Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Akhirnya


__ADS_3

Laki-laki normal mana yang tak sakit hati, melihat wanita yang ia sukai, berkali-kali memeluk dan bercumbu mesra dengan laki-laki lain. Sudah pasti ada rasa sesak seperti diremas kuat yang menghimpit dada dan membuatnya sulit bernafas.


Angkasa hanya dapat menghentak nafas kasar dan kecewa, lalu berbalik lagi dan mengikuti langkah sang ayah menuju parkiran. Pikirannya mulai tak karuan, perhatian Arum pada Alex melebihi perhatian seorang istri pada suami.


"Kamu mau pulang atau kemana, Ang? Ayah mau ke kantor dulu," suara Abian membuyarkan lamunan Angkasa.


"Pulang, Yah," jawab Angkasa.


"Kalau mau pulang, Ayah titip belikan rujak buat mama ditempat langganan mama kamu beli."


Angkasa mengerutkan keningnya. "Mama pengen rujak bukan berarti,-"


Abian tertawa. "Apa yang ada dalam pikiran kamu? Sudah belikan saja, mama kalau pusing memang suka makan rujak. Takutnya Ayah pulang terlambat, dan nanti kehabisan."


Angkasa mengangguk, ada rasa kagum pada sosok ayahnya, sudah setua ini, masih begitu perhatian dan romantis pada mamanya. Angkasa masuk kedalam mobil, tapi dia tak lantas langsung pulang, melainkan menunggu Arum keluar.


Meski kecewa melihat Arum memeluk Alex, tapi hati tak bisa berbohong, jika dia masih ingin melihat wajah cantik itu. Cukup lama Angkasa menunggu Arum keluar, tak lama sosok cantik itu terlihat bersama suster Andini, dan yang lebih mengejutkan, ada Awan dibelakang mereka.


Benar-benar Angkasa tak tahu kapan Awan datang, apa Awan juga melihat Arum dan Alex? Angkasa berharap Awan melihat itu,dan memikirkan lagi keputusannya.


Dadi dalam mobilnya, Angkasa terus mengawasi Awan dan Arum. Mereka terlihat sangat dekat, sesekali Arum tersenyum tersipu malu pada Awan, dan Awan dengan sangat perhatian membukakan pintu untuk Arum, sedang Andini tidak.


Ketika mobil Awan berjalan keluar area parkir, Angkasa menguntit dari belakang. Tak lama mobil yang Awan kendarai berbelok disebuah restoran. Angkasa tak ikut berbelok, melainkan menunggu di pinggir jalan, kebetulan ada mini market disebelah restoran tersebut, Angkasa memutuskan menunggu disana, takut ketahuan Awan, jika dia ikut masuk.


Sungguh Angkasa melakukan hal-hal


Awan, Arum dan Andini sudah memesan menu yang akan mereka makan, selagi menunggu, mereka melanjutkan obrolan mereka yang sempat tertunda.

__ADS_1


"Jadi, Rum. Kamu dan Alex sebenarnya ada hubungan apa?" tanya Awan menatap wajah cantik Arum yang duduk dihadapanya, bersama Andini.


"Sekarang kami sudah tidak memiliki hubungan apa-apa, Alex tadi memanggil ku, karena kini dia hanya sendiri." Arum sedih mengingat nasib Alex. Dimana memang tak ada siapapun yang perduli lagi pada Alex selain dirinya.


Saat dipersidangan tadi saja, keluarga papanya hanya perduli pada papanya, tak ada yang perduli pada Alex, atau menghampiri Alex hanya sekedar menanyakan keadaan Alex, mereka tak perduli Alex ada atau tidak.


Awan mengangguk. "Kenapa kamu begitu perduli padanya?" tanya Awan lagi.


Arum tersenyum, memang aneh sih, Alex sudah berbuat buruk padanya, tapi dia masih perduli dan stay disamping Akex.


"Dari kecil Alex tumbuh tanpa kasih sayang orang tua, dia memiliki orang tua yang utuh, tapi dia tidak pernah mengenal yang namanya figuran ayah dan ibu yang sebenarnya. Mungkin bagi orang-orang yang hidupnya normal, dan merasakan kasih sayang yang utuh dari orang tuanya, sulit mengerti apa yang dirasakan Alex."


