Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Sama-sama Emosi


__ADS_3

Hasil persidangan.


Axel, papa Alex, dituntut hukuman dua puluh tahun penjara, dan denda satu miliar. Alex dan Dikdik, mendapat vonis lima tahun. Axel beserta kuasa hukumnya tak terima, mereka mengajukan banding, tapi papa Alex, tak memperdulikan hukuman Alex.


Alex sendiri pasrah, dia menerima hukumanya. Sebenarnya Alex mendapat tuntutan hukuman yang cukup berat, atas penjebakan Angkasa, tapi kesaksian Arum yang cukup kuat, meringankan hukuman Alex.


Alex menitikkan air mata, melihat papanya dikunjungi istri dan anak-anaknya, sedang dia seorang diri. Tapi beruntung, gadis yang dulu sering ia sakiti, selalu hadir untuknya. Arum tidak meninggalkanya sama sekali, hari ini gadis itu datang sebagai kerabat.


Usai sidang, Alex diberi kesempatan bertemu Arum.


Alex menatap wajah Arum intens, Arum terlihat semakin cantik dan bahagia. Banyak rasa penyesalan dihatinya, sudah sering kali ia menyakiti Arum, sebagai pelampiasan saat ia teringat mamanya yang sering menghukumnya.


"Sepertinya dia berhasil membuat kamu bahagia, Rum?" ucap Alex, tahu jika Arum dekat dengan Angkasa. Wajah Arum merona, dia mengangguk malu, jika membahas Angkasa, Arum selalu salah tingkah sendiri.


Alex ikut bahagia melihatnya.


"Terima kasih sudah hadir mendukung ku," ucapnya tulus. "Padahal aku sering sekali menyakiti mu, maaf malam itu aku khilaf." Ungkap Alex menyesali perbuatanya.


Arum mengusap punggung Alex. "Semua sudah berlalu, dan aku akan selalu ada untuk kamu, Lex. Sampai kapanpun, kamu sudah aku anggap sebagai saudara ku sendiri," ucap Arum membuat Alex terharu. Jika orang lain, mungkin Alex sudah dituntut hukuman yang berat, bahkan hukuman mati.


Tapi Arum, Arum bahkan memaafkanya, dan selalu mendukungnya, tak meninggalkanya sendiri, Arum membuktikan ucapanya yang tak akan meninggalkanya, apapun yang terjadi.


"Ada yang ingin aku katakan, Rum. Alasan kenapa aku belum bisa menikahi mu dulu, entah ini terlambat atau tidak? Aku harap ini dapat mengurangi dosaku padamu, meski aku tahu kesalahan ku tidak akan termaafkan." Arum mengerutkan keningnya dalam, penasaran apa yang akan dikatakan Alex.


"Dulu mata hati ku tertutup oleh dendam pada ibuku. Jadi ... Aku melampiaskanya padamu." Alex menunduk mengakui itu, karena rasa bersalahnya pada Arum.


"Dan aku tidak ingin menikahi mu, karena aku pernah mendengar pembicaraan Dikdik dengan seseorang. Jika setelah aku menikahi mu, dia akan menculik mu, dan ..." Alex menjeda ucapanya.


"Dan apa Lex?" tanya Arum ingin tahu.


"Dan dia akan melakukan itu padamu." Alex tak menatap Arum saat mengatakan itu hingga dia tak dapat melihat wajah keterkejutan Arum, ia tak tega.


Arum menutup mulutnya tak percaya, sungguh begitu kejinya Dikdik.


"Dari situ aku tahu jika kamu bukanlah anak kandungnya, dia menjual mu padaku dalam keadaan masih perawan agar dia bisa mendapat uang yang banyak. Dan setelahnya, dia akan melakukan itu, karena dia sudah menahan untuk tidak melakukanya sejak lama, sejak kamu masih kecil. Tapi akal liciknya malah menjual mu padaku." Lanjut Alex memberitahu rahasia yang selama ini ia simpan.


