
Makan siang bersama Andini terasa menyenangkan bagi Awan. Ia bisa ngobrol nyaman dan bisa menceritakan apa saja, Andini pendengar dan pemberi masukan yang baik.
Mungkin pengalaman dilapangan yang membuat Andini bisa seperti ini, berbeda dengan yang hanya banyak teori. Sedang Andini terbiasa berhadapan langsung dengan pasienya, dia bahkan menyempatkan waktu untuk datang kerumah pasienya secara pribadinya untuk lebih mengakrabkan diri, dan tahu kondisi yang sebenarnya.
"Aku barusan kirim pesan ke Reini, katanya dia belum pulang, kemungkinan sampai rumah jam tujuh-an," ujar Andini memberi tahu Awan. Dia baru saja berkirim pesan dengan Reini.
Awan manggut-manggut, sebenarnya dia rindu Reini, tapi Reini sibuk dengan pekerjaanya.
"Kamu mau kemana setelah ini? Ke kantor atau ke klinik tante Denisa?"
Andini mengangkat pergelangan tanganya, melihat jam mahal pemberian Delia sebagai hadiah ulang tahunya yang ke dua puluh lima kemarin.
"Aku nggak ada jadwal lagi, pulang kerumah mama Delia, ada janji mau barbequan dengan Aira."
"Bareng sekalian. Aku juga udah lama nggak kerumah mama." Awan mengambil jas disebelahnya yang tadi ia lepaskan, lalu berdiri.
"Pak Awan nggak ke kantor lagi?"
Awan menggeleng. "Udah nggak ada kerjaan juga."
Andini mengendikkan bahu, ikut berdiri dan berjalan dibelakang Awan.
Andini dan Awan pulang kerumah Abian bersamaan dalam satu mobil, obrolan santai mereka berlanjut. Aneh memang, dulu saat masih satu atap, mereka tidak terlalu dekat, bertemu hanya saling lempar senyum, tapi kini baru bisa akrab setelah tak serumah dan Awan sudah berstatus suami dari Reini.
* * *
"Kok bisa barengan?" Delia menyambut kedatangan keduanya.
"Iya, tadi habis meeting, karena nggak ada kerjaan lagi. Awan antar Andini pulang aja." Berjalan menuju sofa, menjatuhkan pantatnya di sofa panjang ruang keluarga. Sedang Andini menuju lantai atas untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
"Kak Andini, jangan lama-lama. Aku udah siapin semua bahannya." Aira meneriaki Andini dari ambang pintu belakang. Andini melingkarkan jari telunjuk dan ibu jarinya sebagai jawaban.
Delia ikut duduk disebelah Awan.
Masuk"Ayah mana, Ma?"
"Tadi sih izinya mau main golf sama Rendy."
"Papa Rendy?" tanyanya menoleh. Delia mengangguk.
"Kalau kesini, jangan satu mobil dengan Andini lagi, takut jadi fitnah. Kamu sudah punya istri sekarang. Jaga perasaan istri kamu."
"Kami nggak ada hubungan apa-apa, lagian nggak papa kita barengan, karena searah." Melonggarkan dasi kerjanya.
"Ya tapi nggak boleh sering-sering," sahut Delia menasihati anaknya. Awan hanya mengangguk kecil. "Udah setahun lebih, belum ada tanda-tanda dari Reini hamil?"
Selama ini tidak pernah bertanya, sebab tak mau juga dianggap mertua yang bawel. Tapi kini setelah setahun, baru berani bertanya kepada Awan.
"Kami memang sengaja menunda." Kali ini Awan tak menutupi agar tak selalu menjadi pertanyaan mamanya.
"Maksud kamu? Reini kB?"
__ADS_1
"Tepatnya Awan yang kB."
"Kenapa?" Memiringkan tubuh demi dapat melihat wajah putranya. Awan menyandarkan tubuhnya ke badan sofa.
"Reini nggak siap punya anak."
Degh.
Delia melemah, kasihan sekali nasib anaknya, jika Reini belum siap punya anak? Lalu kapan dia akan siap?
"Terus? Kamu juga menerima keputusan itu?"
"Mau bagaimana lagi, Ma? Tidak mungkin juga memaksakan Reini?"
Kali ini terbersit pertanyaan yang agak sensitif. "Kamu bahagia dengan pernikahan mu?" tanya Delia, "terlihat kamu tertekan, Wan. Urat dikepala kamu menegang."
"Untuk sekarang setengah hati." Awan tak bisa lagi menahanya sendiri. Delia diam, tak menanggapi lagi, tak akan banyak bertanya lagi, hatinya cukup sakit. Tapi tahu batasanya sebagai mertua.
Cukup dulu dia jahat terhadap Arum, namun tak ingin terulang lagi pada Reini. Bukan berarti Reini anak dari sahabatnya.
"Mama serahkan semua padamu, Nak. Jangan sampai ada orang ketiga dalam rumah tangga kalian, jika sudah tidak baik-baik saja, lebih baik dibicarakan, Mama perempuan. Tak mau kamu menyakiti hati perempuan."
Keduanya menoleh saat terdengar suara sandal Andini menuruni anak tangga. Anak angkat Delia itu terlihat begitu cantik meski hanya mengenakan kaos putih kebesaran, dan celana jogger berwarna senada. Ia tersenyum pada Awan dan Delia sebelum bergabung dengan Aira di taman belakang.
Delia sedikit melirik putranya yang juga tersenyum membalas senyum Andini.
"Astaga, kenapa otakku jadi kemana-mana." Delia membatin.
