Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Seasion 2. Awan


__ADS_3

Kata sabar saja tidak cukup untuk dimiliki Awan, tapi dia harus memiliki sifat ikhlas yang besar. Ikhlas menerima sifat wanita yang ia ikrarkan sumpah janji didepan sang pencipta. Kata cerai yang di minta Reini sungguh membuatnya cukup naik darah.


Awan memejamkan mata kuat demi meredam emosi sebelum dia menjawab permintaan Reini yang tak akan ia ucapkan. Ia lalu membuka mata, menatap istrinya yang sedang diliputi rasa kesal padanya. Awan memegang kedua sisi bahu Reini, meminta Reini menghadapnya.


"Tatap mata aku, Rein," pintanya, Reini pun menatap mata suaminya yang menatapnya dalam. "Bisa tidak, jika sedang emosi jangan ucapkan kata itu? Kita baru menikah hitungan dua hari bahkan, jam. Meski yang kamu ucapkan tak berarti apa-apa untuk pernikahan kita, tapi bisa memancing ku untuk mengiyakan permintaan mu," ucapnya tegas.


Reini hendak buka suara, tapi Awan tak memberinya kesempatan, Awan menyela lebih dulu sebelum Reini bicara, sebab jika wanita yang dulu begitu ia gilai ini bicara, setiap kata demi katanya mengandung belati yang dapat membocorkan stok sabar yang dimiliki Awan.


"Oke aku minta maaf, aku yang salah," tak ingin berdebat panjang, dia yang menghentikan bara api yang akan menyala. "Kita bicarakan nanti masalah kita setelah sampai rumah. Aku harus ke kantor sekarang, karena banyak yang harus aku kerjakan."


Kata ampuh meredam emosi wanita saat marah adalah meminta maaf lebih dulu meski tidak salah. Mengalah bukan berarti kalah bukan? Bukan hanya minta maaf, Awan juga menarik, dan memeluk tubuh ramping istrinya yang bak gitar spanyol dengan erat, dan itu cukup memadamkan api dihati sang istri, juga dirinya.


Dulu, memang dia begitu sayang pada Reini, sebelum memiliki Reini, dan sisa sayang itu masih ada. Akan ia tanam kembali rasa itu karena wanita ini kini telah ia pilih untuk menjadi istrinya.


"Kamu tunggu disini saja, temani mama dan Arum. Nanti aku jemput." Katanya mencium pucuk kepala Reini, mendinginkan kepala Reini yang selalu mengepul seperti cerobong asap.


Jurus itu cukup ampuh meredam amarah sang istri, Reini yang tadi begitu emosi atas sikap Awan padanya, kini sedikit tenang. Saat pintu lift terbuka pun, Awan meletakkan tangan Reini diatas tanganya, memperlihatkan pada dunia, jika mereka pasangan baru yang begitu romantis.


"Tunggu aku pulang ya, istriku yang cantik. Jangan nakal, akur-akur dengan mertua dan ipar." Dipuji dan disanjung sedemikian rupa oleh suaminya, Reini tersenyum malu, memperlihatkan kecantikanya. Awan dapat melihat senyum itu, dan berharap bisa melihat senyum itu selamanya karenanya.


Sebelum masuk kedalam mobil yang diantarkan petugas valet, Awan menarik kepala Reini, mencium kening istrinya mesra, tak perduli mereka berada didepan umum.


Ya ampun, kalau teman-teman pramugari lihat ini, pasti mereka akan teriak iri, aku diperlakukan bak ratu oleh suamiku.


Reini begitu senang atas perlakuan romantis Awan padanya, dia melambaikan tangan saat mobil Awan menjauh dan jendela tertutup, suara klakson Awan bunyikan sebagai salam perpisahan.


Sambil berjalan menuju lift, Reini menulis status di aplikasi hijau yang terhubung ke dua media sosial miliknya yang lain.


"Pagi-pagi dapat sun kening mesra dari suami. Selamat mencari nafkah suami ku, semoga lelah mu, menjadi lillah."


Status Reini itu langsung terbaca oleh Aira. Adik perempuan satu-satunya Awan yang hendak masuk ke ruang Arum yang baru, Aira tersenyum geli membacanya. Pasalnya Aira tahu jika mereka tadi sempat bertengkar, Aira melihat raut tak bersahabat kakaknya, meski dia belum berkeluarga, Aira tahu mana yang sedang bertengkar, mana yang tidak, sebab wajah Awan begitu kentara jika sedang marah atau tak suka.


"Hah, dasar pengantin baru." Dalam hati Aira dia tak akan melakukan itu nanti. Meski terkesan cuek, ia belajar pengalaman dari kedua kakaknya.


Arum sedang memberi Asi pada anaknya saat Delia, Aira, Nining, dan Amanda masuk. Abian dan kakek Philips Hamzah masih berada dikantor, menunggu kedatangan Awan yang ingin menjabat sebagai direktur utama, karena ada banyak arahan dan materi yang harus Awan pelajari.


