
"Pa, Papa bangun, Pa. Jangan tinggalin Reini, Pa. Reini masih butuh Papa." Suara jerit tangis Reini saat tiba dirumah. Rasa tak percaya mendapati papanya sekarang sekarang telah tiada. "Kenapa Papa tinggalin Reini secepat ini?" Isaknya terdengar pilu, memeluk tubuh yang sudah terasa dingin.
Tiada kabar yang menakutkan selain kabar kehilangan.
Tiada kabar menyakitkan selain kabar kehilangan.
Hal yang paling ditakutkan makhluk hidup dimuka bumi, adalah kematiannya, dan kehilangan orang terkasih. Tak bisa ditolak kedatangannya, tak ada yang tahu kapan saat itu tiba. Suka tidak suka, mau tidak mau, semua pasti akan menghadapinya, cepat atau lambat.
Tak ada yang dapat Reini ungkapkan saat ini, dia hanya dapat menatap papan putih yang tertancap bertuliskan nama papanya disana, dengan air mata yang tak berhenti mengalir.
Matanya sudah sembab, hatinya terasa kebas karena tak ada yang dapat Reini rasakan saat ini, kosong dan hampa. Cuaca mendung disore hari ini, angin sepoi-sepoi menghantarkan kepergian Rendy keperistirahatan terakhirnya.
Seorang pemuka agama tengah membacakan doa untuk Rendy. Kemudian setelah selesai, satu persatu para pelayat meninggalkan pemakaman setelah berpamitan pada Voni, menyisakan Voni, Delia, Awan, Reini, Abian, Angkasa dan Arum.
Voni tadi sempat pingsan beberapa kali saat mengetahui suaminya meninggalkanya untuk selamanya, kini dia terlihat lebih tegar. Ditemani Delia sang sahabat yang merupakan besanya juga. Delia selalu berada disisi sang sahabat, merangkul bahu Voni menguatkan.
Begitu juga Awan yang setia menemani istrinya. "Papa sudah bahagia disana, Rein. Kamu harus kuat."
Reini menoleh pada suaminya yang juga tak lepas merangkul pundaknya. Laki-laki itu sejak tadi setia mendampinginya. Awan jugalah yang menjemput Reini ke bandara setelah mendapat kabar dari mamanya. Sengaja Delia menghubungi Awan terlebih dahulu, meminta Awan menjemput Reini. Jika Delia menghubungi Reini lebih dulu, ditakutkan tak ada yang menenangkan Reini saat dijalan ketika mendapat kabar duka ini.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Reini masih berharap jika orang tuanya hanya mengepranknya saja agar dia dan Awan cepat bersatu. Tapi nyatanya tidak.
"Papa ninggalin aku sama Mama untuk selamanya," menyandarkan kepalanya di pundak sang suami. "Aku nggak punya siapa-siapa lagi yang akan jaga aku sama Mama."
"Stttt, kamu ngomong apa? Masih ada aku disamping kamu." Reini terguguh, apa benar Awan akan selalu disampingnya setelah ia memberi banyak kekecewaan untuk Awan?
Kematian papanya merupakan pukulan berat untuk Reini. Entah Awan berkata demikian hanya bentuk penghiburan, atau hanya kasihan?
"Sayang, kita pulang yuk. Hari mulai gelap." Ajak Voni berjongkok. Memeluk Reini dari samping.
"Papa kira-kira maafin Reini nggak ya, Ma? Reini selalu bikin papa marah." Menyandarkan kepala dipundak sang mama.
"Papa pasti maafin kamu, sayang." Mengusap rambut anaknya, "semarah apapun papa, dia cuma mau kamu berubah dan menjadi lebih baik lagi."
"Tapi Reini belum memberikan apa yang papa mau. Reini belum bisa membahagiakan papa."
"Tapi papa nggak pernah
Ingin rasanya Awan menarik kepala Reini kadalam pelukanya. Dia tahu, penyesalan apa yang dirasakan Reini saat ini, semua karena mereka belum memberikan cucu untuk orang tuanya, kini papa Rendy telah pergi lebih dulu, tanpa tahu kelanjutan rumah tangga mereka. Awan tidak menyalahkan Reini sepenuhnya, karena sebagai kepala keluarga, dia ikut andil dalam masalah ini, karena kurang ketegasanya.
