Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Calon Istri Awan


__ADS_3

Mata Arum tak berkedip sama sekali melihat sosok tampan yang berjalan menghampirinya saat ini. Ia pikir Angkasa marah padanya, tapi ternyata laki-laki itu kini menghampirinya.


"Captain, saya senang Captain datang," ujarnya dengan sudut bibir yang mengembang, bahkan rasanya sulit untuk tertutup karena saking senangnya.


Laki-laki itu tersenyum ramah, membuat wajah tampannya terlihat semakin sempurna.


"Sorry, kenalkan. Saya Awan, saudara kembarnya Angkasa." Awan memperkenalkan dirinya, mengulurkan tangannya didepan Arum.


Senyum yang tadi sempat merekah sempurna di bibir cantik itu kini langsung memudar dan berganti wajah penuh kecewa, saat tahu yang datang itu ternyata bukan malaikat penyelamatnya yang sering tiba-tiba muncul setiap dia butuhkan.


"Saudara kembarnya?" ulang Arum menyakinkan. Awan mengangguk cepat.


"Perhatikan wajah ku," Awan menunjuk wajahnya dengan kedua jari telunjuknya dengan cengiran, "wajahku agak kecil, dan misai ku juga lebih tipis. Kalau Angakasa, wajah dan tubuhnya lebih besar dari ku." Awan langsung menjelaskan perbedaan dirinya dan Angkasa, agar Arum tidak salah paham.


Arum mengamati wajah laki-laki didepanya, yang ia anggap bak pinang dibelah dua dengan laki-laki yang ia anggap malaikat sebagai penyelamatnya itu. Arum coba mengingat lagi lebih teliti wajah Angkasa, yang sudah ia rekam dengan begitu jelas dikepalanya, mungkin ada perbedaan lain yang mereka miliki.


"Dan kalian memiliki warna bola mata yang berbeda," tebak Arum yang lolos begitu saja dari bibirnya setelah menemukan perbedaan keduanya, dia begitu mengenal bola mata Angkasa yang selalu menatapnya penuh rasa khawatir dan peduli.


Arum merasa kehilangan sosok itu.


"Sepertinya kamu sudah sangat mengenal saudara kembar ku, sampai tahu begitu detail perbedaan kami. Kamu orang pertama yang bisa menebak itu, biasanya orang hanya bisa mengatakan jika wajah ku lebih tirus dari Angkasa," puji Awan dengan kekehan kecil. Arum membalas tersenyum yang terlihat dipaksakan.


Awan kemudian memperhatikan mama Arum yang berdiri dibelakang Arum, lalu melihat beberapa koper di sisi mereka.


"Kalian mau kemana?" tanya Awan ingin tahu, menatap Arum dan mamanya bergantian.


Arum terlihat canggung, bingung, apakah mau jujur atau tidak? Dia menoleh pada mamanya, Nining mengangguk.


"Kami mau pindah," jawabnya pada akhirnya. Setelah mendapat persetujuan dari mamanya.


"Pindah? Kenapa?"


"Tidak ada apa-apa," jawab Arum singkat. Kemudian, taksi yang mereka tunggu tiba. Awan memutar tubuhnya mendengar suara dengungan mesin mobil.

__ADS_1


"Kalian mau naik taksi?" Arum mengangguk.


Tanpa mengatakan apa-apa, Awan langsung menghampiri taksi tersebut, berbicara pada sang sopir, lalu mengambil dompet dari saku celana belakang, mengambil beberapa lembar uang berwarna biru dan memberikannya pada supir tersebut, tak menunggu lama, taksi itu berlalu.


"Loh, Pak. Kok pergi?" teriak Arum berlari, tapi percuma, taksi itu sudah berjalan menjauh. "Kamu yang nyuruh supirnya pergi?" tanyanya pada Awan, terlihat tak suka.


"Maaf, karena aku butuh kamu." Ditariknya tangan Arum menuju mobilnya, bukan untuk diculik, tapi untuk ia dekati. Arum tak bisa menolak itu, karena setelahnya dia sudah duduk didalam mobil Awan, sedang laki-laki yang Arum tidak tahu siapa itu, dan menghampiri mamanya, kemudian laki-laki yang diperkirakan seumuran dengan mamanya itu membawa mamanya masuk kedalam mobil, dan duduk disebelahnya.


"Alamat rumah kamu yang baru, dimana? Kami antarkan," ucap Awan menoleh kebelakang, bertanya pada Arum. Kemudian Awan melihat Nining yang hanya diam. Mata Awan kembali pada Arum. "Aku bukan ingin menculik kalian, tapi aku butuh kamu, Rum."


* * *


"Untung pagi-pagi Om langsung ajak aku ke rumah Arum, kalau enggak, kita bisa terlambat, dan nggak tahu akan mencari Arum kemana?" ucap Awan, menoleh pada adik ipar mamanya yang sedang berkonsentrasi dengan kemudinya.


Mereka sudah mengantar Arum ke rumah kontrakan baru Arum, tidak hanya mengantar, tapi juga membantu Arum membersihkan rumah yang akan ditempati Arum dan mamanya itu, serta membelanjakan keperluan Arum. Arum sebenarnya menolak keras pemberian mereka, tapi yang namanya lelaki, selalu memaksa, dan yang diberi, wanita lemah lembut yang memiliki hati tak enakan untuk menolak.


"Om sudah bisa menebak kalau hal ini akan terjadi. Om sudah sangat hapal betul sifat perempuan, biasanya jika diabaikan sekali, maka mereka akan menghilang bak ditelan bumi, dan kita akan dibuat mencari sampai keujung dunia. Ketemunya setelah kita sudah lelah mencari, dan ternyata mereka ada disekitar kita, tak jauh dari kita," jawab Daniel dengan kekehan, seperti sedang menceritakan masa lalunya. Daniel menoleh kearah keponakannya sekilas, lalu kembali fokus ke jalanan.


