Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Tinggal Bersama


__ADS_3

Saat sedang merasakan sesak, beruntung Angkasa masuk, dia langsung memberi pertolongan pertama dengan memberi nafas buatan dan menekan dada Awan, agar Awan bisa mendapatkan oksigen sebanyak-banyaknya.


Setelah nafas Awan stabil, Angkasa segera mengambil obat dimana Awan biasa menyimpannya. Angkasa menegakkan setengah tubuh Awan agar Awan bisa menelan sebutir obat, dan didorong dengan segelas air putih.


"Kamu membuat ku khawatir, Brother." Angkasa menepuk pundak Awan dengan kekehan kecil.


Semenit kemudian, dia membawa Awan untuk berbaring diatas tempat tidur agar lebih rileks, mata Awan masih terpejam, mungkin dia kelelahan.


Sebenarnya, niat hati Angkasa kekamar Awan ingin memberi tahu kabar bahagia tentang hubungannya dengan Arum, tapi dia malah mendapati Awan sedang sesak nafas. Bukan pertama kali Angkasa melihat Awan seperti ini setelah kejadian dulu, kejadian dimana Awan harus merasakan trauma berat hingga saat ini.


"Terima kasih, untung kamu datang," lirih Awan sadar jika yang menolongnya adalah saudara kembarnya. "Kamu memang ditakdirkan untuk selalu membantu ku," kata Awan lagi, sedikit membuka matanya. Karena setiap kali rasa trauma itu datang, Angkasa orang pertama yang datang dan menolongnya.


Ajaibnya, disaat Angkasa berada diluar negeri dulu, traumanya malah sama sekali tak pernah kambuh. Justru ini yang pertama sejak terakhir dia memaksakan ingin ikut mengantarkan Angkasa keluar negeri, tapi tetap dia tak bisa ikut serta.


"Istirahatlah, mungkin malam ini aku akan menemani mu," ucap Angkasa langsung naik ketempat tidur.


"Aku bukan anak kecil, aku bisa menjaga diri." Awan mendorong tubuh kekar Angkasa menggunakan kakinya.


"Kamu harus mendengarkan curhat ku sebagai terima kasih mu, karena aku sudah menyelamatkan nyawa mu," ucap Angkasa membetulkan letak tubuhnya.


"Dasar saudara kembar jahanam, membantu dengan pamrih," cibir Awan sambil memejamkan mata. Dia sudah lebih baik.


Sambil menatap langit-langit kamar Awan yang berwarna biru muda, Angkasa menceritakan kabar baik hubungannya dengan Arum, saat bercerita, bibir Angkasa tak hentinya menyunggingkan senyum, menandakan jika dia sangat bahagia.


"Terima kasih, itu semua berkat mu," ucap Angkasa menoleh kearah Awan, "kamu mendengar ku, kampret?" makinya mendapati mata Awan terpejam, menendang kaki Awan.


"Dengar, sialan!" balas Awan menendang kaki Angkqsa, membuka matanya, menoleh kearah Angkasa. Angkasa terkekeh.


"Aku juga yang menukar gaun yang kamu berikan, maaf," ujarnya mengakui.

__ADS_1


"Hem, sudah kutebak." Awan kembali memejamkan mata. "Selamat atas hubungan kalian," ucapnya memberi selamat dengan hati yang terasa perih, kini justru dia masih berjuang.


"Apa aku masih boleh menemui Arum?" gumam Awan meminta izin.


"Untuk apa? Kamu sudah punya Reini." Cetus Angkasa tak memberi izin. Kini hanya dia laki-laki yang boleh menemui Arum.


"Tak ada, cuma sudah terbiasa bertemu Arum," ucap Awan lirih.


"Apa Reini penyebab kamu mengalami ini lagi?" tebak Angkasa seketika bangkit dari tidurnya, menatap Awan yang masih memejamkan mata.


Tak ada jawaban dari Awan. "Tinggalkan Reini kalau begitu," pintanya tegas.


"Aku menunggu momen ini dari dulu, aku akan berusaha." Angkasa membuang nafas kasar, Awan terlalu bucin, tapi dia juga tak menyalahkan Awan, hanya menyayangkan Reini yang tak membuka hati untuk Awan.


"Cinta memang butuh perjuangan, tapi jika itu menyiksa, jangan diteruskan." Angkasa mengingatkan, turun dari tempat tidur, dia sudah tau alasan Awan kambuh. Lalu berjalan menuju pintu.


Angkasa berhenti sejenak, tangannya tergantung memegangi handle pintu. "Jika nekat melakukan itu lagi, aku akan memberi tahu pada mama semua tentang Reini," ucapnya sedikit mengancam tanpa menoleh, lalu keluar dari kamar Awan.


* * *


Abian tersenyum. "Maaf, Ayah tidak sopan masuk tanpa izin, Mu."


Angkasa menutup pintu, berjalan kearah Abian. Keduanya duduk ditepi ranjang.


