
Awan terus menatap jam dipergelangan tanganya saat pak Budi Karya Sumadi bicara dengan Abian, ia terlihat gelisah. Dan Abian menyadari itu.
Meeting mereka sebenarnya sudah selesai lima belas menit yang lalu, tapi kedua bapak-bapak ini nampaknya tidak begitu sibuk, hingga mereka mengobrol sejenak membahas diluar pekerjaan, ingin menyela, Awan sungkan.
"Jadi Awan ini kembar, dan yang satu lagi jadi pilot?" tanpa Pak Budi pada Abian. Mereka terlihat begitu akrab, tidak kaku, seperti teman lama tidak berjumpa.
"Iya, mereka memilih jalan sendiri-sendiri."
"Salut dengan cara keluarga Philips Hamzah dalam mendidik anak," puji pak Budi. "Tapi kembaranya tidak merasa iri? Maksud ku biasanya saudara suka ... ya begitulah. Rebutan jabatan."
Abian terkekeh menepuk lutut Awan. "Malah mereka awalnya semua mau jadi pilot, dan tidak ada yang mau menggantikan posisi ku. Tapi karena suatu hal, Awan sekarang menjadi direktur di Airlangga Airlines."
Pak Budi mengangguk. "Selama Papa kamu yang memegang Airlangga Airlines, Airlangga Airlines tidak ada masalah berarti, baik dari awak kabin, maupun masalah tekhnisi. Ya hanya kemarin sedikit masalah oleh pak Axel dan penjebakan itu," ujarnya menatap Awan. "Menjaga kestabilan perusahaan, memang yang utama, pelayanan, tekhnisi, baru price. Aku harap tidak banyak perubahan peraturan nantinya, performa Airlangga Airlines di dunia penerbangan sudah sangat bagus. Semoga setelah Airlangga Airlines berada ditangan Nak Awan, performa Airlangga Airlines lebih dari sekarang. Sebab, selalu ada kemajuan dari Airlangga Airlines, setiap pergantian direktur." Pesan Pak Menteri.
"Iya, Pak, terima kasih. Semoga saya bisa seperti Kakek, dan Ayah, bisa membuat nama Airlangga Airlines semakin lebih baik lagi."
__ADS_1
Paham jika Awan seperti gelisah, Abian mengakhiri pertemuan dengan pak Budi.
"Terima kasih atas kunjunganya ke Airlangga Airlines, Pak. Nanti kita lanjut obrolan kita di lain waktu."
Abian mengantar Pak menteri sampai ke lobby utama kantor Airlangga Airlines. Tak lama Awan menyusul.
"Pa, Awan pulang dulu. Reini sedang sakit." Izinya pada Abian.
"Iya, hati-hati. Semoga sakitnya Reini membawa kabar baik."
Abian melihat mobil Awan yang menjauh, tak lama ia mendapat kabar jika ada seoarang pilot dan pramugari yang dipecat Awan. Meski rak begitu mengenal para awak kabin yang bekerja diperusahaanya, Abian cukup tahu jika nama Angga dan Viona tak memiliki masalah, tapi mengapa keduanya dipecat Awan begitu saja?
Abian naik ke lift, menuju ruanganya. Dia memanggil kepala hrd.
"Ibu tahu kenapa Captain Angga dan FA kita bernama Viona dipecat?" tanya Abian pada wanita bertubuh gempa, berkaca mata tebal itu.
__ADS_1
"Iya, Pak. Pak Awan yang meminta saya membuat surat pemecatanya," jawabnya. "Tapi untuk alasannya, saya kurang tahu."
Tidak mungkin Awan memecat orang begitu saja jika tidak ada masalah yang berarti. Pasti ada yang Awan sembunyikan.
"Dimana kedua orang itu sekarang?" tanya Abian.
"Untuk itu saya kurang tahu, Pak. Saya hanya diminta membuatkan surat pemecatan dengan alasan jika Captain Angga dan Viona melanggar peraturan pekerjaan."
Abian mengangguk. "Yasudah, terima kasih atas informasinya. Kamu boleh kembali keruangan mu."
Tidak berhenti disitu, Abian kembali mencari tahu jadwal terakhir Angga dan Viona yang ternyata memiliki jadwal bersamaan dengan Reini. Dan dari situ ia mendapat informasi dari juru bicara Awan jika terjadi keributan semalam antara Reini, Angga, dan Viona.
"Pak Awan sudah menutup kasus ini agar tak ada siapapun yang tahu, Pak. Beliau menjaga nama baik istrinya, dan tak ingin nona Reini malu." Jelas juru bicara Awan, sebab semua terjadi atas kesalahan Reini membuat sakit hati rekan kerjanya.
Jika sudah seperti ini, Abian paham. Awan benar-benar menjadi suami yang bertanggung jawab, tapi ia tak bisa tak menceritakan ini pada Delia.
__ADS_1
Delia hanya diam, ia teringat kejadian ini sama yang dialaminya dulu. Tapi Delia tak ingin membahasnya, sebab laki-laki itu telah menjadi adik iparnya.