"Hah? Yang bener Om. Gila, seplayboy apa sih, Om dulu?" ucap Awan takjub, dia sampai menggelengkan kepala.


"Tante Denisa?"


"Siapa lagi? Bahkan Om dulu berprinsip, rela melakukan apa saja demi bisa mendapatkan tante kamu. Om menempatkan diri sebagai laki-laki yang benar-benar mencintai wanitanya, laki-laki yang tak akan merelakan wanitanya bersama dengan laki-laki lain, selagi janur kuning belum melengkung, akan Om kejar terus sampai titik darah penghabisan," ucapnya mengajari sang keponakan.


"Hem, gitu ya Om? Sepertinya Awan akan mengikuti jejak Om, akan melakukan segala cara demi bisa mendapatkan hati wanita yang kita sayang," ucap Awan dengan menggebu, cerita Daniel menyalakan kobaran api di dalam dadanya.


"Ikuti yang baik-baik saja, buang yang tidak baik," pesanya, "wanita itu makhluk yang random, kita kejar, dianya ilfil, dicuekin, kita juga takut keduluan orang. Ya kadang perempuan itu suka ditarik ulur."


Mobil Daniel tiba didepan rumah besar Abian, rumah besar itu terlihat semakin cantik karena diterangi lampu penerangan taman, saat mereka tiba, hari sudah berganti gelap.


Awan melangkahkan kakinya menapaki marmer berwarna cream yang terlihat mengkilat, bibirnya mengerucut, mengeluarkan suara siulan yang menandakan jika dia sedang sangat bahagia. Langkah kakinya terdengar sampai ke ruang keluarga, kebetulan keluarganya sedang makan malam, mereka yang sudah bersiap akan makan menoleh kearah langkahnya.


"Kakak lempeng tenggorokannya, kita lagi makan pulang," seloroh Aira meledek kakaknya.

__ADS_1


Angkasa menatap curiga pada Awan, sebagai saudara kandung, terkadang dia tahu apa yang tengah dirasakan saudaranya.


"Itu tandanya kalian nggak boleh makan sebelum aku pulang." Awan mengecup pipi Delia, mengambil duduk, mau ikut makan.


"Cuci tangan dulu sayang." Tegur Delia. Awan patuh, beranjak lagi dari duduknya, mencuci tangan ke wastafel dapur.


"Kamu dari mana?" tanya Angkasa memutar tubuhnya, nampaknya tak sabar ingin tahu dari mana saudara kembarnya itu.


"Dari membantu calon istri pindahan," sahutnya santai, menaik turunkan alisnya pada Angkasa. Lalu mendudukkan pantatnya tepat di kursi sebelah Angkasa.


Sontak saja jawabanya membuat Abian, Delia, Angkasa dan Aira terkejut. Semua menatap Awan meminta penjelasan.


"Nanti akan aku kenalin sama kalian. Aku memutuskan untuk move on dari wanita yang tidak mencintaiku, Awan jatuh hati pada sosok cantik wanita ini sejak pertama kali bertemu," jelas Awan. Dan tanpa memperdulikan lagi tatapan keluarganya yang meminta penjelasan lebih, Awan dengan santainya menyendok nasi.


"Kamu kerja dulu kalau mau menikah, mau dikasih makan apa anak dan istri mu kalau kamu saja pengacara?"


"Nah ini Yah, yang mau Awan bicarakan sama Ayah. Mulai besok, Awan mau gabung di perusahaan, Ayah."


"Serius kamu? Seharian pergi sama Om kamu. Dikasih makan apa? Sampai berubah begini, pasti si Daniel ajarin kamu yang engak-enggak." Tuduh Abian atas perubahan drastis sikap Awan.


Awan itu, anaknya yang paling tidak mau bekerja.


"Serius Ayah, demi wanita yang Awan cintai, Awan putuskan untuk mengakhiri profesi Awan sebagai pengacara, alias pengangguran banyak acara," selorohnya semakin membuat orang bertanya-tanya.


"Siapa sih cewek itu?" Aira semakin kepo, siapa wanita yang bisa membuat kakaknya ini bisa move on dari wanita anak sahabat ayahnya.


"Nanti akan Awan ajak kesini, buat dikenalin ke kalian." Sahut Awan, dan tanpa banyak bicara lagi, dia menyuapkan nasi kedalam mulutnya, moodnya sedang bagus, membuat Awan ingin memasukkan makanan apa saja kedalam mulutnya.


* * *


Keesokan paginya, Angkasa yang penasaran ingin tahu siapa wanita yang membuat Awan bisa berubah itu, mengikuti mobil Awan. Dia belum aktif bekerja setelah insiden itu.


Memang Awan ingin bergabung diperusahaan ayahnya. Tapi, sebelum dia menuju ke kantor, Awan memutuskan untuk singgah dulu kerumah wanita yang dia klaim sebagai calon istrinya itu.

__ADS_1


Dari jauh, Angkasa melihat Awan memberhentikan mobilnya tepat didepan rumah minimalis, Awan turun dari mobilnya, berjalan masuk ke salah satu rumah kontrakan yang saling menempel satu sama lain. Kedatangan Awan itu disambut oleh wanita yang begitu Angkasa kenali dari postur tubuhnya. Angkasa sampai memajukan duduknya, menyipitkan mata, untuk memastikan jika dia tidak salah melihat.


__ADS_2