Arum makin menggeleng tak percaya, pengakuan Alex membuka tabir rahasia yang sama sekali tak ia ketahui.


"Berhati-hatilah, Dikdik itu sangat licik, dia tidak akan membiarkan kamu lolos begitu saja, aku takut dia mengutus orang-orangnya untuk mengawasi mu. Dia masih dendam padamu, karena harus bertanggung jawab atas kehadiran kalian dalam hidupnya."


Arum tak bisa berkata apa-apa lagi, dia tak menyangka saja Dikdik seperti itu. Pantas saja, Dikdik selalu kasar padanya dan mamanya. Tiba-tiba Arum teringat penagih hutang kemarin.


"Kemarin ada orang menagih hutang dia (Dikdik), apa kamu tahu Lex, jika dia memiliki hutang?" Arum jadi curiga.


Alex menggeleng. "Aku selalu memberinya uang, Rum. Aku tidak yakin dia memiliki hutang."

__ADS_1


"Berarti yang kemarin penipu?" tanya Arum.


"Bahkan mungkin ada penipu lainya, karena dia kesal kalian tidak ada usaha untuk menebusnya." Kata Alex. Kemungkinan Dikdik ingin memeras Arum dengan cara seperti itu. Dan mencari uang sebanyak mungkin, agar dia bisa keluar dengan cepat.


Arum jadi berpikir keras. "Lex, nanti suster Andini akan datang, minum obat dengan rutin ya, aku yakin kamu bisa sembuh, dan melupakan kejadian yang pernah kamu alami." Pesan Arum.


"Waktu kalian selesai. Ayo segera masuk." Suara keras petugas membuat Arum dan Alex menoleh padanya.


"Rum, boleh aku memeluk mu untuk yang terakhir kalinya?" pinta Alex sebelum mereka berpisah. "Siapa tahu saat aku bebas nanti kamu sudah menjadi ibu, aku tidak bisa lagi meminta itu."


Arum tersenyum, dia memeluk Alex sebagai permintaan terakhir Alex, dia yakin, Alex benar-benar sudah bertaubat.


Arum menatap punggung Alex yang menjauh, setitik bulir jatuh membasahi pipi mulus Arum. Arum mengusap air matanya seraya berbalik.


"Captain Angkasa?" lirih Arum, melihat Angkasa berdiri dihadapanya bersama Andini.


Angkasa hanya diam ditempat saat bertatapan dengan Arum, dadanya terlihat naik turun, dengan raut muka yang tidak bersahabat, darah Angkasa terasa mendidih melihat Arum memeluk Alex. Tanpa kata, Angkasa membalikkan badan meninggalkan Arum.


"Capt." Panggil Arum, namun Angkasa tak mendengarkan, langkahnya semakin melebar meninggalkan Arum yang mengejarnya.


Arum berlari, namun ia menghentikan langkahnya sejenak didepan Andini.


"Aku akan menemui Alex memberi obatnya," ucap Andini, Arum mengangguk, kemudian kembali mengejar Angkasa.


Angkasa menatap Arum tajam, dia begitu marah. "Kenapa Captain pergi begitu saja?" tanya Arum. Dia bingung kenapa Angkasa terlihat begitu marah padanya.


Angkasa tak lantas menjawab, dia menelan ludah kasar, menahan emosi. Angkasa meletakkan helm di badan motor, ia turun, kedua tanganya berada dipinggang, menatap wajah Arum lekat, dengan perasaan kesal.


"Apa kamu masih menyukainya, Rum? Sampai menemuinya tanpa memberi tahu ku," tudingnya marah. "Dan apa harus berpelukan seperti tadi?" Angkasa heran, apa Arum lupa pesanya untuk tak asal bersentuhan dengan laki-laki lain.


"Semua bukan seperti yang Captain lihat."


"Lantas apa? Bahkan kamu masih memanggil ku begitu." Cetus Angkasa menyugar rambutnya. Arum diam, dia masih kaku jika harus memanggil dengan panggilan yang Angkasa minta.