"Duh, lutuna ponakan Onty. Ganteng mirip Kak Arum," puji Aira menjawil pipi bulat yang masih begitu merah.


"Kamu sudah cuci tangan, Ai. Jangan asal sentuh anakku, tangan mu membawa virus dan bakteri." Peringati Angkasa.


"Ampun deh yang udah jadi hot daddy, bawel banget. Aku juga tau kali Kak, tadi udah pakai handsanitizer, dibersihin juga pakai tissu basah. Sterilan tangan aku dibanding tangan Kakak," jawab Aira dengan bibir mencebik.


"Sakit Sayang?" tanya Delia melihat wajah Arum meringis kesakitan.


"Iya, Ma. Dari tadi nggak lepas dari nen, kalau lepas langsung nangis."

__ADS_1


"Hem pinternya cucu Oma. Kuat enenya biar cepet gede ya Sayang." Delia meminta izin untuk mengendong anak Arum, dia terkekeh saat bibir sang bayi tak mau lepas dari dada ibunya, padahal matanya terpejam rapat.


"Ampun deh, istirahat dulu sayang. Oma pengen gendong." Akhirnya bibir itu terlepas, meski begitu, bibir anak itu masih terus bergerak seolah masih menyecap milik sang ibu. "Ini harus disambung, Rum. Kalau tidak nanti kamu kewalahan." Delia memberi masukan.


"Apa tidak apa-apa, Ma?"


"Nggak papa, anak kamu sepertinya kuat susunya. Anak laki-laki memang seperti itu." Angkasa senang Delia perhatian, itu artinya Arum sudah diterima seutuhnya oleh mamanya.


"Sudah ada namanya, Kak?" tanya Aira.


"Sudah donk," jawab Angkasa duduk disamping Arum. Menyuapi Arum buah dan susu untuk memulihkan energi Arum yang terkuras habis, melahirkan dan menyusui bayi mereka.


"Oma juga sudah menyiapkan nama buat anak kalian, jauh sebelum kita menyusul kamu ke Arab." Sahut Amanda masuk dalam obrolan anak dan cucunya.


"Nama yang udah disiapin Oma, disimpen dulu ya Oma. Buat anak Angkasa selanjutnya, atau kalau tidak buat anak Awan, soalnya Angkasa sudah menyiapkan nama sendiri," ujar Angkasa tak ingin ada orang lain memberikan nama untuk anak mereka, kecuali dirinya sendiri.


Amanda terlihat cemberut. "Dasar anak muda jaman sekarang, tidak menghargai hasil jerih payah Oma memikirkan nama yang bagus, sampai tidak tidur siang dan malam." Amanda mendengus.


"Bukan begitu Oma," sanggah Angkasa, andai ada granfa disini, Angkasa ingin granfa saja yang menjelaskan pada Oma. "Oma kan sudah memberikan nama buat anak-anak Oma, sekarang kasih kesempatan cucu Oma yang paling ganteng ini memberi nama untuk anaknya sendiri," ucapnya dengan wajah memelas berharap omanya mengerti.


"Jadi namanya siapa?" Amanda ingin tahu.


"Adithya Hargiyana Philips Hamzah," jawab Angkasa, "yang artinya dewa matahari," sambungnya.


"Jaman dia besar nanti, zaman pasti jauh lebih canggih, kenapa harus berpikir begitu? Jadi kamu harus jauh berpikir kedepan saat jadi sarjana nanti." Aira mendengkus, Angkasa meremehkanya.


Reini masuk setelah tadi mengantar Awan, wajahnya terlihat sumringah, tidak seperti saat mengantar suaminya tadi. Bertepatan saat dia masuk, ia melihat dada Arum yang sedang diolesi minyak zaitun oleh Nining.


"Itu kenapa, Rum?" tanyanya ingin tahu, duduk disofa samping Amanda.


"Biar tidak lecet saat memberi asi buat debay nanti," Nining yang menjawab.


"Emang kasih asi sakit, Bu?" lagi dia bertanya spontan, benar-benar ingin tahu.


"Untuk tiga hari kedepan sakit sayang, tapi setelahnya tidak kok. Karena lidah bayi masih kasar," jelas Nining. Melihat jelas pucuk dada Arum yang memerah akibat terlalu lama memberi asi sang anak. Seketika sekujur tubuh Reini meremang, tak bisa membayangkan dia merasakan itu semua terjadi padanya.


Perhatian Reini jatuh pada tubuh Arum, dari pipi, tangan, perut, hingga bagian bawah tubuh Arum semua terlihat bengkak. Reini meringis, apa bisa Arum mengembalikan bentuk tubuhnya seperti sedia kala? Mengingat Arum memiliki tubuh yang begitu ideal saat masih menjadi pramugari hingga membuatnya menjadi primadona dan menjadi incaran para pilot, namun para pilot itu memilih mundur tatkala Alex mengakuisisi Arum miliknya.