Hingga sore Awan juga belum pulang, masih betah berada dirumah mamanya, ditambah kedatangan Arum dan Angkasa yang menbawa serta kedua anaknya yang membuat Awan semakin betah saja. Potret bahagia mereka diabadikan Aira di status aplikasi pesannya.
** ** **
Pukul sembilan malam Awan baru sampai di apartemen. Saat dia masuk, lampu utama sudah menyala, artinya Reini sudah pulang.
Awan siap mendapat siraman rohani dari istrinya karena dia pulang terlambat. Namun Reini justru menyambutnya dengan pakaian dinas malamnya. Awan tentu heran dan bertanya-tanya dalam hati.
"Malam apa ini?"
"Malam membahagiakan pokoknya," jawab Reini menghalau tangan Awan yang akan membuka jas, serta kemejanya. Digantikan dengan jemari lentik nan lembut Reini.
Reini juga melepaskan alas kaki sang suami, dan tanganya juga cekatan membongkar tali hitam bergarga mahal yang melingkar dipinggang suaminya. Baju tipis yang memperlihatkan kemolekan tubuh indah Reini serta dada yang pas, tidak besar, dan tidak kecil menggoyah iman Awan yang hanya setipis kulit ari.
"Kau menggoda ku, Rein. Aku bisa menghajar mu sekarang," ucapnya parau sebab sudah terpancing lebih dulu.
Kelemahan seorang lelaki.
"Lakukan sayang, aku justru ingin melakukannya saat kamu belum mandi."
Malam ini, Awan pasrah dibawah kendali istrinya yang terlihat nakal dan beringas. Goyangan Reini membuat Awan terlena dan tak menaruh curiga sama sekali. Embun peluh muncul dari pori-pori kulit mereka, menandakan betapa bergairahnya dua insan manusia ini.
Hingga tiga dua puluh menit kemudian, kaki Reini mengejang, berbarengan dengan rahang Awan yang mengetat akibat pelepasan yang begitu hebat. Nafas Awan dan Reini saling memburu, entah kapan terakhir mereka melakukan olahraga yang menguras tenaga ini.
__ADS_1
"Mau mandi bareng?"
"Yakin nggak nambah kalau mandi bareng."
"Tergantung." Mengedipkan mata.
Tanpa kata, Awan membopong istrinya ke kamar mandi dan meletakkan didalam buth-up. Karena sudah lama, jawaban tergantung dari Awan membuat suara desahmerdu keduanya kembali terdengar.
Mandi yang seharusnya bisa dilakukan cukup dua puluh menit, kini menjadi hampir satu jam.
* * *
Seperti keinginan wanita pada umumnya, Reini juga sama, mengobrol setelah mereka melakukan olahraga.
"Kamu udah makan?"
"Hem," jawab Awan bergumam sambil mengusap bahu istrinya.
"Tadi pulang jam berapa dari kantor?" Reini balas mengusap alis tebal suaminya yang menjadi favoritnya.
"Siang. Tadi kerumah mama dulu." Awan setengah mengantuk, suaranya sudah terdengar lemah.
"Aku tahu, lihat statusnya Aira." Diam sejenak. "Wan, aku mau ngomong sesuatu."
Mata yang tadi sudah lima watt bertambah jadi sepuluh watt. Alisnya mengkerut menunggu apa yang akan dibicarakan istri menyebalkanya.
"Aku mau keluar dari Airlangga Airlines."
"Sungguh?" Awan seperti melihat secercah harapan.
"Ia, ingin ikut gabung bersama Merak Airlines."
Nafas Awan seperti berhenti mendengar ucapan istrinya. Nafasnya yang tadi tertatur, berubah jadi memburu, dan seakan terkena serangan jantung mendadak.
** ** **
Semalam memang tak ada perdebatan panjang, Awan memilih tidur dikamar tamu setelah mendengar permintaan istrinya. Dan pagi ini mama Voni sudah datang keapartemenya, mengajak Awan untuk mengobrol berdua di sebuah resto.
Wanita yang tanganya sudah terlihat lipatan halus itu menangis. Mereka duduk berdua berhadapan.
Awan diam, tak melakukan apa-apa, dia juga tak tahu harus bersikap bagaimana? Keadaan ini begitu menghantam dadanya.
"Mama nggak tau harus bicara apa sama kamu, Wan. Mama kehilangan kata-kata." Voni terlihat begitu sedih. "Semua salah Mama, karena sejak Reini lulus sekolah, langsung mengarahkan Reini ke Airlangga Airlines. Tanpa mencicipi dunia kerja lain, hingga di usianya yang sudah menanjak dewasa, belum mantap dan masih labil, masih penasaran dengan tempat lain."
Awan masih diam, dan itu membuat Voni takut.
"Mama izinkan kamu menceraikanya, Wan. Karena memang Reini masih susah diatur." Itu tujuan Voni mendatangi Awan.
Voni pasrah, atas kesalahan yang dilakukan Reini, menyadari itu semua kesalahanya.
Kemarin pulang dari penerbanganya, Reini pulang kerumah mamanya dan meminta pendapat, bukan pendapat lebih tepatnya. Memberi tahu jika dia ingin keluar dari Airlangga Airlines, dan bergabung ke pihak maskapai lain.
__ADS_1
Reini yang pintar, bisa memanipulasi kedaan, menyamarkan bekas tamparan mamanya dengan makeup dan krim penghilang memar. Bukan hanya mendapat tamparan dari Voni, Reini bahkan tak dianggap anak lagi oleh Rendy papanya, karena telah memalukan keluarga.
Kedua orang tua itu bingung, kenapa anak semata wayang mereka bisa menjadi keras kepala seperti ini.