Arum kemudian menarik nafas, apa dia juga akan memberi tahu tentang Alex yang mendapat kekerasan fisik dari ibunya? Sepertinya tidak, cukup hanya dia yang tahu hal ini, Alex cerita padanya, berarti Alex percaya jika dia mampu menjaga aib Alex selama ini, hanya pada Andini Arum menceritakan, sebab Andini harus tahu apa yang dialami Alex.


Arum kemudian menatap Andini, Andini menggeleng, seraya menyentuh punggung tangannya, berarti apa yang ada dalam pikirannya dan Andini sama, untuk tidak menceritakan masalah Alex terlalu dalam pada orang lain.


Mereka kemudian makan dalam diam, tapi Awan terganggu dengan ponselnya yang terus bergetar. Dilihatnya pop up pesan yang masuk, ternyata Reini pelakunya. Awan mengulum senyum, belakangan Reini sering sekali menghubunginya.


"Emm, Awan. Boleh aku minta tolong?" tanya Arum ragu-ragu menatap Awan.


"Ya, apa, Rum? Katakan saja." Awan balas menatap Arum.


Arum berdehem terlebih dahulu. "Bisa ... kamu menyampaikan terima kasih ku pada Captain Angkasa? Tadi aku ingin menemuinya, tapi sepertinya Captain tidak mendengar saat ku panggil." Arum berpositif thinking.


"Kenapa kamu tidak menyampaikannya secara langsung? Kamu bisa menemuinya dirumah kalau kamu mau," tawar Awan menatap Arum yang sedang berpikir.


"Saya tidak enak kalau harus kerumah."

__ADS_1


"Nanti juga kamu jadi orang rumah, harus terbiasa," sahut Awan yang membuat Arum terkejut. "Tidak, aku cuma bercanda," kata Awan terkekeh melihat ekpresi Arum.


Akan aku atur pertemuan kalian.


Makan selesai, mereka segera pulang, Andini yang ada pasien baru pulang dengan memesan taksi online, Arum dan Awan berjalan menuju parkiran mobil setelah Andini naik kedalam taksi.


"Yaaa, bannya kempes," keluh Awan, menekuk lutut melihat ban belakang kananya yang sudah kehabisan angin. Dia kemudian mendongak menatap Arum.


"Aku bisa temani kamu, sampai ada bantuan," ujar Arum, tak mungkin ia meninggalkan Awan.


Awan berdiri. "Hari sudah gelap, belakangan ini sering hujan deras, aku telepon seseorang yang bisa mengantar kamu pulang."


"Nggak usah, aku temani kamu sampai orang bengkel kamu datang," tolak Arum mengibaskan tangannya. Tapi Awan bergeming, dia menghubungi seseorang yang Arum tak tahu siapa yang Awan hubungi sebab Awan menjauh dari Arum. Arum sempat melihat Awan berdebat, tapi tak lama kembali dengan senyum yang tak Arum pahami.


"Yuk, orangnya sudah nunggu didepan." Tarik Awan tangan Arum menuntunnya menuju mobil yang Awan maksud. Kemudian sampailah mereka didepan mobil hunda cevec berwarna putih, Awan langsung membukakan pintu untuk Arum.


"Masuklah, Rum," perintah Awan seraya menunjukkan senyuman penuh arti.


Meski ragu siapa yang akan mengantarnya, Arum menurut saja, namun Arum sempat terkejut saat melihat yang didalam ternyata Angkasa.


"Captain!"


"Cepatlah masuk, aku banyak urusan, " ketus Angkasa.


"Jangan galak-galak sama calon istriku, antarkan dia sampai rumahnya dengan selamat," kata Awan mengedipkan sebelah matanya pada Angkasa.


"Hah?" Arum terkejut dengan ucapan Awan. Lalu dengan sengaja Awan memasangkan seatbelt Arum, sehingga menimbulkan adegan romantis yang membuat orang di depan kemudi seperti kebakaran jenggot melihatnya.

__ADS_1


"Kamu hati-hati ya," ucap Awan lembut, seraya mengusap rambut Arum. Membuat Angkasa semakin membulatkan matanya.


__ADS_2