
Malam itu, setelah makan malam bersama, Awan tak mengantar Reini pulang seperti yang biasa ia lakukan, Reini pulang diantar sang paman, Daniel. Membuat Reini merutuk dalam hati.
Meski Awan tak mengantar Reini, tetap saja Angkasa tak bisa menemui saudara kembarnya itu, Awan berubah jadi sangat menjengkelkan, pintu kamarnya ia kunci rapat, ponselpun ia matikan.
Jika tidak akan mengganggu istirahat sang mama, Angkasa sudah mendobrak pintu kamar Awan dan membuat keributan, tapi dia mencoba mengalah, besok ia harus bersiap ikut ke pengadilan sebagai saksi atas kasus Alex, dan papanya.
Pagi harinya, saat Angakasa bangun dan langsung ke kamar Awan, tapi penghuninya sudah tidak asa, Angakasa kembali harus menelan kekecewaan, akhirnya ia memutuskan turun ke bawah. Saat kakinya menapaki satu persatu anak tangga, dia mendengar suara mamanya mengobrol dengan seseorang yang sedang ia cari.
"Mama perhatiin kamu banyak berubah, Mama jadi penasaran sama gadis yang bisa bikin kamu banyak berubah seperti ini," kata Delia sambil memotong buncis, dia ingin memasak udang asam manis.
"Nanti jika sudah waktunya, Awan bawa kesini, Awan kenalin ke Mama sama Ayah," kata Awan yang duduk di meja makan, memperhatikan yang mamanya lakukan. "Awan yakin Mama pasti suka sama dia, bukan cuma cantik, tapi dia lemah lembut kayak Mama," sambung Awan, membuat laki-laki yang masih berdiri ditangga itu mengepalkan tangannya kuat menahan sesak didadanya mendengar Awan memuji wanita yang ia suka.
"Kamu cerita kayak gitu, Mama jadi makin penasaran," ucap Delia, "terus, gimana Reini? Kamu udah move on dari dia?" Delia berkata sambil terus dengan aktivitas memasaknya, ditemani sang art.
Awan diam, dia memalingkan wajahnya dari sang Mama mencari jawaban yang tepat, tanpa sengaja ia melihat sosok tinggi tegap yang sedang menguping ditangga.
Delia yang melihat anaknya diam, mengartikan lain, ia menilai jika jawaban Awan tak ingin didengar orang lain, meminta art-nya membuang sampah. Ia ingin anak-anaknya dekat dan terbuka padanya, karena tahu suaminya pasti sibuk dan susah untuk menjalin kedekatan dengan anak-anaknya. Setelah art keluar, barulah Awan menjawab.
"Reini kan nggak cinta sama Awan yang pemalas dan pengangguran, mungkin jodoh Reini laki-laki lain yang sesuai kriteria Reini, Ma. Seperti pilot." Awan sedikit melirikkan matanya kebelakang. Yang dilirik keluar dari persembunyianya.
"Kamu ngomong begitu, berarti kamu udah nyerah buat mencintai, Reini?" kata Angkasa langsung, dan duduk didepan Awan membelakangi sang Mama.
"Ih, anak Mama pagi-pagi udah pada ngumpul didapur. Mau Mama buatin minum apa?"
"Nggak usah, Ma. Nanti Awan mau mampir ke suatu tempat," tolak Awan menjawab.
"Angkasa, mau minum apa?" tawar Delia seperti seorang waiters menawari pelangganya.
__ADS_1
"Susu hangat aja, Ma," jawab Angkasa tanpa melihat ke mamanya, Delia mengangguk, "iya, kamu nyerah mengejar cinta Reini?" tanya Angkasa lagi pada Awan, karena Awan belum menjawab pertanyaanya. "Jangan mudah menyerah, kalau kamu memang mencintainya, apa kamu nggak sadar kalau semalam dia kelihatan cemburu?" Angkasa coba mengingatkan Awan, kalau Awan begitu bucin pada Reini.
"Oh ya, kayaknya bukan aku deh yang nyerah, karena Reini sudah jelas-jelas nggak suka aku, tapi ada tuh orang yang jelas suka tapi pura-pura cuek, kalau ceweknya diembat orang baru tahu tuh," ucap Awan, membuat saudara kembarnya tersindir.
"Kalo aku, aku maunya Reini mendapat lelaki yang seperti dia mau. Itu bentuk pengorbanan cinta aku buat Reini."
"Memang kamu sudah mengenal betul calon istri kamu seperti apa? Sebaiknya kamu kenali seperti apa wanita yang mau kamu jadikan istri, apa dia lebih baik dari Reini apa tidak? Sudah punya calon atau belum."
Delia yang mendengarkan perdebatan keduanya sampai mengernyit, Angakasa seperti tahu wanita yang akan dijadikan calon istri Awan.
Awan tersenyum, lalu bangkit dari duduknya. "Tenang saja, brother. Aku yakin sekali, wanita yang aku pilih ini, dia jauh lebih baik dari Reini, dia sederhana dan lembut." Awan menepuk pundak Angkasa, "aku akan menikahinya dalam waktu dekat, akan ku kenalkan dia padamu nanti," kata Awan lagi membuat dada Angkasa seperti gas tiga kilo.
* * *
Pagi sekali Reini sudah datang dirumah keluarga Abian, meski semalam dia sempat kesal pada Awan karena Awan tak mengantarnya pulang, dia coba menepis rasa itu, dia takut Awan semakin jauh darinya.
