin memperkenalkan calon istrinya.


Semua mulai menyantap makanan. Tetapi tidak dengan Angkasa, dan Andini, pikiran mereka kini tertuju pada Arum. Sedang Reini sibuk dengan pikirannya yang menebak siapa wanita yang duduk disebelah Angkasa? Wanita itu calon istri Angkasa, atau Awan? Sebab setahu Reini, calon istri Awan itu Arum, sedang sekarang, Arum bahkan tak terlihat batang hidungnya.


Diluar mulai turun gerimis, Angkasa semakin terlihat gelisah, dia melirik Awan yang sibuk memasukkan makanan kedalam piring Reini, karena Reini tak menyentuh makanan sama sekali. Angkasa memilih bangkit dari duduknya.


"Mau kemana, sayang?" tanya Delia.


"Angkasa mau buang air kecil, Ma," jawabnya bohong. Karena yang terjadi sebenarnya, Angkasa menghampiri bibik yang ada didapur.


"Bi, tolong tunggu didepan. Ada teman Angkasa yang belum datang, bawakan ini untuk dia," perintah Angkasa pada wanita berusia empat puluh lima tahun itu.


"Baik, Den," jawab bibik menerima payung dari Angkasa. Kemudian Angkasa kembali lagi ke tempat duduknya, bergabung dengan yang lainnya.


Lima menit berlalu, Arum belum juga terlihat akan datang, Angkasa jadi harap-harap cemas, takut Arum tidak jadi datang, dan rencananya akan gagal, ia sama sekali tak menghiraukan kehadiran Andini yang mendapat undangan khusus dari mamanya.


Awan yang melihat itu berdiri, menghampiri Arum.


"Rum," ujar Awan.


Arum mendongakkan kepalanya. "Maaf, saya terlambat," ucap Arum tak enak.


"Tidak apa-apa, yang penting kamu datang," sahut Awan, "bik, ambilkan handuk untuk Arum," pintanya pada bibik.


"Tadi ban abang ojeknya bocor, aku tidak tega meninggalkanya," curhat Arum. Awan tersenyum. Sungguh kasihan sekali melihat Arum.


"Nggak papa, kamu datang malam pun, aku tetap menunggu kedatangan kamu, meski sampai besok," ujar Awan dengan kekehan, lalu menerima handuk kecil yang diberikan bibik.


"Terima kasih, Bik."


Awan hendak mengusap handuk di wajah Arum, tapi Arum refleks menolak.


"Aku bisa melakukanya sendiri," kata Arum tersenyum, mengambil handuk ditangan Awan. Tak mungkin ia membiarkan Awan melakukan itu didepan keluarga Awan, ini saja dia sudah malu bukan kepalang, menjadi pusat perhatian keluarga Awan.


"Kenapa tidak pakai baju dari ku?" komen Awan langsung saat menyadari Arum tidak mengenakan gaun darinya.


"Inikan baju dari kamu," jawab Arum menunjuk dress bunga selutut, dengan lengan panjang itu pada Awan, senyum tipis terukir dibibir merah mudanya.


Awan diam dengan dahi berlipat, padahal dia minta Daniel membelikan baju kembaran untuk Arum dan Reini. Tapi biarlah nanti dia akan menanyakan itu pada Daniel. Tak ingin membiarkan Arum berlama berdiri karena kasihan Arum akan kedinginan, Awan mengajak Arum bergabung bersama keluarganya.


Arum duduk dikursi yang baru disediakan Awan, tepat disamping Aira dan Andini. Arum mengedarkan pandangannya.


Degh


Arum terkejut melihat keberadaan Andini, terlebih Andini duduk disebelah Angkasa. Tapi Angkasa sama sekali tak melihat kearahnya, padahal jarak mereka begitu dekat, membuat hati Arum terasa dicubit, begitu sakit diabaikan.

__ADS_1


"Nanti saya jelaskan," ucap Andini tanpa suara, sungguh dia tak enak hati. Arum mengangguk paham dari gerakan bibir Andini.


Seharusnya dia tak butuh penjelasan apa-apa, dia dan Angkasa juga tidak memiliki hubungan spesial, mau Andini dan Angkasa menjalin hubungan, seharusnya itu bukan urusannya. Awan menawarkan makan pada Arum, memasukkan nasi dan lauk kedalam piring Arum.


"Makanlah," ujar Awan. Membuat Reini semakin gondok saja, dadanya semakin sesak saja melihat laki-laki yang biasanya hanya perhatian padanya, kini juga perhatian pada wanita lain.


Dibawah sana, Angakasa mengepalkan tangannya kuat, dia menahan diri, padahal dia sangat ingin merengkuh Arum dalam pelukanya, dan menggenggam tangan Arum.