Awan membawa wajah Reini untuk menghadapnya, menangkup dengan kedua tangannya. "Rein, lihat aku," ujarnya, "kita pulang dulu ya. Sudah mau malam, papa Rendy pasti sedih melihat kamu seperti ini. Kita harus mengirimkan doa untuk papa Rendy, doa kamu yang paling ditunggu papa Rendy, karena kamu putri satu-satunya."
Benar juga apa yang dikatakan suaminya, akhirnya Reini mengangguk patuh, ia mau pulang menuruti perintah Awan.
Sampai dirumah, warga sekitar rumah orangtua Reini sudah berkumpul untuk mengirimkan doa bersama. Karena keadaan Reini yang lemas, Awan membawa Reini ke kamarnya.
Saat mereka akan masuk, Reini tiba-tiba menghentikan langkahnya. "Kamu mau ikut masuk?"
"Lah, nggak papa kan? Aku masih suami kamu loh, Rein."
Sudah lama tidak bertemu dan berinteraksi membuat Reini canggung.
__ADS_1
"Eumm, iya sih, tap-"
Awan jadi menghela nafas. "Oke, aku tunggu dibawah," akhirnya dia mengalah, "jangan lama-lama." Pesanya sebelum turun, Reini mengangguk.
Setelah malam dan acara tahlilan selesai, Reini masuk ke kamar lebih dulu. Awan ingin menyusul, tapi malu karena masih ada kerabat dari mama dan ayahnya disana sedang berbincang dengan mama mertuanya, jadi Awan ikut bergabung lebih dulu.
"Kamu istirahat saja, Wan. Kamu pasti kelelahan," ucap Voni. "Reini sudah ke kamar?" Melihat dibelakang Awan tapi tak menemukan Reini.
"Iya, Ma."
"Reini sudah makan belum, Wan. Coba kamu tanya deh."
Astaga, kenapa tidak perhatian sampai kesana, untung mamanya mengingatkan. "Awan coba tanya, Ma. Awan tinggal dulu." Delia mengangguk.
Akhirnya Awan memiliki alasan untuk menyusul Reini ke kamar tanpa rasa malu.
Sampai dikamar, Awan menemukan Reini sedang duduk ditepi ranjang sambil menatap foto papanya dengan berinang air mata. Awan ikut duduk disamping Reini.
"Kamu sudah makan?" Reini hanya menjawab dengan gelengan kepala tanpa menatapnya.
"Yasudah, tunggu disini. Aku ambilkan makan ya?" Reini tak menjawab, fokusnya hanya pada foto sang papa.
Meski begitu Awan turun kebawah untuk mengambil makan, Awan minta diambilkan oleh pegawai disana. Kemudian kembali ke kamar dengan membawa nampan berisi sepiring nasi beserta lauknya, dan segelas air putih.
"Aku suapin ya, Rein?" Reini menggeleng. "Makan dulu, papa Rendy nggak suka lihat kamu sedih begini."
Reini malah menjawab seperti anak kecil dan menatap suaminya. "Memang kalau aku makan, papa senang?" ucapnya polos.
"Tapi aku nggak nafsu."
"Dipaksakan sedikit. Nanti kamu sakit, dan papa disana bertambah sedih. Aku suapin ya, sedikit saja nggak papa."
"Janji sedikit."
"Hem."
Dan berhasil hanya tiga suap, Awan tidak memaksa lagi, sebab Reini juga terlihat sudah mengantuk. Setidaknya sudah ada makanan yang masuk keperut Reini.
Tidak butuh lama, nafas Reini sudah terdengar teratur, dengan memeluk foto sang papa diperutnya. Perlahan Awan mengambil foto itu dengan begitu hati-hati.
Awan menatap foto sang mertu, dan itu mengingatkanya pada pertemuanya dengan papa Rendy dua hari lalu. Ya, Rendy tiba-tiba saja mengajaknya bertemu. Tidak banyak yang mereka bahas, karena memang saat itu kesehatan Rendy sedang tidak baik-baik saja, tapi hanya sakit biasa.