"Ini bukan salah mu Rum. Salah ku yang terlalu memaksakan perasaan mu, padahal kamu begitu mencintainya."


"Bukan begitu, Capt. Aku hanya mendukungnya."


"Kamu bahkan membayar pengacara untuknya, Rum. Kamu lupa apa yang telah dia lakukan padamu malam itu?" Angkasa tak bisa menahan diri lagi.


"Bukan seperti itu, Capt. Tapi hanya aku yang mengerti yang Alex rasakan. Aku tidak bisa membiarkan Alex sendiri, aku sudah berjanji padanya untuk tidak meninggalkan Alex apapun yang terjadi."


Arum tidak menyadari, apa yang ia ucapkan semakin membuat Angkasa rendah diri. Angkasa merasa tak ada apa-apanya di mata Arum dibanding Alex, Arum membuat hatinya terluka.


"Bahkan jika aku yang meminta untuk kamu tak menemuinya lagi, kamu masih akan melakukan itu?"

__ADS_1


"Jangan meminta itu?" pinta Arum menggeleng, seolah sangat berat mengabulkan permintaan Angkasa.


Angkasa membuang pandangan ke lain arah, mengeluarkan nafas dari mulut. Arum bahkan tidak bisa meninggalkan Alex deminya.


"Kenapa, kamu tidak bisa melakukannya? Apa karena kamu masih sangat mencintainya?" tanya Angkasa kembali menatap Arum, ingin tahu perasaan Arum pada Alex. "Kamu tidak mencintai ku, Rum?" tanyanya sedikit mendesak.


Yang membuat Angkasa kecewa, Arum tidak langsung menjawabnya, seolah ada keraguan dimatanya.


"Oke, aku sudah tahu jawabanya, Rum. Kamu tidak perlu menjawabnya lagi."


"Tolong mengertilah, jangan perdebatkan ini."


"Apa yang tidak aku mengerti, Rum? Aku sangat mengerti, aku hanya minta kamu jangan menemuinya lagi, apa tidak bisa?"


"Caara kamu yang seperti ini, yang membuat dia berpikir kalau kamu masih menginginkannya. Terus apa kamu mengerti apa yang aku rasakan? Alex sudah dewasa, tahu mana resiko yang harus dia ambil atas perbuatanya, mana yang tidak? Kamu saja yang memperlakukannya berlebihan, padahal dia bisa mengobati dirinya sendiri, kamu sudah mengirim Andini itu sudah cukup," tukas Angkasa sedikit membentak, dan itu membuat Arum tak terima.


Untung parkiran sepi, jadi perdebatan keduanya tidak jadi tontonan orang.


Arum memejamkan mata, dia lelah, dia ingin menjelaskan secara rinci, tapi Angkasa selalu mencecarnya.


"Orang tidak akan tahu rasanya lapar, jika dia tidak pernah merasakan yang namanya kelaparan. Jadi, meski aku menjelaskanya juga, Anda tidak akan mengerti." Lirih Arum.


Dahi Angkasa berlipat mendengar ucapan Arum yang cukup menusuk hati. "Apa maksud kamu, Rum?"


"Anda tidak akan mengerti yang Alex rasakan, karena tidak pernah berada diposisi seperti Alex."


Sumpah, Angkasa menyesal meminta penjelasan itu pada Arum, jawaban Arum malah membuatnya seperti orang yang tidak berperasaan. Emosi, Angkasa memilih pergi. Ia menyalakan motornya, melaju, meninggalkan Arum diparkiran seorang diri.


.


.


.


.




Untuk 4 Nama diatas, bisa dm ke ig aku ya. @Ismawati romadon. Aku mau kirim top up Dana 25k untuk masing-masing orang. Maaf hanya mampu segitu dulu, buat nambah beli nastar, hehehe


Untuk yang lain yang belum terpilih, jangan kecewa, tetap dukung aku ya, semoga nanti aku ada rejeki lagi. Amiin


Selamat menjalankan ibadah puasa semua, love you All

__ADS_1


__ADS_2