Acara makan selesai, tadi Delia membiarkan saja Arum dan Awan. Delia berdiri.


Delia berdehem. "Every body, attention me please," ujar wanita yang memiliki kasta tertinggi di keluarga Abian Philips Hamzah. Semua mata tertuju padanya.


"Ih Mama, sok bahasa inggris," ujar Aira meledek mamanya.


"Mama cuma ngetes bahasa inggris Mama, ternyata masih bagus pronunciation-nya" bisik Delia, "selamat sore semua. Terima kasih yang sudah hadiri dalam acara dikediaman kami yang sederhana ini. Maaf jika menu yang disajikan kurang berkenan di lidah saudara-saudara sekalian."


"Nggak enak, Tante. Nggak ada semur jengkolnya, kurang apdol" celetuk Almira sang keponakan. Membuat semuanya tertawa.


"Ck, nanti beli sendiri di warteg, Tante gak mau kalian meninggalkan aromanya disini," sahut Delia.


"Lagian yang doyan, Kak Almira aja," protes Aira yang selalu ikut nimbrung.


Arum ikut tertawa, sungguh menyenangkan sekali keluarga Angkasa. Ada rasa iri didalam hatinya, dia tak pernah merasakan yang namanya keluarga.


Delia menyampaikan rasa terima kasih dan kata sambutan sebagai perwakilan dari keluarga, hingga Delia meminta Awan dan Angkasa berdiri disebelahnya.


"Selamat bertambah usia anak-anak Mama. Terima kasih sudah menjadi anak yang baik dan sehat, seperti yang Mama inginkan." Ucapan selamat yang sederhana itu membuat siapapun yang melihatnya dapat menitikkan air mata.


Abian hanya tersenyum, sebagai lelaki, dia tak bisa seperti perempuan yang bisa mengungkapkan rasa sayangnya.


"Selamat bertambah usia juga Kakak-kakak Aira yang ganteng, terima kasih sudah lahir ganteng, jadi bisa Aira sombongin ke teman-teman kampus." Awan menjitak kepala Aira.


"Dasar," kata Awan.


"Langsung aja ya, sebenarnya diadakan kumpul keluarga ini, bukan tanpa hal. Ada yang katanya mau memperkenalkan calon istrinya, tapi sebelumnya, Mama mau kasih hadiah spesial buat Angakasa dulu," kata Delia. "Andini, sini sayang." Panggil Delia melambaikan tangan, meminta Andini menghampirinya.


Andini sebelumnya menatap Arum terlebih dahulu, Arum memberikan respon senyum, mau apalagi, dia bukan siapa-siapa Angkasa. Dengan berat hati, Andini berdiri menghampiri Delia.


"Angkasa, sebagai hadiah dari Mama diulang tahun kamu yang ke-26. Mama ingin kamu bertunangan dengan Andini, kamu mau kan?" tanya Delia pada Angkasa.


Arum, Andini, Awan, Reini, sangat terkejut.


Andini sebelumnya memang dia sudah diberi tahu Denisa jika ingin dikenalkan dengan keponakannya, tapi tak menyangka jika itu Angkasa. Andini langsung melirik Arum yang kini tertunduk.


"Cuma perkenalan, cocok tidak cocok yang penting jalani saja dulu," ucap Delia, "Ayah setuju dengan Andini kan, Yah?" Delia meminta pendapat suaminya.


"Ayah setuju saja, tapi Ayah serahkan lagi pada Angkasa." Abian menatap Angkasa. Angakasa mengendikkan bahu.


"Suruh saja Awan memperkenalkan siapa calon istrinya dulu, baru aku akan menjawabnya." Angkasa melempar masalah pada Awan.


Awan menatap Reini dan Arum bergantian, lalu menatap Daniel. Pamanya itu hanya mengendikkan bahu, lepas tangan, sungguh tak bisa diandalkan, ini diluar prediksi Awan jika mamanya akan menjodohkan Angkasa dengan wanita lain. Kemudian Awan berjalan mendekati Reini, mengambil tangan Reini, membawa Reini kedepan.


Reini menatap Awan tak percaya, jika Awan akan memperkenalkan dia sebagai calon istrinya.


"Mereka berdua calon istri, ku," kata Awan memperkenalkan Arum dan Reini kepada keluarganya.


"APAA????


Semua yang ada disana kompak tak percaya.


Sedangkan Reini yang tadi sempat dibuat berbunga-bunga, seketika bak dijatuhkan kedasar jurang. Tak menyangka Awan akan menjadikan dia dan Arum sebagai istrinya.

__ADS_1


__ADS_2