"Papa titip Reini ya Wan. Meski kalian nanti tidak berjodoh lagi, jagain Reini."
Hanya itu pesan papa Rendy. Tapi Awan baru menyadari jika pesan papa Rendy merupakan pesan terakhir untuknya.
Tapi satu pengakuan yang membuat Rendy cukup terkejut, papa Rendy mengakui jika dia sempat menampar Reini karena kesal. Jadi ... lebam waktu itu yang ia lihat, bekas jejak tangan papa Rendy?
Awan menarik nafas dalam. "Papa yang tenang disana, Awan akan menjaga Reini sampai kapanpun." Kemudian Awan menatap Reini, dan mengecup kening Reini lama.
* * *
__ADS_1
Seminggu sudah setelah kepergian papa Rendy. Acara tahlilan tujuh haripun telah usai. Banyak perubahan dari Reini, bukan perubahan perihal kedekatanya dengan Awan, tapi Reini jadi lebih banyak diam dan menyendiri. Kepergian papa Rendy yang mendadak, membuat Reini merasakan banyak penyesalan, tapi tak ada perubahan untuk sifatnya.
Awan memang pulang kesana setelah kepergian papa Rendy, mereka satu kamar, tapi tak seranjang. Lebih tepatnya Awan tidur di sofa.
Daniel yang melihat itu jadi kesal sendiri, tak ada effort lebih dari Awan, Awan terkesan mengikuti alur Reini. Reini diam, dia ikut diam, Reini maunya begini, dia ikut begini. Reini begitu, ikut begitu.
"Astaga, apa hal ini aku juga yang harus turun tangan," ujarnya menghela nafas.
"Sayang, kalau sudah lewat tujuh hari. Sudah lewat lah ya untuk berduka," tanyanya pada sang istri yang duduk disampingnya. Denisa sedang merapikan perlengkapan mereka, bersiap pulang.
"Tergantung, kenapa emang?" Denisa menoleh kearah suaminya.
"Aku mau minta tolong sama kamu."
"Apa? Jangan yang aneh-aneh deh." Denisa hapal betul sifat suaminya, takut suaminya akan bertindak nyeleneh.
"Duh, ini demi masa depan bersama. Kamu harus mendukung suami kamu."
"Dukungan yang seperti apa dulu, nih?"
Daniel menaikkan turunkan alisnya, mengarahkan mata pada Awan dan Reini.
"Kamu mau ngapain, Mas? Jangan ikut campur urusan rumah tangga orang lain." Denisa memelankan suaranya, jangan sampai didengar orang lain.
"Bagaimana tidak? Kan yang membantu mereka bersatu, aku Sayang."
"Nanti dirumah aku kasih tahu." Daniel menyilangkan tangan didada, menatap Awan yang sekarang sedang memberi minum Reini.
Kemudian dia bangkit. "Kamu tunggu disini sebentar."
"Kamu mau kemana? Jangan macem-macem deh." Denisa takut suaminya bertindak yang akan membuat masalah.
"Tenang." Denisa jadi was-was, tapi suaminya malah santai, dan itu membuatnya sangat kesal.
Daniel menghampiri Awan dan Reini. "Bisa bicara sebentar, cuma empat mata." Menatap Reini, "sama kamu, Rein."
"Ada apa?" Awan khawatir.
"Nggak ada apa-apa, Om hanya ada pesan sepatah dua patah."
"Om." Awan coba tak memberi izin.
"Tenang, bukan yang apa-apa, curiga saja bawaanya." Daniel tahu, Awan takut jika Daniel akan menceramahi istrinya. "Om bukan pak ustadz, yang akan kasih dakwah di tujuh harian."
"Jangan buat Reini nggak nyaman," ujar Awan.
"Kalo Reini nyaman, bahaya donk." Kekeh Daniel menggoda.
Akhirnya Daniel dan Reini bicara berdua saja ditaman belakang. Awan mengawasi dari pintu penghubung taman belakang, Daniel dan Reini nampak terlibat pembicaraan yang serius, membuat Awan begitu ingin tahu apa yang dibicarakan keduanya. Tapi Reini terlihat manggut-manggut patuh.
"Apa sih yang dibahas?"
__ADS_1