Suara dering ponsel Delia bergetar, dia memberikan cucu petama yang digendongnya pada Aira. Delia melihat nama besan keduanya sebagai pemanggil.


"Iya Von," Reini menatap Delia, mendengar nama mamanya disebut. Diseberang sana Voni memberikan selamat atas kelahiran cucu pertama Delia, tak banyak berbasa basi, Voni menitip pesan pada Delia meminjam Reini sebentar untuk kerumahnya mengambil hadiah dari teman Reini.


"Rein, mama kamu minta kamu pulang sebentar, ada hadiah dari teman jauh mengirim paket." Delia memberi tahu menantu keduanya setelah panggilan terputus.


"Baik Ma. Kalau begitu Reini pamit pulang dulu." Reini berpamitan, mencium satu persatu tangan keluarga suaminya, doa Amanda langsung dijawab tidak dalam hati oleh Reini saat Amanda berharap mereka segera diberi momongan seperti Angkasa dan Arum.

__ADS_1


* * *


"Jelaskan sama Mama, apa maksud kamu pesan obat ini?" Voni menghardik Reini dengan pertanyaan, ketika Reini baru melangkahkan kakinya satu langkah di dalam rumah orangtuanya.


Reini melihat obat yang dipegang Voni. "Oh, itu obat Kb, Ma? Kenapa Mama nanya pakai marah begitu sih?" berjalan masuk melewati Voni, duduk di sofa menengadahkan langit rumah.


"Untuk apa, Rein?" tanya Voni duduk didepan anaknya.


"Ya buat tunda kehamilanlah, Ma," jawabnya tanpa rasa bersalah.


"Apa Rein? Kamu sudah gila? Apa Awan setuju dengan ini?"


"Belum ada jawaban pasti dari Awan, tapi Reini yakin Awan setuju saja sama keputusan Reini."


Voni menggeleng. "Mama nggak percaya kamu seperti ini kalau obat ini tidak sampai disini, Rein. Mama harap kamu pikirkan baik-baik apa sebelum kamu mengkonsumsi ini, orang yang sudah memiliki anak dua, tiga, saja bisa bercerai, apalagi kalau sampai tidak punya anak." Voni memperingati anaknya.


"Makanya Reini ingin tahu seberapa besar cinta Awan sama Reini, Ma. Kalau bercerai pun, kami tidak akan diribetkan soal anak."


"Astagfirullahhaladzim," Voni mengelus dada, enteng sekali anaknya menjawab seperti itu. Dia langsung mengoreksi diri, apa ada yang salah cara dia mendidik anaknya, atau akibat dari suaminya yang selalu main-main soal gunung kawi, atau dia terlalu memanjakan anaknya?


"Pernikahan bukan untuk bahan uji coba kesabaran orang, Nak. Jangan sekali-kali menguji cinta didalam pernikahan, tidak baik. Hati-hati dalam berkata, takut akan jadi kenyataan dan kamu akan menyesal nantinya." Voni memperingati, "kamu meminta Awan cepat-cepat menikahi kamu saat kamu melihat Angkasa menikah dengan istrinya, tapi kamu malah mau menunda momongan, kamu membuat malu Mama kalau sampai Delia tahu ini. Jangan sampai hubungan kami retak karena masalah ini."


"Ma, kenapa terlalu berlebihan sih? Mama tenang aja, Reini akan bicarakan ini sama Awan."


"Mama ingin mendengar langsung jawaban Awan, Rein. Jadi minta Awan pulang kesini nanti."


"Iya, iya. Reini telepon Awan nih."


Panggilanya tidak diangkat, Reini mengirim pesan pada suaminya.


* * *


Pukul sembilan malam mobil Awan baru sampai dirumah mertuanya. Awan disambut kedua mertuanya dengan senyuman hangat, Reini juga menyambut kedatanganya.


"Mama minta kamu pulang kesini karena mau mendengar jawaban kamu soal aku yang menunda punya momongan, nanti kamu jawab setuju aja, ya. Obat dari teman ku tadi sudah sampai, jadi malam ini aku bisa memberikan hak kamu," ucap Reini.


Awan baru keluar dari kamar mandi sudah dengan pakaian lengkap, Reini memintanya memakai baju karena Reini belum pernah melihat tubuh lawan jenis.


Awan diam sejenak, sepertinya dia harus mengambil langkah tegas.


"Rein, diamnya aku beberapa hari ini, tidak menuntut hak sebagai suami, bukan berarti aku patuh padamu sebagai istri ku. Tapi aku sedang memahami apa arti pernikahan yang sesungguhnya."


"Maksud kamu?"


"Kita beri jawaban ini didepan mama kamu."

__ADS_1


__ADS_2