
Howekkk
Howekkk
Nining yang sedang menghitung pemasukan penjualan didalam kamarnya, mendengar suara Arum yang sudah seminggu ini terus saja mengalami morning sicknes. Arum tak mengeluarkan isi perutnya, dia hanya mual setiap pagi.
Nining menghela nafas dalam, dia tak kuat lagi jika harus berpura-pura tak tahu apa yang terjadi pada anaknya. Entah Arum sendiri sudah tahu atau belum mengenai keadaan dirinya. Nining bangkit, dan menghampiri Arum ke kemar mandi.
"Sudah periksa ke dokter? Mama lihat sudah seminggu ini kamu terus begitu." Bertanya diambang pintu.
Arum membersihkan mulutnya. "Belum, Ma. Nanti kalau kerumah sakit."
Nining mengangguk, mulutnya rasanya ingin segera memberi tahu kondisi Arum. "Cepat periksa, atau Mama temani sekarang?"
"Nanti aja kalau ke rumah sakit, Ma."
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Angkasa?"
Wajah Arum berubah sendu, tak menjawab, Arum keluar dari kamar mandi, menuang air panas dari dalam tremos, mencampurnya dengan air dingin, lalu menenggaknya hingga tandas. "Minta tolong doanya, ya Ma. Angkasa cepat bangun dari tidur panjangnya."
"Sudah hampir dua pekan, apa tidak ada perkembangan darinya?" Nining berharap Angkasa cepat bangun, tak ingin Arum mengalami hal yang sama denganya.
Arum menggeleng lemah sebagai jawaban.
Nining lagi-lagi hanya bisa menghela nafas. Yang terjadi sekarang, sungguh mengingatkan Nining padanya kejadian dua puluh enam tahun silam. Dimana disaat dia mengetahui kalau dirinya tengah berbadan dua, bersamaan dengan itu, dia harus mendapatkan kabar duka jika laki-laki yang berjanji akan menikahinya mengalami kecelakaan dan harus meninggalkanya seorang diri tanpa mengetahui jika sudah ada malaikat kecil yang tumbuh didalam perutnya.
Sedangkan Delia dan yang lainnya yang sudah mengetahui itu, Delia minta untuk tidak memberitahu Arum dulu. Bukan Delia egois, dia sendiri bingung harus apa? Keadaan Angkasa yang belum ada kemajuan sama sekali membuat Delia ragu, takut Arum akan kepikiran dan berakibat akan pertumbuhan sang baby. Tak memberitahu Arum, tapi Delia menceritakan ini pada Angkasa.
Dari sinetron yang suka ia tonton, orang yang sedang keadaan koma, jika diceritakan yang baik-baik akan segera sadar, dan dimulai dari pergerakan jarinya. Tapi jari Angkasa tak merespon sedikitpun.
"Arum belum tahu keadaanya, Mama bingung harus memberi tahu dia apa tidak?" Delia mengusap pipinya yang basah. "Kamu cepat bangun, Mama mau marah sama kalian yang nggak bisa sabaran. Kenapa kalian harus ngadon dulu sebelum sah? Nggak adil kalau Mama cuma menghukum Arum tanpa menghukum kamu."
__ADS_1
Delia yang awalnya agak keras pada Arum, kini mulai luluh karena Abian juga sudah bisa menerima keadaan dengan lapang dada. Yang menjadi kekhawatiran besar mereka saat ini, Angkasa. Apa Angkasa bisa kembali sadar atau tidak?
Meski belum diberi tahu tentang kehamilanya, Arum tak kurang perhatian sedikitpun dari saudara Angkasa, baik dari Awan, Aira, dan Andini. Awan sendiri lebih dari suami siaga, ontime menjemput Arum yang akan kerumah sakit, juga mengantarkannya pulang. Awan juga selalu menanyakan tentang makanan yang Arum inginkan.
Seperti kemarin, Arum yang tiba-tiba ingin gudeg asli dari Jogja, Awan mengabulkanya, mendatangkan langsung dari Jogja. Meski hari ini baru sampai.
"Selamat pagi, Rum." Sapa Awan Arum yang baru keluar dari rumah berjalan kearah mobilnya.
"Pagi, Wan." Balas Arum. Masuk kemobil dengan pintu yang dibukakan oleh Awan.
"Terima kasih." Awan menutup mobil, berjalan memutar bagian depan mobil. Duduk dibalik kemudi.
"Apa pagi ini masih suka mual?" tanya Awan mulai menjalankan mobilnya. "Oh ya. Ini gudeg pesenan kamu sudah sampai." Menyerahkan kotak makan mika berisi gudeg.
"Sudah sampai? Kamu benar membelikanya asli dari Jogja?"
__ADS_1
Awan tersenyum. "Akan aku penuhi semua keinginan kamu. Kamu bilang saja mau apa?"
"Temani aku periksa ke dokter nanti." Awan mengangguk, mungkin memang sudah saatnya Arum mengetahui kondisi dirinya.