Reini menyapa seluruh anggota rumah, termasuk Angkasa, biasanya dia akan bersemangat mengajak Angakasa ngobrol, tapi kali ini dia benar-benar ingin bertemu Awan, Reini sampai rela menunggu Awan turun dari kamarnya, sudah lebih dari lika belas menit Reini duduk di sofa ruang tamu. Reini yang sedang memainkan ponsel sontak mendongak saat mendengar suara deras langkah menuruni anak tangga.
"Wan, kamu kamu pergi?" tanyanya dengan suara lemah.
"Hai Rein. Kamu udah datang? Iya nih, mau kerumah calon istri," jawab Awan, membuat wajah Reini berubah sedih. "Kamu mau ketemu Angkasa?" tanyanya sambil membetulkan jam ditangannya, tak perduli dengan perubahan wajah Reini.
"Oh, tadinya aku mau ajak kamu jalan, aku lagi bete," lirih Reini, biasanya mendengar Reini bete saja, Awan langsung menyanggupi permintaan Reini, meski dia sedang malas atau sakit sekalipun.
"Lain kali aja ya, Rein. Aku pergi dulu, takut telat." Awan hanya menepuk pundak Reini lalu berlalu meninggalkan Reini yang berdiri diam membatu, dia tak menyangka, dulu Awan yang begitu perhatian padanya, kini jauh berubah seratus delapan puluh derajat.
Reini mulai kehilangan sosok Awan, dia jadi penasaran dengan wanita yang bisa membuat Awan berubah.
__ADS_1
Delia yang melihat itu, menghampiri Reini. "Reini perginya sama tante aja, gimana? Sama Aira juga, kebetulan Aira hari ini libur."
"Maksih tante, Reini pulang aja," ujar Reini, dia terlihat menunduk. Lebih baik dia pulang, menumpahkan air yang sudah akan tumpah dikasur kesayangannya, dari pada nanti dia harus memendam perasaan kecewa.
* * *
Angkasa dan Abian menghadiri sidang perdana setelah penangkapan Alex dan papanya. Mereka sudah menemukan bukti jika Angkasa benar dijebak. Dan wanita yang menjebak Angkasa pun ikut didatangkan, dan masih berstatus sebagai saksi, wanita itu ialah Siska, seoarang pramugari di Airlangga Airlines.
Arum juga turut dihadirkan, sebab dia kunci utama dalam kasus penipuan yang dilakukan Axel, papa Alex.
Selama persidangan berlangsung, Angakasa dan Arum sempat sama-sama saling lirik, namun Angkasa segera memalingkan muka saat Arum menatapnya, seolah tak melihat Arum, padahal darahnya berdesir hebat saat netra coklat sendu dan indah itu menatapnya. Rasa rindu karena beberapa hari tak bertemu membuat dada Angkasa berdebar dan berlarian tak karuan, sampai-sampai Angkasa tak fokus pada apa yang sedang disampaikan oleh pengacara papanya.
Padahal saat ini Arum sedang membeberkan semua bukti yang ia punya tentang video yang Arum ambil diam-diam saat ia tengah diperintahkan manjadi awak kabin pesawat cargo yang dibawa Alex. Papa Alex sampai menatap tajam Alex, bisa-bisanya Alex kecolongan ada pramugari yang merekam kejadian itu.
Berkali-kali Angkasa membuang nafas melalui mulut saking gugupnya, dia juga melepaskan kancing bagian teratas kemeja yang ia pakai, Angakasa tiba-tiba terasa gerah, membuatnya makin mempesona, dan membuat kaum hawa yang ada dipersidangan jadi salah fokus pada pesona Angakasa, Angkasa juga yakin, jika Arum akan terpesona padanya karena menatap dadanya yang tegap dan bersih.
Tapi kemudian dia memasang wajah dingin dan cuek ketika Arum kembali menatap kearahnya, Angkasa teringat saat akan memasuki ruang sidang tadi, Angkasa sempat bertemu suster Andini.
Kedatangan suster Andini tak lain karena permintaan Arum, untuk memberikan obat kepada Alex, dan itu sudah diizinkan oleh pihak berwajib dan bertanggung jawab. Hal itu semakin membuat Angkasa semakin jengah atas perhatian Arum pada Alex yang ia nilai sangat berlebihan, meski sudah tahu sifat Alex yang sebenarnya.
Perhatian Angkasa teralih pada Siska yang saat ini memberikan kesaksianya.
"Maaf yang mulia, saya melakukan semua itu atas perintah atasan, jika tidak atas perintah atasan saya, yaitu Captain Alex. Mana mungkin saya melakukan itu pada Captain Angkasa, kami juga tidak saling mengenal," kata Siska saat ditanyai Pak Hakim.
Kemudian Siska memasang wajah menyedihkanya. "Saya ini tulang punggung keluarga, yang Mulia. Jadi saya mau melakukan itu karena terdesak, kalau tidak, saya akan dipecat. Sama halnya dengan saksi Arum, kan. Dia juga tidak ditahan atas yang dia lihat, seharusnya dia bisa melaporkan hal ini dengan pihak direktur utama, jika dia mau," kata Siska sambil menatap Arum dengan seringai licik diwajahnya.
Meski saat ini Alex dan papanya ditahan, tapi Angkasa kecewa sebab Siska tak ikut ditahan dan hanya menjadi saksi karena alasannya yang cukup kuat, yaitu menjalankan perintah atasan.
__ADS_1
Saat keluar dari ruang persidangan, Angkasa mendengar Arum memanggilnya, tapi Angkasa pura-pura tak mendengar, dia ingin melihat sejauh mana Arum mengejarnya, tapi sesaat kemudian tak lagi terdengar suara Arum.
Angkasa membalikkan badan. "Iya Ar-" Angkasa harus menggantungkan ucapanya, melihat Arum memeluk Alex.