"Apa mama sudah membicarakan dengan tentang perjodohan itu pada mu?" tanya Abian langsung menanyakan tujuanya.


Angkasa mengangguk. "Iya, tapi Angkasa sudah memutuskan untuk menolak perjodohan itu, Yah. Angkasa memilih Arum," ungkap Angkasa jujur.


Abian menepuk tangan Angkasa yang berada diatas pahanya. "Ayah memang belum menanyakan itu pada mama kamu, jika Ayah yang bertanya, urusannya jadi panjang. Kamu tahu sendiri, mama kamu, makin tua makin sensitif." Abian terkekeh, sebab apapun pendapatnya, Delia pasti hanya akan percaya jika sudah bicara langsung pada Angkasa. "Ayah percaya kamu bisa mengatasi itu." Diapun berdiri, "Ayah hanya ingin menanyakan hal itu, dan memastikan jika kamu tidak terlalu keras menolak permintaanya, tolaklah secara halus, jangan sampai menyakiti hatinya Ayah akan membantu mu dari belakang," ucap Abian lagi.

__ADS_1


"Oh ya, Ang. Kamu bisa aktif lagi, setelah putusan sidang Alex dan papanya. Dan ini, Papa sudah meminta tanda tangan para dewan direksi yang setuju kamu kembali bergabung bersama Airlangga Airlines." Abian memberi tahu.


"Terima kasih, Yah. Maaf, gara-gara Angkasa, Ayah terkena masalah besar."


"Itu tidak masalah, Ayah malah berterima kasih pada mu, berkat kedekatan kamu dengan Arum, terbongkar semua kebusukan Axel dengan ayahnya. Ayah dukung sepenuhnya hubungan kamu dengan Arum, jika kamu menerima Arum, kamu harus sudah menerima dia apa adanya." Abian menepuk pundak Angkasa sebelum akhirnya keluar dari kamar Angkasa.


Angkasa mengangguk, menatap punggung Abian yang menghilang dibalik pintu. Dalam diam dia mengagumi ayahnya yang sangat menjaga perasaan sang mama, tidak ingin wanita itu sampai sakit hati oleh perkataan anaknya yang akan membuatnya sedih.


* * *


Meski telah mendapatkan penolakan mentah-mentah dari Angkasa, nyatanya Delia masih berusaha mendekatkan Angkasa dengan Andini. Seperti pagi ini Angkasa dikejutkan keberadaan Andini yang sudah bergabung bersama keluarganya di meja makan, duduk dikursi sebelah Angkasa yang biasa ditempati Aira.


"Kapan dia datang?" gumam Angakasa dalam hati. Mereka saling sapa lewat senyum. Senyum canggung tak seperti biasanya.


"Yuk, kita sarapan. Setelah sarapan ada yang ingin Mama sampaikan pada kalian semua." Ajak Delia pada anak-anaknya juga suaminya. Mereka pun mulai menyantap nasi goreng buatan Delia, yang rasanya tak kalah enak dari abang-abang pinggir jalan.


Saat makan sesekali Angkasa dan Awan saling lirik, seolah bicara lewat tatapan mereka, kenapa bisa ada Andini sepagi ini dirumah mereka?


"Ehem," Delia berdehem setelah selesai makan. "Anak-anak Mama, pasti kalian terkejut kenapa ada Andini disini, iyakan?" tukasnya menatap Angkasa, Awan dan Aira bergantian.


Semua diam menunggu apa yang ingin disampaikan mama mereka.


"Jadi begini," Delia menegakkan letak duduknya, "Andini ini ternyata anak sahabat Mama yang bernama Cecilia," Delia menatap sendu Andini, "dan sahabat Mama, sudah tiada." Awan dan Aira yang memang belum mengetahui ini terkejut, tapi tidak dengan Angkasa yang sudah tahu.


"Jika kemarin amplop Andini tidak sengaja ditemukan bibik, mungkin kita tidak akan pernah tahu Andini ini siapa? Dan didalam amplop itu berisikan surat wasiat Cecilia yang meminta Mama untuk menjaga Andini, serta menjodohkan Andini dengan, Angkasa." Delia menatap Angkasa dengan tatapan sedikit kecewa.


Awan seketika menatap kearah Angkasa, ingin melihat reaksi Angkasa, tapi Angkasa biasa saja, karena dia tahu lebih dulu.


"Tapi ... karena Angkasa sudah menentukan pilihannya, jadi Mama tidak bisa berbuat apa-apa," ucap Delia pada akhirnya. Meski belum sepenuhnya ikhlas akan keputusan Angkasa, tapi dia mengakui jika Angakasa memilih Arum.

__ADS_1


"Jadi, sebagai penebus permintaan almarhumah, Mama mengajak Andini untuk tinggal bersama kita, kalian setuju kan?" putus Delia menatap anaknya satu persatu.


__ADS_2